Tok... tok... tok... terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Aku segera membuka mataku dan mencoba menyesuaikan pandanganku dengan keadaan di sekelilingku.
Aku menemukan diriku dan Ria sedang tertidur tak jauh dari pintu depan kamar. Ria yang masih tertidur lelap masih terlihat tak karu-karuan, masih ada sedikit rona ketakutan yang menggelayut di wajah cantiknya.
"Pergi.. pergi..," igau Ria dalam tidurnya.
"Ri, bangun Ri," kataku sambil menggoyang tubuh Ria perlahan.
"Aaacccchhh...," teriak Ria yang membuatku harus mundur ke belakang saking kagetnya, "Dia mana Di?"
"Kamu mengingatnya?" tanyaku dengan wajah tak percaya jika Ria masihengingat kejadian semalam, padahal aku sangat berharap jika kejadian itu hanya sebuah mimpi belaka, tapi sayang ternyata itu benar-benar nyata.
"Gila kamu kalau aku gak inget kejadian semalam. Aku hampir mati jantungan gara-gara hal itu," cerocos Ria panjang kali lebar.
"Aku...," kataku tapi kata-kata itu terhenti saat aku mendengar kembali suara ketukan di pintu.
Tanpa banyak kata aku langsung beranjak dari lantai dan membereskan pakaianku agar sedikit terlihat lebih rapi setelah kejadian semalam yang benar-benar membuat pakaianku tak karu-karuan. Dan Ria, aku melihat dia mulai beranjak dan berjalan ke arah jendela kamar yang masih tertutup rapat.
"Selamat pagi, Mbak!" sapa seorang pria yang aku kenali sebagai Pak Imam--pria yang kemarin mengantarku dan Ria ke kamar ini.
"Selamat pagi, Pak!" jawabku sambil sedikir menyunggingkan seulas senyum untuk menyembunyikan kekagetan yang ada di wajahku.
Bagaimana aku tidak kaget jika pagi ini aku melihat papan-papan yang menghubungkan satu kamar dengan kamar lainnya masih berjejer rapi seperti kemarin saat kami sampai. Tak ada sedikit pun air laut yang menggenak di atas papan-papan itu, bahkan hanya basah terken ombak pun tidak.
Mungkin sudah kering karena terpapar sinar mentari pagi.
Dengan ekor mataku, aku sedikit menatap ke arah jam yang bertengger di dinding kamar. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi dan mentari pun belum terlalu panas hingga tak mungkin papan-papan itu kering karena paparan sinar Sang mentari. Dan akhirnya pemikiranku itu terhapus dengan kenyataan itu.
"Mbak!" terdengar suara Pak Imam sedikit meninggi, sepertinya aku telah mengacuhkan dia terlalu lama.
"Eh... iya Pak," kataku sedikit terbata.
"Boleh saya masuk untuk membersihkan kamar?" izinnya dan aku hanya mengangguk sambil berbalik dan melangkahkan kakiku menuju Ria yang masih menikmati cahaya Sang surya dari jendela.
Kutepuk pundak Ria dengan sangat perlahan hingga dia menggeser tubuhnya ke sisi kiri dan aku berdiri di sisi lain jendela. Kutatap birunya laut yang menampakan gelombang-gelombang kecil dan silih bekejaran satu sama lainnya. Ada ketenangan menyelinap di antara kegundahan jiwaku karena peristiwa semalam.
Ria pun tak mengatakan sepatah kata pun, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri yang entah sedang memikirkan apa. Tapi aku yakin, salah satu hal yang ada dipikirannya adalah kejadian semalam yang benar-benar mengusik ketenangan dan sekaligus sambutan selamat datang yang sangat menjijikan dan menakutkan.
Kata-kata menjijikan mengingatkanku akan sesuatu, aku segera membalikkan badanku dan melihat ke arah lantai sekitar pintu kamar. Tapi lantai itu masih bersih padahal Pak imam belum menyapu atau mengepelnya karen dia sedang membersihkan sisi kamar lain.
"Tidak ada," gumamku dengan begitu pelan.
"Apa yang tidak ada?" tanya Ria yang sepertinya mendengar gumamanku.
"Muntahanmu," kataku masih terus menatap ke arah lantai yang aku yakini jika semalam Ria muntah di sana.
"Benar," kata Ria yang sepertinya melihat ke arah yang sama.
Huft... akhirnya aku hanya bisa menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Aku kembali menatap pada indahnya air laut yang berkilauan di terpa cahaya mentari pagi yang mulai menghangatkan tubuhku.
"Kita kemana hari ini?" tanya Ria yang sama-sama sudah mulai melihat ke arah indahnya laut.
"Kalau ke sana bagaimana?" tanyaku sambil menunjuk ke pinggir pantai.
Dari tempatku berdiri, aku melihat pohon-pohon tinggi menjulang. Di antara pohon-pohon itu samar aku melihat seperti sebuah taman yang begitu indah dan dihiasi dengan bunga-bunga warna-warni yang dari kejauhan saja sudah menarik perhatianku.
"Ke sana?" tanya Ria sedikit kaget dengan apa yang aku usulkan.
"Ya ke sana, sepertinya ada taman di antara pohon-pohon itu."
"Ya elah Di, kalau hanya mau liat taman gak usah liburan."
"Sepertinya di sana beda.
"Ya sudah, sepertinya pinggir pantainya juga indah, banyak bulenya."
Kata-kata Ria langsung membuatku tertawa terbahak. Entah bagaimana dia masih terpikir untuk mencari bule setelah apa yang kami alami semalam.
"Dasar mata bule kamu!" ledekku sambil melangkahkan kakiku dan mendapati Pak Imam sudah tak ada lagi di dalam kamar.
Aku sedikit mengerutkan keningku karena tak paham bagaimana dia pergi dengan begitu cepatnya dan tanpa pamit pula pada kami. Tapi ah, mungkin dia sudah pamit tapi aku dan Ria sama-sama sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Setelah selesai membersihkan diri, aku segera bersiap untuk menikmati liburanku kali ini. Aku mengenakan celana jeans berwarna biru yang dipadu-padankan dengan sebuah kaos berlengan pendek dengan warna senada. Sementara itu, Ria terlihat sangat cantik dengan hotpants tengah paha berwarna biru dan sebuah kaos berlengan pendek yang begitu pas di tubuhnya.
"Lets go..." kata Ria setelah kami benar siap.
Kulangkahkan kakiku yang telah terbungkus sepatu kets menyusuri papan yang akan membawaku ke bagian luar resort. Sesekali aku dan Ria berbincang-bincang ringan, tapi entah kenapa aku tidak dapat terfokus pada pembicaraan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, tapi aku tak tahu apa itu.
Setelah berada di luar resort, kami mulai menapaki jalan kecil yang di sampingnya di tumbuhi bunga-bunga kecil yang negitu indah. Ada rasa ingin memetiknya, tapi aku mengurungkannya karena aku selalu teringat pesan Mama untuk tidak merusak tumbuhan yang ada di pinggir jalan.
Kami terus melangkahkan kami dengan sangat perlahan dan santai. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk asli pulau ini ataupun dengan para wisatawan baik lokal maupun mancamegara.
"Di, kita mau ke sana kan, kok ramai ya?" tanya Ria saat kami hanya tinggal beberapa meter lagi sampai ke taman--tempat yang kami tuju.
Aku melihat beberapa warga sedang berkerumun di tempat itu. Rasanya sedikit ganjal mengingat walay ini adalah tempat wisata, tapi tak mungkin warga berkerumun seperti itu.
"Mungkin sedang ada perayaan," kataku dengan sangat santai.
"Perayaan? Tapi itu banyak mobil Polisi, Di," kata Ria lagi.
Polisi? Ya, terasa begitu aneh jika dalam perayaan ada begitu banyak Polisi. Tapi tunggu, siapa pria yang sedang berdiri di barisan paling belakang itu?