Cuaca hari ini cukup berawan dengan gumpalan awan abu-abu tebal beterbangan di langit ditemani dengan semilih angin yang mulai menusuk kulit saking dinginnya. Koridor kelas sebelas pun mulai gelap karenanya. Namun, tak menghalanginya untuk menangkap keberadaan sosok gadis itu di ujung koridor. Tangan kanannya membawa buku tebal, mungkin sekitar dua puluh sentimeter dan tangan yang lain menenteng tas berukuran cukup besar untuk tempat beberapa barang percobaan. Laki-laki itu tersenyum lalu mempercepat langkahnya menuju gadis itu.
Dengan cepat tangannya mengambil alih tas yang ada di tangan kiri Milan yang membuat gadis itu terkejut. Hingga ia kehilangan keseimbangannya yang hampir membuat buku panduan di tangannya jatuh. Ia tidak mau repot-repot ke perpustakaan untuk membawakan semua ini jika bukan karena Pak Ringga yang memaksanya membawa ini. Ia tahu jika pria paruh baya itu begitu ingin mendekatinya yang membuatnya terkadang merasa risih.
"Biar gue bantu, mau ke perpustakaan kan?" tanya Arkan yang membuat Milan terdiam sesaat, tidak ada petir ataupun guntur dan di sini Arkan membantunya, lagi. Ia mulai curiga dengan laki-laki itu karena selalu menghampirinya saat ia kesusahan. Tidak di luar sekolah maupun di dalam sekolah. Ia harus catat hal ini dalam buku hitam.
"Lo bolos?" tanya Milan tiba-tiba yang membuat Arkan memutar bola matanya malas lalu menurunkan tas yang besar yang ia bawa dengan sedikit terbanting yang membuat raut wajah Milan berubah kesal. Kalau isi tas itu tidak penting ia tidak akan membawanya dengan hati-hati.
"Jangan dibanting, Kan," ujarnya pada laki-laki di depannya itu. Arkan tersenyum. Tidak bisa dipungkuri jika senyuman itu indah sekali. Hampir membuat Milan salah fokus. Namun, imannya kuat, ia tidak akan tergoda dengan Arkan.
"Lo ingat nama gue, ya?" tanya Arkan dengan senyum manis yang masih mengembang di wajahnya.
"Eh?" Milan mengernyitkan dahinya. Apa yang salah jika ia mengingat nama Arkan? Laki-laki itu memang aneh.
"Mana handphone lo?" tanya Arkan seraya menyodorkan tangannya untuk meminta handphone milik Milan. Gadis itu menggeleng.
"Ketinggalan di kelas," jawabnya cepat. Lagi-lagi Arkan tersenyum lalu melirik saku rok Milan yang berbentuk persegi panjang tanda jika handphone milik gadis itu ada bersamanya.
"Itu apa kalau bukan handphone?" tanya Arkan seraya menunjuk saku Milan dengan telunjuknya. Milan meringis, menyadari kebodohannya ini akan menghantarkannya pada lubang buaya. Gadis itu mengambil benda persegi panjang yang beberapa lalu sudah bersemayam di sana.
"Buat apa?" tanyanya seraya memberikan handphonenya pada Arkan. Laki-laki itu diam saja, lalu mengetikkan sesuatu di ponsel Milan. Setelah selesai ia mengembalikkannya pada gadis itu.
"Gue duluan, tasnya biar gue bawa ke perpustakaan," ujar Arkan seraya mengambil tas besar yang ia letakkan di lantai tadi dengan kasar yang membuat suara-suara gesekan benda di dalam tas itu terdengar mengkhawatirkan.
"Arkan," panggil Milan yang membuat Arkan lagi-lagi tersenyum, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
"Iya, hati-hati 'kan?" tanyanya lalu segera pergi dari sana meninggalkan Milan sendiri di sana. Gadis itu menggelengkan kepalanya heran lalu mengalihkan pandangannya menuju layar ponselnya yang masih menyala dan menampilan sebuah kontak telepon bernama 'Komandan Arkan' di sana.
Milan tersenyum lalu mematikan ponselnya dan dimasukkannya kembali ke dalam saku. Diambilnya ponsel yang sengaja ia bawa dan diselipkan di antara lembaran buku-buku yang ia bawa. Jari-jari lentik milik Milan menari di atas layar ponselnya lalu senyum mengembang di wajahnya ketika mendapat balas dari orang yang telah ia kirimi pesan.
Milan Alexandria
Ikuti Arkan
Caraka
Ok
××
Sesampainya di perpustakaan dan memberikan tas besar itu kepada penjaga. Arkan segera pergi menuju markas, ada hal yang harus ia sampaikan kepada teman-temannya. Dari kejauhan, sepasang mata mengintip di balik dinding di dekat ruang kebersihan yang berada tepat di samping perpustakaan. Ia tahu jika Arkan sudah mengetahuinya, jadi ia akan membuat seolah-olah itu terjadi seperti kenyataannya.
Di markas Markolevi, tidak ada orang. Jam menunjukkan pukul sepuluh, pasti teman-temannya masih mengikuti pelajaran di kelas. Arkan mendudukkan diri di sebuah kursi panjang di sana. Cuaca mendung tadi sudah berubah hujan. Tadi ia hanya ingin memastikan sesuatu tapi dugaannya benar, gadis itu terlalu cantik untuk bermain di belakang dengannya seperti ini.
Tak lama, Irgi muncul dari balik pintu besar itu dengan wajah kusut dan seragam yang sudah tidak rapi. Salah, Irgi memang tidak pernah rapi jika memakai seragam.
"Kenapa sih dia harus muncul lagi?" entah pada siapa Irgi berbicara tapi dia terlihat frustasi di mata Arkan. Laki-laki itu berjalan menghampiri Arkan lalu duduk di sampingnya.
"Mantan?" tanya Arkan.
"Aileen," jawab Irgi yang membuat Arkan mengernyitkan dahi. Aileen? Terdengar tidak asing ditelinganya. Otaknya segera memproses dan mencari siswi keturunan China sampai ia mengingat Milan. Saat di kantin hari itu, ia melihat Milan bersama gadis bermata sipit yang sepertinya adalah Aileen yang dimaksud Irgi.
"Temennya Milan?" tanya Arkan memastikan, Irgi menoleh kepada Arkan yang duduk di sebelah kanannya.
"Kok lo tahu? Katanya gak suka cewek," tanya Irgi sambil memincingkan matanya curiga. Arkan tidak berekspresi apapun yang membuat Irgi menyerah untuk menggodanya lagi.
"Iya, temennya Milan, dia datengin gue kemarin," ujarnya seraya mengalihkan pandangannya menuju jendela kaca yang menampakkan hujan deras di luar. Arkan menarik napas panjang.
"Gue tadi ketemu Milan dan dugaan gue bener, Bu Lena ngadain penyelidikan Markolevi diam-diam lewat pengurus OSIS," jelasnya yang membuat Irgi terkejut. Saat meminjam ponsel milik Milan tadi ada notifikasi masuk dari sebuah grup yang sepertinya adalah tim penyelidik. Ia sempat melihat percakapan singkat yang menampilkan nama Bu Lena dan Nathan. Jadi sudah bisa dipastikan jika mereka mengincar Markolevi. Entah untuk dibubarkan atau ditendang keluar.
Sekolah memang membenci kehadiran Markolevi tapi tak jarang beberapa guru mendukung mereka tapi mereka tidak tahu jika kebencian yang dipupuk selama ini akan melahirkan proses penyelidikan ilegal seperti ini.
"Jadi Aileen juga? Oh s**t!" Arkan tidak akan tinggal diam. Ia harus menyingkirkan apa yang mengganggu jalannya tak peduli siapapun. Irgi bangkit dari kursinya lalu memukul tembok dengan kepalan tangannya. Ia memiliki kenangan buruk dengan anggota OSIS salah satunya Aileen satu tahun yang lalu. Mungkin gadis itu masih trauma akan kejadian hari itu. Namun, persetanan dengan perasaan di masa lalu, ia tak peduli. Sekarang Markolevi adalah hidupnya, siapapun yang membakarnya harus siap dengan akibatnya.
"Lo ada rencana?" tanya Irgi pada Arkan. Laki-laki itu bangkit dari kursi lalu mengambil sebuah bola tenis di atas meja lalu di lemparkannya ke halaman luar. Bola itu tidak memantul tapi langsung jatuh ke tanah saat permukaannya terkena air hujan. Irgi memalingkan wajahnya menuju bola tenis yang tengah kehujanan di luar. Arkan lebih tahu tentang strategi daripada siapapun yang pernah menjabat sebagai komandan Markolevi.
××
Komandan Arkan
Gue di depan kelas
Milan mengernyitkan dahi bingung ketika Arkan mengiriminya pesan tersebut. Ia segera membereskan buku-bukunya lalu segera pergi ke luar. Laki-laki itu benar sudah di sana seraya menyandarkan punggungnya pada dinding di samping pintu kelas Milan yang membuat beberapa siswi terpesona akan ketampanan Arkan, tak jarang pula ada yang berteriak kegirangan.
"Ngapain ke sini?" tanya Milan dingin. Arkan mengubah posisinya menghadap Milan yang membuat beberapa siswi yang lain pun tak bisa berhenti untuk melihat ke arah mereka berdua.
"Itu beneran Arkan? Gak salah nih? Sumpah ini gila!"
"Kak Arkan sama Kak Milan? Cocok banget mereka itu, sama-sama keren,"
"Arkan gue! Itu ngapain sih si Milan di situ segala, mending dia ikut pertukaran pelajar aja deh biar gak deket-deket sama my lovely Arkan,"
"Mari kita lihat, ada permainan apa lagi setelah ini,"
Dan masih banyak lagi yang lain tapi yang jelas Milan merasa terganggu dengan tatapan tajam mereka semua. Melihat Milan yang mulai risih, Arkan tersenyum. Tangannya memegang pergelangan tangan Milan yang membuat para siswi yang meluhat berteriak histeris begitu pula Milan yang ikut terkejut dengan sikap Arkan yang seakan-akan ini bukan laki-laki itu.
"Ayo pulang!" ujarnya yang membuat Milan mengerutkan dahinya, ia semakin tidak mengerti apa yang diinginkan Arkan sekarang. Laki-laki menariknya pergi dari sana, menerobos kerumunan para siswi yang entah sejak kapan sudah sebanyak ini. Dari kejauhan, ketiga sahabat Arkan melihat apa yang dilakukan laki-laki itu bersama Milan. Irgi mengeluarkan permen loli yang sudah lama ia simpan di dalam mulutnya.
"Itu bukan Arkan 'kan?" tanya Irgi pada Endro dan Erland yang berdiri di samping kanan dan kirinya. Erland meremas botol air mineral kosong yang ada di tangannya.
"Bukan kayaknya, Arkan lagi di markas gak sih?" jawab Erland yang membuat Endro mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ternyata masih ada yang lebih bodoh darinya.
Di lain tempat, Arkan dan Milan sudah sampai di parkiran belakang sekolah. Milan melepaskan genggaman tangan Arkan dari pergelangan tangannya. Gadis itu menatap Arkan tajam.
"Lo kenapa sih? Ada masalah sama gue?" tanya Milan to the point. Raut wajah Arkan berubah datar, sorot mata lembut tadi berganti dengan tatapan tajam sekarang.
"Lo yang ada dalam masalah sekarang," ujarnya yang membuat Milan sedikit takut dengan pernyataan Arkan barusan, ditambah lagi dengan nada bicaranya yang membuat Milan merasa teintimidasi.
"Gue gak pernah buat masalah sama lo, kita cuma gak sengaja ketemu, kebetulan," ujarnya yang membuat Arkan tersenyum miring. Ia tidak tahu, gadis di depannya itu memang lugu atau pura-pura bodoh. Tapi tidak mungkin juga gadis sekelas Milan yang sudah menyabet gelas siswi berprestasi itu bisa sepolos ini. Arkan mendekatkan wajahnya dengan wajah Milan.
"Kebetulan yang menyenangkan bisa bermain sama lo, Milan," ujar Arkan.
"Maksud lo?" tanya Milan.
Arkan mendekatkan wajah dengan wajah Milan sampai jarak di antara mereka semakin menipis. Milan bisa merasakan deru napas Arkan yang begitu dekat dengannya. Gadis itu memiliki firasat buruk akan hal itu, ingin pergi tapi rasanya seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa digerakan. Hingga bibir mereka berdua bertemu untuk beberapa detik. Tak lama Arkan menjauhkan wajahnya dari Milan, gadis itu mematung di tempat. Ia tak bisa melepaskan tatapannya dari sepasang manik mata hitam legam milik Arkan. Itu first kissnya dan Arkan mengambilnya dengan mudah seperti itu.
"Itu maksud gue, tutup mulut tentang Markolevi, gue udah pernah bilang 'kan?" ujar Arkan sambil menaikkan kedua alisnya. Tangan Milan mengepal sambil meremas roknya dengan keras.
"Arkan, gila lo! Lo ngapain--" ucapan Milan terjeda ketika Arkan kembali mencium bibirnya untuk yang kedua kali. Milan bisa merasakan jika kemarahannya sekarang siap membuncah lalu menenggelamkan Arkan ke dalam samudera.
"Bibir cantik lo terlalu bagus kalau cuma buat ngomong kata-k********r, hati-hati di jalan ya, gue duluan," Arkan segera memakai helmnya lalu melajukan motornya pergi dari sana. Milan tidak tahu harus berbuat apa sekarang, tapi ia bisa merasakan jika kepalanya ingin meledak.
"Dia ngapain sih? Dasar gila, bastard! First kiss gue," ujarnya bermonolog sendiri seraya memandang Arkan yang melaju membelah udara sore hari ini. Ia salah jika Arkan tidak buruk, nyatanya laki-laki itu sama saja dengan laki-laki pembuat ulah lainnya yang hanya suka bermain-main tanpa menghiraukan perasaan orang lain.
unknow number
*send picture
××