Dia Arkan. Semua orang mengenalnya sebagai raja hutan di zaman peradaban dunia abad dua puluh satu, pemimpin bagi sekumpulan manusia pecinta kebenaran yang akan selalu menang di atas kebatilan. Sayangnya itu tak sepenuhnya benar. Dia lebih liar dari itu, lebih berbahaya daripada seekor ular berbisa, bahkan tatapannya jauh lebih tajam dibanding seekor elang.
Terlahir menjadi laki-laki berwajah tampan membuatnya banyak digandrungi kaum hawa di sekolahnya. Katanya Arkan memiliki kharisma yang berbeda dengan tatapan tajamnya. Meski begitu tak sedikit juga yang membenci keberadaan manusia ini di sekolah, khususnya kalangan pengurus OSIS yang benar-benar kalang kabut kalau sudah berurusan dengan Arkan yang bandelnya luar biasa.
Sebenarnya ia tidak pernah menyuruh atau menganjurkan kepada siapapun untuk ikut nakal bersamanya, hanya saja gelarnya menjadi Komandan Markolevi telah membuat dia seolah-olah menjadi presiden di sekolahnya mengalahkan kepala sekolah diposisi pertama. Prinsipnya mudah, nakal lah untuk diri sendiri jangan mengajak orang lain, lakukan itu selagi masih muda karena waktu tidak akan terulang lagi. Tapi ia juga tidak pernah melarang temannya untuk ikut bersamanya karena ia pikir setiap orang memiliki hak asasi manusia.
Meski begitu, Arkan tidak pernah berhubungan dengan perempuan. Baginya hubungan seperti itu hanya dijalin oleh laki-laki yang lemah dan takluk kepada hal yang bahkan tidak ada wujudnya. Perempuan hanya bisa tertawa setiap hari dan merengek manja seperti anak kecil kepada pacarnya. Ia pikir ia tak perlu mengotori hatinya dengan memasukkan orang lain di dalamnya karena ia tidak ingin menjadi lemah hanya karena perempuan. Ia ingin bebas dan menjalani hidup sesuai dengan apa yang ia mau.
"Sudah siap?" tanyanya pada keempat temannya yang berdiri melingkar di bawah remang-remang cahaya lampu. Meja hijau yang tadinya adalah meja bilyard telah diubahnya menjadi meja dengan peta kawasan kekuasaan Meganthara. Dengan serempak keempat temannya mengangguk. Arkan tersenyum, pertempuran akan dimulai sebentar lagi.
Seluruh anak Meganthara berkumpul di markas seperti biasa. Suara knalpot motor yang berderu dengan ditemani teriknya cahaya matahari siang ini membakar semangat mereka menjadi lebih membara. Arkan dengan motor besar berwarna hitamnya memimpin di depan. Ia melirik jam tangan yang ada di pergelangan kirinya, tepat pukul satu siang. Ini waktu yang telah ditunggu-tunggu.
Arkan pun melajukan motornya diikuti segerombol geng bermotor Meganthara di belakangnya. Ia tahu mereka benar tentang kebangsatan dirinya dan teman-temannya tapi nyatanya mereka lebih b*****t dari apa yang telah ia lakukan. Setelah sampai di markas Adhitama. Arkan membagi timnya menjadi dua kelompok. Satu kelompok menjaga di belakang dan satu kelompok lagi menjaga dari samping sementara ia akan masuk dari depan.
Dulunya ini adalah gudang penyimpanan pabrik tepung tapi sekarang berubah menjadi markas Adhitama. Tempat paling ditakuti di seantero kota karena selain angker, anak Adhitama temasuk jajaran anak ternakal dan suka berbuat onar. Sehingga membuat Meganthara dan Adhitama tak pernah akur sejak dulu. Itu karena perbedaan yang sangat jauh dari dua kelompok besar di kota ini.
Arkan membuka pintu besar itu perlahan, ia bisa melihat jika temannya tengah diikat dan ditawan di dalam sana. Ia tersenyum miring lalu bertepuk tangan yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Masih gak mau keluar buat nyambut gue?" tanya Arkan yang membuat seseorang keluar dari balik lemari besar di belakang kursi di mana temannya itu diikat. Wajahnya bengis sama seperti namanya yang sudah pasti memancarkan keburukan untuk orang lain, Andreas.
"Arkan, sang komandan Markolevi lama gak ketemu," sapa Andreas hangat seraya berjalan perlahan menghampiri Arkan. Laki-laki itu tersenyum miring. Andreas benar-benar licik sejak kecil dan sampai sekarang itu masih berlanjut.
"Langsung saja, kedatangan gue ke sini mau tanya sesuatu, kenapa lo tawan temen gue, Endro?" tanya Arkan, Andreas melirik laki-laki yang terikat di kursi tepat di belakangnya.
"Dia gangguin cewek gue," jawabnya sambil tersenyum. Sebangsat-bangsatnya teman Arkan, tidak ada yang pernah merendahkan perempuan apalagi melecehkannya.
"Bener, Eng?" tanya Arkan pada temannya tapi dengan cepat laki-laki itu menggeleng.
"Lihat? Dia gak ngelakuin itu, cewek lo aja yang kegatelan, gue tahu temen gue ganteng," ujarnya sambil tersenyum. Andreas mengepalkan tangannya, ia tahu Andreas bukanlah tipe manusia penyabar melainkan lebih tempreamental. Jadi, akan mudah menyulut amarah laki-laki itu.
"Gak ada maling yang mau ngaku kalau dia maling," ujarnya dengan penuh penekanan. Arkan lagi-lagi tersenyum.
"Sayangnya dia memang bukan maling, lebih baik lo lepasin temen gue karena gue masih memintanya baik-baik, gue gak mau ada pertumpahan darah dan masuk kantor polisi lagi cuma gara-gara dugaan lo tentang Endro yang gangguin cewek lo itu," jelasnya yang membuat tawa Andreas pecah dan menggema di seluruh ruangan.
"Adhitama gak akan melepaskan tawanannya dengan mudah, kalo lo bisa, selamatkan dia sendiri karena tangan gue gak akan menuruti perkataan seorang anak haram," balas Andreas puas melihat Arkan yang mulai kesal. Dua kata terakhir kalimat Andreas barusan adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah ia dengar.
"Gue pastikan lo akan menyesal setelah ini," ujarnya lalu dilayangkannya pukulan telak di wajah Andreas yang membuat laki-laki itu tersungkur ke belakang. Andreas tersenyum ketika menyadari ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Hah anak haram akan selalu menjadi yang terendah setelah sampah," ujarnya sambil tersenyum menatap Arkan. Rahangnya mengeras, Arkan berjalan menghampiri Andreas lalu menarik kerah bajunya. Setelah itu ia kembali melayangkan pukulan tepat diwajah Andreas yang membuat laki-laki itu kembali tersungkur.
"b*****t! Lo gak akan bisa ngubah identitas anak haram lo meski mukulin gue sampai gue mati sekalipun," Andreas benar. Tapi Arkan tak peduli, selama ia masih bisa memukul orang lain ia akan melakukannya meski itu semakin menyakiti dirinya sendiri.
"Gue tahu lo bawa anak buah 'kan di luar? Gue juga udah siapin hadiah buat lo di luar, tenang aja gue tahu bokap lo lebih b*****t dari lo jadi gue maklumi," ujar Andreas yang begitu membuat Arkan seakan ingin mematikannya sekarang juga, tapi ini bukan hal yang bagus. Adhitama juga pandai dalam hal strategi jadi ia harus menuntaskannya sekarang atau tidak sama sekali.
Arkan bersiul menandakan sebuah kode untuk menyerang, tiba-tiba suara perkelahian terdengar dari luar sementara lima orang yang Arkan minta untuk masuk ke dalam tengah bertarung dengan anak Adhitama yang menjaga di dalam markas.
"Lo selamatkan Endro, bawa di ke markas, biar gue sama yang lain menuntaskan dendam hari ini," ujar Irgi sambil menepuk pundak Arkan.
"Semoga berhasil," lrgi mengangguk lalu Arkan segera menyelamatkan Endro yang tengah terikat di kursi. Setelah ia berhasil menyelamatkannya, ia segera membawa Endro pergi dari sini.
"Urusan kita belum selesai, Arkan!" seru Andreas yang tengah bertarung dengan Irgi. Ini memang belum berakhir tapi baru permulaan untuk memulai kembali dendam di masa lalu. Setelah berada di luar, Arkan baru menyadari jika kondisinya sangat tidak kondusif. Anak Adhitama memang terkenal brutal, motornya pun diparkirkan cukup jauh dari sini, sehingga butuh waktu untuk sampai ke sana.
"Makasih, Ar," ujar Endro sambil tersenyum.
"Kewajiban seorang teman adalah membatu teman yang lain," balasnya. Arkan pun segera membawa Endro pergi dari sini. Kawasan gudang penyimpanan tepung memang jauh dari pemukiman dan halamannya dikelilingi oleh pohon-pohon rindang dan besar, boleh jadi seluruh pasukan Adhitama pasti berkumpul di sana.
"Woy mau lari kemana lo!" teriak seorang siswa Adhitama yang berlari mengejarnya bersama kedua temannya. Arkan mempercepat langkahnya menuju tempat motornya diparkirkan tapi bersamaan dengan itu salah satu temannya yang menaiki motor menghadangnya.
"Biar gue bawa Endro," ujarnya sambil menunjuk jok belakangnya dengan dagunya. Arkan mengangguk lalu membantu Endro naik ke atas motor.
"Lo gimana?" tanya Endro khawatir.
"Gampang, bawa dia ke markas," Adit mengangguk lalu segera pergi dari sana. Sementara ketiga anak Adhitama masih mengejarnya, ia segera berlari hingga memasuki pemukiman. Ia tidak begiu hapal jalan di daerah sini karena jauh dari kawasan kekuasaannya. Sehingga sulit baginya terlepas dari pandangan ketiga laki-laki itu.
Sampai ia tak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh. Perempuan itu mengerang lalu mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang laki-laki berseragam sama dengannya tengah kebingungan seperti dikejar sesuatu. Ia segera berdiri lalu membersihkan beberapa butir tanah yang masih menempel di tangan dan roknya.
"Udah tahu gangnya sempit, lari-lari kayak orang dikejar setan, gak minta maaf lagi," protesnya. Arkan memandang perempuan itu, sepertinya dia cerewet dan tak baik juga untuknya berlama-lama di sini. Bukannya ia takut dengan anak Adhitama tapi ia akan lebih bersyukur jika ia tidak terluka oleh apapun hari ini.
"Bacot, minggir!" serunya tak peduli sambil berlari meninggalkan perempuan itu. Namun, dengan cepat tangannya mencekal pergelangan tangan Arkan. Laki-laki itu berbalik tapi pandangannya teralihkan oleh bayangan tiga laki-laki itu di persimpangan. Arkan segera menarik pergelangan gadis itu menuju ruang sempit di sampingnya. Cukup untuk dua orang bersembunyi, tangan milik Arkan membekap mulut perempuan itu sementara posisi mereka berdua berhadapan dan terhitung sangat dekat yang membuat perempuan itu menjadi tak habis pikir karena bisa bertemu dengan laki-laki segila ini.
"b*****t! Kemana Arkan tadi? Padahal nyaris saja kita tangkap dan jadikan tawanan berikutnya," ujar salah seorang yang tidak ia ketahu namanya, Arkan bisa melihat dari sini, ketiga laki-laki itu bingung lalu kembali berlari lurus ke depan. Ia menarik napas lega, paling tidak ia bisa lolos hari ini dan semoga teman-temannya sudah kembali ke markas.
Merasa sudah aman, ia menggigit tangan laki-laki itu yang baunya bahkan mengikat saraf indra penciumannya karena bau rokok.
"Arghh sakit anjing!" serunya lalu melepaskan tangannya dari mulut perempuan itu. Dilihatnya telapak tangan yang memerah dan terdapat bekas gigitan. Perempuan itu segera keluar dari sana karena tidak tahan berbagi oksigen yang sama dengan laki-laki gila itu.
"Lo siapa sih? Pake seragam Meganthara lagi," tanya perempuan itu yang membuat Arkan mengernyikan dahinya dan baru menyadari jika perempuan itu memakai seragam yang sama dengannya. Tapi ia tak peduli, ini hanya kebetulan lagi pula perempuan ini sangat cerewet. Ia tidak menyukainya.
"Bacot, minggir!" ujarnya lalu pergi dari sana meninggalkan perempuan itu sendiri. Ia membalikkan badannya melihat punggung laki-laki itu menghilang di balik tembok. Diam-diam ia tersenyum sambil menggenggam sebuah name tags di tangannya.
"Arkana Axelle, good name but bad behavior."
××