Taman

1046 Kata
Aku terus menatap ke arah pria yang sedang berdiri pada deretan paling belakang kerumunan warga. Entah kenapa aku merasa jika aku pernah melihat dia sebelumnya. Hanya saja aku masih belum yakin dengan pandanganku. "Kita ke sana?" tanya Ria. Belum sempat aku membuka bibirku untuk menjawab pertanyaannya, dia sudahelangkahkan kaki terlebih dahulu. Pertanyaan yang menurutku jauh lebih seperti ajakan karena dia melangkahkan kaki begitu saja tanpa menunggu jawabanku terlebih dahulu. Dan aku, mau tak mau aku mengikuti langkah kaki Ria yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Tapi mataku ini sungguh tak dapat terfokus pada jalan yang aku pijak. Aku masih terfokus pada pri yang mengenakan pakaian serba hitam dan sebuah topi hitam. "Ayo Di!" kata Ria yang berjarak sekitar satu meter di depanku. Entah kenapa dia terlihat begitu bersemangat seolah akan menyaksikan sebuah perayaan, padahal dia sendiri yang mengatakan jika itu bukanlah sebuah perayaan. Tanpa kata aku langsung melangkahkan kakiku cepat untuk menyusul langkah Ria. Aku tak ingin jika dia mengomel atau memanggilku dengan suara keras hingga kami menjadi pusat perhatian orang sekitar. Akhirnya, aku dapat menyelaraskan langkahku dengan Ria. Dan kami hanya tinggal dua meter saja dari kerumunan para warga. Samar aku mendengar suara mereka yang dominan dengan kata-kata kasihan. "Ada apa, Bu?" tanyaku pada seorang perempuan yang aku perkirakan berusia sekitar empat puluh tahunan. "Ada pembunuhan lagi," jawabnya datar tanpa menoleh ke arahku. Aku langsung tersentak saat mendengar jawaban ibu itu. Bagaimanapun aku sudah tahu sebelumnya jika di pulau ini telah terjadi pembunuhan. Dan hal itulah yang membuat Hendra harus bertugas di tempat ini serta membuat persiapan pernikahan kami kembali tersendat. Tapi aku tak percaya bagaimana bisa kembali terjadi pembunhan lagi hanya selang beberapa hari dari kabar penugasan Hendra? Jika dikatakan bahwa semua ini berkaitan dengan sebuah dendam, tapi tidak mungkin hanya berjeda sesingkat ini. Dan bukankah jika sebuah dendam akan menghabisi korbannya pada saat yang bersamaan? "Yakin semua ini hanya karena dendam? Kamu tak tahu apa-apa soal pulau ini!" tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang tak asing lagi di telingaku. Suara itu sama dengan suara yang pernah aku dengar saat di dermaga kemarin. Seketika aku langsung mencari-cari dari mana suara itu berasal. Tapi suara itu telah hilang di terpa angin hingga aku tak dapat mencari tahu siapa pemilik suara yang selama dua hari ini selalu membisikkan kata-kata yang tidak aku mengerti sama sekali. Aku masih saja mencari tahu asal suara itu saat tatapanku terpaku pada sosok pria yang mengenakan pakaian serba hitam yang tadi aku lihat. Aku menatapnya lekat dan mencoba untuk mencari tahu siapa dia karena aku begitu yakin pernah melihatnya. Pria berpakaian serba hitam itu akhirnya menyadari jika aku tengah melihat ke arahnya. Dia balik menatapku tajam dan mengangkat sebelah tangannya hingga menunjukkan seperti menyembelih. "Tidak... tidak...," kataku lirih sambil menggelengkan kepala. Aku melihat pria itu menyeringai puas saat melihat responku. Dia pun mulai melangkahkan kakinya seperti hendak memdekatiku. Refleks aku langsung melangkahkan kakiku memecah kerumunan masa yang masih memadati area taman. Aku terus melangkahkan kakiku sambil sesekali melihat ke arah pria yang masih berjalan ke arahku. Aku sendiri tak tahu apa yang membuatnya mengejarku, karena aku merasa tak mengenalnya. Tapi dia, dia terus mengejarku. Tunggu, aku ingat sekarang siapa pria itu. Dia adalah pria yang terus menatapku saat aku dan Ria di warung makan yang ada di dermaga kemarin. Dia pria yang sama yang membuatku entah bagaimana merasakan ada sebuah ancaman setiap kali aku melihat pri itu. Peluh dingin mulai membasahi keningku. Dengan kasar aku menghapusnya dan terus berjalan menghindari pria yang entah siapa dan mau apa itu. Untuk menghindarinya, beberapa kali aku menabrak warga yang sedang berkerumun melihat korban pembunuhan dan aku harus berulang kali meminta maaf. "Berhenti!" terdengar suara tinggi dan tegas tepat di samping telingaku. Hal itu sontak saja membuatku berhenti berjalan dan memaksa wajahku untuk menoleh ke asal suara tersebut. Tepat di sampingku berdiri seorang pria berpakaian Polisi dengan tubuh tinggi dan tegapnya. Ada sedikit keangkuhan dan kesombongan dari raut wajahnya hingga membuatku tak menyukai Polisi yang satu. "Silahkan ke belakang, Anda hampir merusak garis Polisi!" katanya dengan suara yang sedikit tinggi. "Maaf saya...," kataku terhenti saat mataku terpaku pada sesosok tubuh yang telah terbujur kaku di hadapanku. Dia adalah seorang perempuan yang menurutku berparas cantik walau kini wajahnya sudah pucat pasi dan ternodai oleh darah yang berada di sekitar lehernya. Posisi perempuan itu terlentang dengan kepala yang hampir putus, darahnya pun masih segar, sepertinya baru terjadi kurang dari satu jam. "Ya Tuhan...," kataku sambil melangkahkan kakiku mundur. Aku tak percaya bagaimana tubub yang meninggal dengan cara yang mengenaskan itu dibiarkan terbuka begitu saja menjadi tontonan tanpa sebuah benda pun yang menutupi bekas luka dan darah yang begitu segar. "Di...," kudengar suara Ria dari belakangku, dia sendiri sepertinya terkejut dengan apa yang dilihatnya. Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Aku mencoba menenangkan diri atas apa yang baru saja aku lihat. "Saya beli jaritnya boleh Bu?" tanyaku pada seorang ibu yang berdiri di samping Ria dan tengah menggenggam sebuah jarit. "Tapi ini sudah kotor dan lama," jawabnya sedikit menolak. "Tak apa Bu," kataku sambil mengeluarkan selbar uang lima puluh ribu dan ibu itu pun menyerahkan jarit-nya. Kembali aku melangkahkan kakiku ke arah garis polisi yang sudah melintang. Polisi yang tadi memperingatkanku masih menatapku dengan tatapan angkuh dan sedikit mengancam. Tanpa mempedulikan tatapan Polisi itu, aku langsung menerobos garis polisi dan seketika dia menggenggam tanganku dengan sangat eratnya. "Sudah saya bilang di belakang, Anda merusak garis Polisi!" bentaknya dengan suara tinggi. "Kalau begitu tutupi jenazah perempuan itu dengan jarit ini!" kataku sambil melemparkan jarit kepada Polisi angkuh dan sombong itu. "Tidak, itu akan menghilangkan bukti apapun yang ada!" "Sejak kapan menutupi jenazah akan menghilangkan bukti?" "Anda jangan sok tahu ya!" Aku merasa sangat jengkel dengan perkataan Polisi itu. Aku menghempaskan tanganku kasar dan mengambil jarit yang telah teronggok di atas tanah. Aku berniat untuk menutupi jenazah itu sendiri tanpa mendengarkan kata-kata Polisi angkuh itu. "Hei!" teriaknya saat aku baru saja melangkahkan kakiku menuju jenazah perempuan itu. "Pelankan suaramu saat berbicara dengan perempuan," terdengar suara seseorang yang begitu aku kenal dan begitu aku rindukan. "Tapi Ndan...," kata Polisi itu. "Biar aku saja, kamu dan Ria menunggu saja di dekat mobilku di sana," kata pria yang suaranya begitu aku kenali sambil mengambil jarit dari tanganku. "Iya Hen," kataku sambil tersenyum dan melangkahkan kakiku meninggalkan pria yang begitu aku rindukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN