Perlahan kedua matanya terbuka sesaat setelah alarmnya berbunyi. Tangannya bergerak meraih jam weker putih yang ada di atas nakasnya. Seperti biasa ia segera pergi mandi lalu melaksanakan ibadah. Setelah mengenakan seragam dan memoles wajahnya dengan riasan tipis, gorden abu-abu yang menjuntai menutup rapat pintu balkon menarik perhatiannya. Milan mendekat lalu menyilakan gorden tersebut. Pandangannya tertuju pada benda di ujung balkonya. Ia membuka pintu balkon, merasakan jika udara pagi menerpa wajahnya lembut. Mawar pemberian Arkan sengaja tidak ia taruh di taman, ia ingin merawatnya sendiri. “Selamat pagi!” sapanya seraya tersenyum memperhatikan satu persatu bunga tersebut. ia jadi ingat pada Arkan, biasanya laki-laki itu sudah ada di bawah untuk menunggunya tapi kali ini tidak. Ness

