Angin berhembus melalui jendela yang terbuka di sampingnya. Pandangannya mengarah pada luar kelas di mana banyak siswa berlalu lalang untuk masuk ke kelas masing-masing. Hari ini Milan sengaja datang lebih pagi karena ada tugas jaga dari Bu Lena. Katanya ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan pengurus inti OSIS. Sembari menunggu panggilan, ia menyandarkan punggungnya di kursi lalu menutup matanya perlahan. Moodnya sedang baik karena udara sejuk setelah hujan yang begitu menenangkan.
Tak lama ponselnya berbunyi, kedua matanya perlahan terbuka. Ia segera membuka notifikasi pesan yang masuk. Sudah waktunya rapat. Ia bangkit dari kursinya, seraya membawa ponsel ia keluar dari kelas menuju ruang rapat. Sesampainya di ruang OSIS, sudah ada empat pengurus inti yang tengah berbincang-bincang. Mereka semua adalah jajaran siswa-siswi cerdas di Meganthara.
Milan mengambil tempat duduk di samping Aileen. Liam sebagai ketua OSIS periode tahun ini tersenyum pada Milan. Gadis itu membalasnya dengan senyuman. Bukannya Milan terlalu percaya diri tapi Aileen pernah berkata jika Liam menyukainya padahal sekarang dia sudah mempunyai pacar.
"Masalahnya ini bisa bikin gempar Meganthara," sahut Elanor dengan raut wajah serius. Milan mengernyitkan dahi bingung. Gadis itu menyenggol lengan Aileen yang duduk di sampingnya. Aileen menoleh sambil mengangkat kedua alisnya.
"Masalah apa?" tanya Milan sambil berbisik-bisik. Aileen menarik napas panjang, "Markolevi."
Tak lama Bu Lena datang dengan sebuah map cokelat yang ia bawa di tangan kirinya. Lima siswa dan siswi yang menghadiri rapat segera menyesuaikan tempat duduk membentuk lingkaran kecil untuk memudahkan diskusi. Bu Lena mengeluarkan beberapa lembar kertas dan foto dari map tersebut. Beliau memberikan salinan dokumen itu kepada seluruh siswa dan siswi yang hadir.
"Baik langsung saja, kita tidak punya banyak waktu, kemarin sekolah mendapat laporan dari kepolisian mengenai kerusuhan yang disebabkan oleh organisasi gelap sekolah, Markolevi. Masalahnya sudah melibatkan siswa dari sekolah lain dan warga sekitar," jelas Bu Lena yang membuat Milan mengangguk-anggukan kepala mengerti. Pasti yang dimaksud siswa dari sekolah lain adalah Andreas.
"Jadi apa yang harus kami lakukan, Bu?" tanya Nathan yang begitu tertarik dengan masalah ini. Pasalnya beberapa bulan yang lalu, Nathan sempat memiliki masalah dengan Arkan yang sampai sekarang belum terselesaikan. Sehingga hampir setiap kali Nathan dan Arkan bertemu selalu tercipta perang dingin, anehnya tidak ada orang yang tahu apa masalah mereka sebelumnya hingga menjadi seperti itu.
"Ibu ingin kalian menjadi tim penyidik masalah ini, kita tidak bisa mengandalkan pihak sekolah untuk menangani hal ini karena anggota Markolevi pasti mempunyai cara untuk mengelak jika tidak diselidiki dari dalam, ibu harap kalian bisa menangani masalah ini diam-diam, jangan sampai tim penyidik ini bocor sehingga diketahui kepala sekolah. Ibu yakin kalau Markolevi sampai tertangkap, pasti seluruh anggotanya akan dikeluarkan dari sekolah," jelas Bu Lena lagi. Milan pikir Bu Lena benar, meski Meganthara terpandangan dimata khalayak luas tidak ada yang tahu jika para penghuni sekolah ini juga berbahaya.
"Apa ini tidak terlalu berbahaya, Bu? Mengingat betapa besarnya risiko yang harus diambil jika membuat tim penyidik rahasia, jika kita ketahuan tidak hanya akan berimbas pada kami saja tapi juga pada seluruh siswa siswi di sekolah ini," tanya Aileen. Pandangan Milan beralih pada Aileen, jelas wajahnya menggambarkan jika ia takut untuk beegabung dengan tim penyidik ini. Milan tidak tahu apa alasannya tapi Aileen pernah cerita jika ia trauma dengan sesuatu yang berhubhngan dengan Markolevi.
"Maka dari itu, ibu akan membuat semacam misi untuk kalian sehingga kalian bisa bekerja sendiri-sendiri dan saat misi kalian selesai akan dibuat forum untuk membahas hasil temuan kalian selama masa penyelidikan, jadi sebelum penyelidikan selesai kalian tidak akan bertemu dulu agar tidak menciptakan kecurigaan," jawab Bu Lena. Mereka berlima dengan serempak menganggukan kepala mengerti.
"Kalau begitu saya akan bacakan siapa yang harus kalian selidiki dan apa yang harus kalian lakukan. Ketua dari tim penyidik ini adalah Milan yang mengawasi Arkan Axelle, Aileen mengawasi Irgi Pahlevi, Liam mengawasi Endro Farrael, Elanor mengawasi Erland Oraney, dan Nathan mengawasi Ahmad Mark. Jadi yang harus kalian lakukan--"
Oh s**t, why must him?
××
"Dekati mereka dan cari tahu apa kesehariannya, tidak perlu terlalu detail tapi ingat apa yang janggal dari itu,"
Anehnya Milan mengikuti instruksi konyol itu. Ia mencoba agar tidak terlibat masalah lagi dengan Arkan tapi dengan adanya masalah ini membuatnya harus sering berinteraksi dengan laki-laki itu, menyebalkan sekali.
Selesai rapat, Milan segera pergi kembali ke kelas tapi pandanganya teralihkan pada seorang laki-laki yang tengah menjahili temannya di dalam kelas. Jelas sekali jika Arkan adalah biang keroknya yang membuatnya disuruh maju ke depan dan mengerjakan soal. Dalam hati Milan tersenyum melihat penderitaan Arkan yang dengan wajah dongkolnya mengerjakan soal matematika di depan.
Tapi saat Arkan menoleh ke belakang ke arah teman-temannya, ia malah memandang keluar kelas menatap Milan yang berdiri di sana. Gadis itu tekesiap ketika Arkan menatapnya intens dari dalam kelas. Ia segera pergi dari sana menuju ke kelasnya. Entah apa namanya jika mata-mata sepertinya ketahuan dalam menyelidiki mangsanya. Lain kali hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi.
Setibanya di kelas, Milan celingukan sendiri setelah menyadari seluruh temannya tidak ada di sana. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu segera menghubungi Dean, teman sebangkunya.
"Halo, Dean, lo dimana?"
"Di lab fisika, ini lagi percobaan, lo tadi kemana? Dicariin tuh sama Pak Ringga,"
"Gue ada perlu bentar tadi, ya udah gue ke sana ya,"
"Iya, buruan, soalnya Pak Ringga belum ngabsen,"
"Oke."
Milan memutuskan sambungan teleponnya kemudian segera menganbil buku-buku dan peralatan tulisnya. Entah benar atau tidak, Dean pernah berkata padanya jika Pak Ringga menyukainya. Dia memang tampan dan cerdas, selisih umurnya juga tidak terlalu jauh, tapi Milan tidak begitu menyukai memiliki hubungan asmara dengan orang yang lebih tua darinya. Itu akan membuatnya canggung.
Kakinya berjalan dua kali lipat lebih cepat, ia tidak tahu jadi bahan omelan Pak Ringga di depan semua temana sekelasnya hanya karena terlambat. Namun, di tengah jalan hal yang tidak ia harapkan sebelumnya terjadi. Di persimpangan koridor jurusan IPA dan IPS seorang laki-laki memanggil namanya.
"Milan 'kan?" tanyanya. Gadis itu mengangguk.
"Gue lagi buru-buru, permisi," ujarnya pada laki-laki itu. Bukannya menjawab, ia justru memberikan sebuah s**u stroberi pada Milan.
"Jangan lupa diminum ya," ujarnya lalu meninggalkan Milan sendiri di sana.
"Ah bodo, orang aneh," memang aneh jika tiba-tiba dia memberikan s**u stroberi tanpa alasan atau basa basi apapun. Entah akan ia catat dibagian kejanggalannya atau tidak karena ini terlalu absurd dan tidak jelas sama sekali.
××
Tak seperti biasanya, hari ini kantin lebih ramai. Ditambah kedai camilan di bawah juga tampak lebih ramai. Milan tidak yakin tapi sepertinya berita itu sudah menyebar sampai di telinga teman-temannya. Setelah Aileen selesai memesan makanan, Nessie yang sedari memperhatikan keadaan sekitar mulai menyadari ada sesuatu yang janggal.
"Gue denger Markolevi diburu polisi, itu beneran?" tanya Nessie dengan memandang Aileen dan Milan bergantian. Tiba-tiba Aileen tersedak saat Nessie menanyakan hal itu.
"Gue juga denger kabar itu dari temen gue di kelas, kayaknya ada sesuatu yang gak beres di Markolevi," ujar Milan yang membuat Nessie mengangguk-anggukan kepala mengerti. Aileen yang duduk di depan Milan hanya bisa diam, perlahan ia meremas roknya.
"Gue rasa ini bukan yang pertama kalinya untuk Markolevi," ujar Nessie yang membuat Aileen merasa lebih tidak nyaman dengan membicarakan masalah ini. Gadis itu bangkit dari kursinya, "gue ke kamar kecil dulu," pamitnya lalu pergi dari sana. Milan rasa ada sesuatu yang Aileen sembunyikan dari dirinya dan Nessie.
"Aileen kenapa?" tanya Milan pada Nessie, gadis itu mengendikkan bahunya tanda ia tidak tahu.
"Seharian ini dia lebih banyak diem dan gue lihat dia tadi ketemu sama Irgi di dekat perpustakaan," ujar Nessie, Milan rasa Aileen sudah mulai menjalankan tugasnya jadi ia tidak perlu khawatir.
××
"Lo ngerasa aneh gak sih? Anak-anak OSIS pada deketin kita," tanya Irgi membuka pembicaraan forum hari ini. Erland dan Endro serempak menganggukkan kepala sementara Arkan masih tetap memantulkan bola tenis ke dinding lalu menangkapnya.
"Gue rasa ada yang gak beres, Nathan yang dulu pernah gelud sama si Arkan kayaknya juga ikut," mendengar penuturan tersebut dari mulut Erland membuat Irgi dan Endro terkejut dan langsung menoleh ke arah Arkan.
"Gila sih, gue gak bisa bayangin kalau Nathan ketemu Arkan terus mereka kalap bersama, itu akan menjadi pertunjukan yang keren," ujar Endro yang membuat Arkan berhenti untuk memantulkan bola di dinding. Mereka bertiga serempak diam pasti akan ada komando dari Arkan untuk menghadapi anak OSIS yang mulai menggeliat mendekati mereka.
"Jangan lakukan apapun, kita tunggu sampai kita tahu apa maksud mereka," ujar Arkan seraya tersenyum.
"Good, gue rasa itu ide yang bagus, lagi pula kapan lagi ya diikutin sama anak OSIS yang dulunya gedeg banget sama kita," sahut Endro sambil tertawa diikuti Irgi dan Erland. Arkan bangkit dari kursinya lalu pergi dari sana setelah meletakkan bola tenis itu di atas meja bilyard.
"I think, Arkan has a great plan."
××