Perpisahan

1015 Kata
Pada akhirnya aku berdiri di sini menatap pria yang selama beberapa bulan ini merajai hatiku. Dia terlihat gagah dalam balutan pakaian serba hitam dan jaket kulit yang juga berwarna hitam. Ya, hari ini aku bertemu dengan Hendra sesaat sebelum dia berangkat tugas dan sebelum aku pergi berlibur. "Jaga diri baik-baik," kata Hendra sambil menatap iris Coklatku lekat. "Ya Hen, kamu juga ya," kataku sambil menggenggam tangannya erat. Berat, itu yang aku rasakan saat harus melepasnya pergi. Biasanya aku tak pernah melepasnya berangkat tugas karena Hendra baru akan mengabari jika dia berangkat tugas tepat ketika dia dalam perjalanan pulang atau bahkan setelah tugasnya selesai. Dengan penuh sayang Hendra membelai rambut panjangku yang terurai dengan indahnya. Ini adalah hal yang paling aku sukai dan selalu membuatku tenang saat gundah seperti ini. "Gak bisa ya kamu tukar tugasnya dengan yang lain?" tanyaku dengan sedikit memaksa dan memasang wajah sedikit memelas. "Di ...," kata Hendra sambil menghela napas panjang. "Ya maaf ...," kataku sambil mendekatkan tubuhku dan dia langsung memelukku dengan begitu eratnya seolah ini adalah terakhir kali di memelukku. Tanpa kata aku cukup tahu jika tugasnya kali ini akan memakan waktu dan juga sedikit berbahaya dari biasanya. Tapi aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa selain melepasnya bertugas dengan hati yang kuat dan tentu saja ikhlas. Ikhlas ... ah kata itu begitu mudah untuk di ucapkan tapi sangat sulit direalisasikan. Aku sendiri sampai saat ini bahkan belum yakin apa aku melepas kepergian Hendra untuk bertugas dengan ikhlas atau tidak. "Aku akan menjaga diri baik-baik," kata Hendra sambil mengecup pucuk kepalaku Ya, dia seolah tahu jika aku begitu mengkhawatirkan keadaannya. Dan dia ingin membuatku tenang melepas kepergiannya. "Aku juga akan menjaga diri baik-baik," kataku sambil melepaskan pelukan Hendra dengan sangat perlahan. Cup ... dia mengecup keningku dengan sangat perlahan dan penuh perasaan, satu kecupan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tahu, ini memang bukan pertama kalinya dia mengecup keningku, tapi biasanya tidak pernah sedalam dan seperlahan ini. Kali ini rasanya sungguh sangat berbeda. "Ndan ...," terdengar salah satu anggota memanggil Hendra menandakan jika dia harus segera berangkat dan menjalankan kewajibannya. "Sebentar," kata Hendra sambil menengok ke arah suara itu berasal. Sekilas aku juga melihat ke arah Polisi yang tadi memanggil Hendra. Aku mengenali Polisi itu, dia adalah salah satu Polisi yang aku temui di lorong kos Hendra tempo hari. Dia menyunggingkan seulas senyum dan aku membalasnya sambil sedikit mengangguk. Saat ini, rekan-rekan Hendra memang sudah mengetahui jika aku bukan istrinya, melaiankan calon istri yang beberapa bulan lagi akan resmi menyandang Ny.Hendra-jika tugas Hendra cepat selesai. "Aku mencintaimu," kata Hendra sambil sekali lagi mengecup keningku. "Aku juga mencintaimu," kataku lirih. "Aku berangkat," kata Hendra sambil memundurkan langkahnya. Ingin rasanya aku menangis dan menjerit serta memohon agar dia tak pergi. Tapi entah kenapa lidahku seolah kelu bahkan hanya untuk memanggil namanya pun aku tak bisa. Aku hanya sesaat menahan tangannya hingga membuat Hendra berbalik ke arahku dan tersenyum dengan begitu indahnya. "Aku tak akan lama, do'akan agar aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat," kata Hendra yang kemudian membalikkan badannya kembali. Perlahan tangan yang tadi kugenggam dengan erat terlepas hingga angin dapat menyapa lenganku yang kini terasa begitu kekosong dan hampa. Dengan air mata yang mulai berderai kupaksakan tanganku untuk menghapus bulir-bulir bening itu. "Hen ...," akhirnya panggilan itu keluar juga dari bibirku dengan gemetar dan berat hati. Tapi sayang, pria yang kupanggil namanya tidak lagi mendengar kata-kataku. Dia yang kucintai sudah berjalan lebih dari sepuluh meter dan menghampiri rekan-rekannya yang sudah siap di atas sebuah speed boat yang akan membawa mereka menuju pulau di mana pembunuhan itu terjadi. Sesaat sebelum speed boat berisi lima orang Polisi itu bergerak meninggalkan dermaga Hendra masih menengok ke arahku dan memberiku seulas senyum yang begitu menawan. Senyuman yang akan selalu kukenang sebagai penawar rasa rinduku selama dia jauh dariku. Akhirnya, speed boat itu meninggalkan dermaga dengan cepat hingga hanya menyisakan riak di atas laut yang berombak kecil. "Hhhhmmm ... andai aku bisa ikut bersamanya?" tanyaku dalam hati. Huft ... akhirnya aku hanya bisa menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. "Di ...," terdengar sebuah sapaan dari belakangku, aku pun segera menoleh ke belakang dan mendapatibseorang perempuan mengenakan T-shirt berwarna Biru yang dipadukan dengan celana jeans berwarna senada. "Hai Ri ...," sapaku sambil berusaha tersenyum. Kami memang berjanji untuk bertemu di dermaga sebelum kami berangkat ke Pulau Z untuk berlibur bersama. Aku memilih janjian di dermaga karena aku ingin melepas kepergian Hendra terlebih dahulu. "Hendra sudah berangkat Di?" tanya Ria saat sudah berada di sampingku. "Dia baru saja berangkat," kataku sambil berusaha tersenyum dan menguatkan hati untuk tidak menangis lagi di depan Ria. "Jadi kita berangkat sekarang?" tanya Ria yang sudah sangat bersemangat untuk berlibur di pulau yang menyajikan keindahan. "Maumu tu Ri buru-buru berangkat," kataku yang sudah mulai mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. "Ya elah, siapa yang gak mau cepet-cepet sampai di tempat yang begitu eksotik dan menawan hati serta ... apa lagi ya?" kata Ria sambil merangkul pundakku dengan erat. Sejak pulang KKN tempo hari, hubunganku dan Ria memang kembali membaik dan bisa di bilang kembali bersahabat. Tapi tidak bersahabat selayaknya orang yang benar-benar bersahabat. Kedekatan kami hanya sebatas jalan bareng, makan bareng, dan tentu saja belanja bareng. Selebihnya tak ada lagi yang bisa kami lakukan bersama atau bagikan bersama. Dia bahkan tidak tahu rahasiaku dan lain-lainnya. "Ni lihat tiketnya, kita nyebrang sejam lagi," kataku sambil menyodorkan tiket kapal tepat di hadapan wajahnya. "Apa, sejam lagi?" tanya Ria kaget sambil melihat tiket yang kini sudah berada di tangannya. "So ... tahan dulu keinginanmu untuk segera sampai di pulau," kataku sambil melenggangkan kaki menuju sebuah warung yang ada di sekitar dermaga. Ya, aku sudah mulai merasa kelaparan karena tadi pagi tidak ada sesuap pun makanan yang masuk ke dalam perutku. Bagaimana aku mau makan jika aku terbayang akan kepergian Hendra ke pulau yang di sana baru saja terjadi sebuah pembunuhan yang kabarnya sangat keji dan kejam. Ria yang menyadari aku mulai berjalan menjauh langsung mengejar langkahku dan menyeimbangkannya. Dia benar-benar terlihat begitu senang. "Di, bagaimana kalau kita pergi ke pulau yang sama saja dengan Hendra?" usul Ria yang sontak membuatku kaget dan menghentikan langkahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN