Duduk gelisah pada sebuah kursi yang terbuat dari bambu, Diva mengamati keadaan sekitar. Rumah yang dikunjunginya sepi, pemilik rumah mungkin belum kembali. Karena itu, Diva memutuskan untuk menunggu dengan duduk di teras depan. Orang yang ditunggunya datang setengah jam kemudian. Diva lekas berdiri menyambutnya. Orang itu berhenti ketika melihat tamu tak diundang berada di area rumahnya. Dua pasang mata itu saling menatap, saling mengungkapkan rindu yang tak terucap. Saling membagi kasih meski berjarak. Bagi Diva, Danang adalah harapannya. Harapan untuk kebahagiaan yang lama tertutup oleh ketakutan. Harapan untuk segala doa namun hanya terisi kehampaan. Dia hanya ingin lelaki ini akan menjadi petunjuk untuknya menemukan satu bintang di langit kegelapan. Namun harapan itu terkikis

