Menghilang

1003 Kata
"Gila kamu Ri, masa nyusul Hendra sih?" kataku tak percaya dengan ide gila Ria yang baru saja dia katakan. "Serius Di, daripada kamu murung udah model ayam stres saja, lebih baik nyusul Hendra," kata Ria dengan santainya sambil mengurai sedikit tawa dari bibirnya. "Ayam stres kamu bilang?" tanyaku dengan mata yang sedikit melotot ke arah Ria. Ria tak menjawab pertanyaanku, dia hanya nyengir kuda hingga menunjukkan barisan giginya yang putih hingga membuatku akhirnya mengerlingkan mata dan ikut tertawa bersamanya. Mungkin benar aku mendadak murung hanya karena Hendra tugas di pulau itu. Ada rasa ingin ikut ke pulau itu, tapi tetap saja dia ke sana bukan untuk liburan melainkan untuk kerja. "Bagaimana Di?" tanya Ria lagi sambil kenatap manik coklatku. "Sudahlah kita tak usah mengganti rencana kita," kataku sambil kembali berjalan menuju sebuah warung yang hanya tinggal beberapa meter saja dariku. Aku tak ingin memikirkan apa yang dikatakan oleh Ria. Lebih baik aku menganggap kata-katanya hanya sebuah angin lalu saja. Itu hanya sebuah kata-kata yang tidak penting dan cara Ria untuk lebih mendekatkan diri padaku lagi. Usaha dia agar kami kembali bersahabat seperti dulu saat permasalahan di antara kami belum terjadi. Aku terus melangkahkan kakiku tanpa menghiraukan apakah Ria mengikutiku berjalan atau masih berdiri di tempatnya berdiri tadi. "Nasi uduknya satu ya Bu," kataku pada ibu pemilik warung saat aku telah berada di warung yang tadi aku tuju. "Komplit apa ndak, Nduk?" tanya ibu itu dengan logat Jawa yang begitu kental. "Komplit saja Bu," jawab, "Kamu mau pesan apa Ri?" Tak ada jawaban dari Ria hingga membuatku menolehkab kepalaku dan tak mendapati Ria di belakangku, bahkan dia pun tak ada di tempatnya berdiri tadi. Kemana anak itu, kalau tidak mengikutiku lalu kenapa dia tak ada di tempatnya berdiri tadi? "Maaf Bu, tidak jadi," kataku meminta maaf, "Saya harus mencari teman saya dulu takut hilang." "Ya wis, cari dulu temannya Nduk, sebelum menghilang terlalu lama dan di temukan tewas seperti kejadian beberapa hari lalu," kata ibu pemilik warung yang sontak saja membuatku kaget dan khawatir dengan keadaan Ria. Tanpa banyak kata aku langsung berjalan ke tempat di mana terakhir kali kami berbincang-bincang. Kuedarkan pandanganku ke segala arah hanya untuk mencari sosok perempuan yang pernah berseteru denganku. Tapi sayang, semuanya nihil. Aku tak menemukan Ria, dia seolah hilang di telan bumi. Aku mulai melangkahkan kakiku dan mengeluarkan ponselku untuk menunjukkan photo Ria pada orang-orang yang berpapasan denganku. Ya, hanya ini caraku untuk mencari keberadaan Ria dan berharap dapat menemukannya. Lagi, usahaku kembali gagal dan terpaksa harus memutar otakku dengan keras untuk mencari tahu keberadaan Ria. Dia benar-benar telah menghilang dan tak tahu rimbanya di mana. Kamu di mana Ri? Aku harus mencari kamu ke mana? Kembali aku mengedarkan pandanganku hingga mataku terhenti pada tubub seorang perempuan berambut panjang yang di kuncir kuda dan mengenakan t-shirt serta celana jeans berwarna biru dan tas ransel yang berukuran sedang. Gegas aku melangkahkan kakiku ke arah wanita yang tengah berbincang-bincang dengan seorang pria setengah baya. "Ria ...," kataku sambil menepuk pundak wanita itu. "Siapa ya?" tanyanya sambil membalikka  badannya dan baru kusadari jika dia bukan Ria. "Maaf Mbak, saya kira teman saya," kataku meminta maaf dan kembalu aku harus menelan pil pahit. "Temannya hilang Mbak?" tanya pria separuh baya yang sedang berbincang-bincang dengan perempuan tadi. "Ya Pak, saya sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak kunjung menemukannya," kataku sambil menghapus peluh yang membasahi dahiku. "Tujuanmu ke mana Nak?" tanya bapak itu lagi. "Pulau Z, Pak," jawabku. Tak ada jawaban dari bapak separug baya itu, dia hanya mengernyitkan keningnya menunjukkan jika dia sendiri merasa heran dengan apa yang menimpa Ria. Sepertinya dia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. "Bagaimana mungkin dia bisa hilang sedang tujuannya Pulau Z bukan Pulau Y?" gumam bapak setengah baya yang ada di hadapanku yang membuatnya semakin mengernyitkan dahinya. Mendengar Pulau Y disebut oleh bapak setengah baya itu, terang saja membuatku semakin khawatir. Aku bukan khawatir dengan keadaan Ria, tapi justru khawatir dengan keadaan Hendra. Dia baru saja menyebrang ke Pulau Ya dan bapak ini secara tidak langsung mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan pulau itu. Bahkan keanehan itu terjadi pada orang yang akan berangkat ke sana. "Ada apa dengan Pulau Y?" tanyaku penasaran. "Ah ... eh ... tidak apa-apa Nak," jawab bapak separuh baya itu seperti menyembunyikan satu kebenaran dariku. Kini giliran aku yang mengernyitkan dahiku atas jawaban yang diberikan olehnya. Aku sungguh tak paham apa yang membuatnya terbata berbicara mengenai Pulau Y--tempat Hendra berdinas saat ini. "Apa Bapak menyembunyikan sesuatu dariku," tanyaku menyelidik. "Menyembunyikan ... sesuatu? Tidak, saya tidak menyembunyikan apa-apa," jawabnya sambil mengelapkan tangannya pada bulir-bulir kecil yang mulai membasahi dahinya. Huft ... akhirnya aku hanya mampu menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Aku tahu betul jika usaku untuk mengorek informasi darinya tidak akan berhasil. Dia pasti akan terus berkelit dan menyembunyikan semuanya. "Baiklah, saya permisi Pak, dan terima kasih," kataku sambil menyunggingkan seulas senyum dan mengangguk ke arahnya. Aku membalikkan badanku dan mulai menjauh dari pria separuh baya itu. Pikiranku mulai mengelana ke sana-ke mari mencari alasan dari pria itu menyembunyikan semuanya. Bukan hanya soal itu, aku pun tengah berpikir mencari keberadaan Ria yang tiba-tiba hilang di telan bumi. Hendra ... ya, aku yakin Hendra pasti bisa menjelaskan semuanya mengenai pulau itu. Tanpa pikir panjang aku langsung memijit beberapa angka diblayar ponselku. Aku sangat berharap jika Hendra dapat menjawab semua tanya yang ada di dalam hatiku. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan," kata seorang perempuan cantik di seberang sana. Shit ... tampaknya Hendra menon-aktifkan ponselnya karena sedang menyebrang laut, atau ini sebagai suatu keharusan? Ketidak aktifan nomor Hendra mau tak mau membuat berbagai macam pertanyaan dan pemikiran negatif menyelimuti otakku. Rasanya ini benar-benar menyiksaku hingga membuatku merasa pening karena banyaknya pertanyaan yang belum juga kudapatkan jawabannya. "s**t ... kenapa semuanya terasa begitu membingungkan?" umpatku sambil menendang sebuah kaleng minuman yang entah di buang oleh siapa. Hhhmm ... satu kebiasaan orang Indonesia yang sangat sulit dihilangkan--membuang sampah sembarang. "Aaawww ...," kata seorang perempuan yang hanya berjarak sekitar lima meter dariku. "Mati aku," kataku sambil menggigit bibir bawahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN