Diketuknya pintu bercat putih dengan malas. Berulang-ulang hingga rasanya ia sudah bosan. Permainan balap mobil di televisi 32 inch miliknya sudah menunggu di kamar tapi kakaknya yang cerewet itu benar-benar tidak tahu diri dengan menganggurkannya di depan pintu seperti ini. Ia pun memutuskan untuk kembali turun ke bawah tapi tiba-tiba pintu itu terbuka. "Ada apa?" Dengan malas ia memutar badannya. Terkadang ia menyesali beberapa tindakannya yang terlalu peduli salah satunya dengan membuka pintu depan tadi. "Ada cowok lo," singkat, padat, dan jelas, jangan lupa jika hanya ekspresi datar yang ada pada wajah Zidan sekarang. Milan mengangguk lalu tersenyum, "oke." Kakaknya itu kembali menutup pintunya. Ini masih jam setengah enam tapi laki-laki di depan rumahnya itu berani mengajak seoran

