Aku menatap pada sesosok tubuh berbadan tinggi dan tegap. Dalam hati aku berharap itu adalah Hendra, tapi sayang kali ini aku harus kecewa karena dia bukanlah Hendra. Pria itu mengenakan setelan hitam putih dan berjalan ke arahku. "Untuk apa kamu ke sini, Raina?" tanyanya yang seketika membuat sosok perempuan yang sedang menarik kaki Ria menghentikan aktivitasnya. Dia segera menatap ke arah pria yang ada yang ada di hadapannya. Wajahnya yang tadi berwarna merah kini perlahan mulai memudar dan menunjukkan wajah pucat pasi tanpa ekspresi, tapi sorot matanya masih menunjukkan kemarahan. "Dia telah mengangguku," jawabnya sambil menunjuk pada Ria. Pria itu menatap ke arahku dan Ria--terlebih pada Ria--yang tubuhnya mengalami banyak luka cakar dan mulai mengeluarkan darah. Dia meng

