Dengan hati berdebar aku menanti reaksi dari perempuan yang terkena kaleng bekas minuman yang kutendang tadi. Aku mencoba mempersiapkan diri dengan semua caci maki atu apapun namanya yang akan dia lontarkan kepadaku.
"Loe ... jadi orang liat-liat dong jangan buang sampah sembarangan!" teriak perempuan itu sambil membalikkan badannya ke arahku.
"Ya Tuhan Ria," teriakku girang sambil berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan begitu erat, "Aku mencarimu dari tadi."
"Mencariku? Dari tadi aku berdiri di sini sambil mendengus kesal dengan sikapmu," kata Ria sambil menunjukkan tampang wajah tak berdosanya serta sedikit kebingungan.
Bukan hanya Ria yang bingung, tapi aku juga. Aku sungguh tak mengerti dan tak paham bagaimana Ria bisa berkata seperti itu sedang dari tadi aku mencarinya ke sana-ke mari tapi aku tak menemukannya. Dia seolah hilang di telan bumi dan tak tahu di mana rimbanya.
Tapi sekarang, dengan mudah dan tampang orang tak berdosa dia bilang tak ke mana-mana. Lalu bagaimana bisa aku tak melihatnya padahal sudah berjalan ke sana-ke mari mengitari pelabuhan?
"Gak lucu tau gak Ri," kataku sedikit kesal dan menganggap apa yang dikatakannya adalah sebuah lelucon yang tidak bermutu dan tak lucu.
"Lho emang siapa yang lagi ngelawak? Aku serius, di sini," kata Ria sambil keukeuh dengan apa yang dikatakannya.
"Gak ke mana-mana apanya? Aku mencarimu ke sana-ke mari seperti orang gila kamu gak ada di mana-mana," kataku sambil menatap iris Coklat milik Ria.
"Sumpah deh Di, dari tadi aku di sini," kata Ria masih bersikeras dengan apa yang dia katakan.
Aku ingin mendebat Ria lagi, tapi itu tak akan ada gunanya, yang ada hanya akan membuat kami terlihat bodoh di sekitar orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Dan lagi, pada akhirnya kami akan bersiteguh dengan pendapat kami masing-masing.
"Aku lapar, kita makan saja dulu," kataku setelah menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Ya udah ayo makan, dari tadi kamu itu bilang lapar tapi gak pergi ke rumah makan malah diam di sini," jawab Ria sambil melanglahkan kakinya.
Lagi, aku dibuat bengong dan kebingungan demgan apa yang dikatakan oleh Ria. Bagaimana dia menganggap aku hanya diam sedang dari tadi sudah kubilang jika aku mencari dia ke sana-ke mari. Ada apa dengan Ria hingga dia memiliki merasa bahwa aku hanya berdiam diri saja di sini.
"Aku ...," baru saja aku membuka mulutku untuk menjelaslan semuanya pada Ria, tapi aku mengurungkan niatku untuk mengatakan semuanya.
"Aku apa?" tanya Ria yang sudah berjalan beberapa langkah di hadapanku.
"Aku lapar, ayo makan," kataku sambil menyunggingkan seulas senyum ke arah Ria.
Dengan otak yang masih memikirkan berbagai hal, kupaksakan kakiku melangkah sambil mengamit lengan Ria. Aku tak ingin lagi hal seperti tadi terulang lagi dan membuatku bagai orang gila mencarinya ke sana-ke mari sedang yang di cari masih tetap berdiri di tempat di mana pertama kali aku meninggalkannya.
Kami berjalan menuju warung makan yang tadi aku kunjungi. Senyuman Ibu pemilik warung menyapa kami dengan begitu ramah dan langsung menanyakan menu yang akan kami pesan.
"Saya pesan seperti yang saya minta tadi ya Bu," kataku sambil duduk di salah satu kursi yang ada di warung itu.
"Yang Nduk pesan tadi? Tapi maaf, Ibu tidak pernah mihatmu ke sini sebelumnya, Nduk?" kata Ibu penjaga warung.
"Tapi tadi saya ...," kataku dengan mata yang tak bekedip karena kaget dengan apa yang di katakan oleh Ibu itu.
"Saya nasi goreng seafood-nya satu ya Bu," kata Ria memotong kata-kataku.
"Saya nasi uduk komplit satu Bu," kataku sambil menundukkan kepala dan mencoba mengingat semua yang sudah terjadi tadi.
Aku sangat yakin jika tadi aku ke warung ini dan memesan nasi uduk komplit sebelum aku menyadari jika Ria tak ada di tempatnya berdiri saat aku meninggalkannya. Tapi kemudian ibu itu bilang jika aku datang sendiri, dan dia juga mengatakan jika ada seseorang yang menghilang di dermaga ini dan ditemukan telah tak bernyawa.
Tapi sekarang, bahkan ibu itu tak mengenaliku dan mengaku jika aku tak pernah datang ke sini sebelumnya. Lalu apa yang aku alami tadi jika ibu itu tak melihatku.
Tidak, bukan hanya ibu itu, tapi Ria juga. Dia mengaku masih berdiri di tempat yang sama dan hanya melihatku berjalan menjauh. Sedang aku samgat yakin jika tadi dia tak ada di sana.
Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa semuanya seperti hanya aku saja yang mengalaminya?
"Ini pesanannya Nduk," kata Ibu penjaga warung sambil mengantarkan pesananku dan Ria. Hal itu terang saja menyadarkanku dari semua lamunan yang menguasai otakku.
"Terima kasih Bu," kata Ria sambil tersenyum, "Ayo Di makan."
"Ya Ri," kataku sambil mengambil pesananku dari sisi meja dan membetulkan letaknya di hadapanku.
"Waktu yang hilang ...," terdengar suara seseorang tepat sesaat sebelum aku menyuapkan nasi uduk ke dalam mulutku. Suara itu seolah menjawab pertanyaan yang tadi terlontar dari sanubariku yang paling dalam.
"Waktu yang hilang ...," gumamku mengulang kata-kata dari orang yang bahkan aku tak dapat melihatnya sama sekali.
"Eh ... kamu bilang apa Di?" tanya Ria yang sepertinya mendengar apa yang aku katakan barusan.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa," jawabku sambil melanjutkan makanku.
Aku bisa mengatakan tak mengatakan apa-apa pada Ria, tapi pikiran dan hatiku masih terus mengulang kata-kata itu. Aku masih penasaran dengan apa yang dimaksud suara itu dengan waktu yang hilang. Aku tak merasa kehilangan waktu sama sekali dan semua berjalan normal, hanya kenapa Ria dan Ibu penjaga warung itu tak menyadarinya?
"Di ... Diona ...," terdengar suara Ria dengan nada yang sedikit ditekan dan lebih leras dari biasanya, sepertinya dia sedang kesal, tapi kesal karena apa?
"Eh ... apa Ri?" tanyaku sambil menatap iris Coklatnya yang sudah menunjukka kekesalan yang ada di dalam hatinya.
Huft ... kulihat dia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Sepertinya dia memang sedang kesal dan kini sedang berusaha menguasai kekesalan yang meliputi hatinya.
"Kamu tu ngelamunin apa sih Di, dari tadi di panggil malah bengong saja?" tanya Ria.
Ria mengajakku berbicara? Kapan? Bukankah dari tadi dia hanya diam dan menikmati nasi gorengnya? Apa aku memang melamun? Tapi dari tadi aku tak melamun sama sekali dan menikmati makananku.
"Gak ngelamun, aku hanya lagi menikmati makananku saja," jawabku sambil kembali mengambil sesendok nasi uduk dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Menikmati apanya, orang kamu cuma makan sesuap dari tadi dan barusan adalah suapa kedua," kata Ria sambil menyuap nasi gorengnya.
Sesuap? Kata itu mampu mengalihkan mataku dari mata Coklat Ria ke atas piring yang ada di hadapanku. Dan benar saja, nasi udukku masih terlihat penuh dan hanya sedikit tersentuh.
"Waktu yang hilang ...," lagi, suara itu mengatakan hal yang sama yang aku sendiri tak mengerti.
Waktu yang hilang, apa maksud semua ini?