Markolevi. Kata orang gudangnya para laki-laki berwajah tampan dan ahli strategi perang. Namun, bagi Arkan, Markolevi adalah segalanya. Semangat hidup yang sudah habis diberantas oleh ayahnya kini kembali muncul karena Markolevi.
Perkumpulan ini dibentuk kurang lebih delapan tahun yang lalu. Komandan Markolevi adalah gelar yang cukup ditakuti dikalangan siswa Meganthara, bagaimana tidak? Dari semua komandan yang terpilih pasti memiliki beberapa sifat yang sama yaitu kejam, arogan, dan kasar. Tidak perlu hormat jika komandan lewat tapi paling tidak sapalah dengan senyuman yang khidmat.
"Selamat siang teman-teman yang gue cintai," suara Irgi memenuhi markas Markolevi saat ini.
"a***y najis dugong!" sahut Erland yang membuat tawa pecah seketika. Tubuhnya merinding ketika Irgi mengucapkan kalimat sapaan seperti itu. Sementara Arkan yang duduk di sebelah Erland hanya tersenyum kecil.
"Lanjut lanjut," sahut seseorang dari belakang yang menghentikan suara tawa satu ruangan.
"Ah iya terima kasih untuk teman-teman Markolevi yang sudah membantu menyelamatkan Endro kemarin, adakah tambahan dari Kakak Endro?" tanya Irgi pada Endro yang duduk di kursi tengah. Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, meski masih ada lebam di wajahnya ia tidak bisa berhenti tersenyum memandang teman-teman yang begitu ia sayangi itu.
"Gue sangat berterima kasih kepada kalian semua karena udah nyelametin gue kemarin dan sebagai reward, gue traktir makan siang hari ini," ujar Endro sambil tersenyum, bagai mendapat durian runtuh seluruh anggota Markolevi berteriak antusias karena akan mendapatkan makan siang gratis, siapa yang tidak mau coba? Rejeki tidak boleh ditolak, tidak sopan.
"Sepuasnya?" tanya Erland.
Endro mengangguk, "sepuasnya," jawabnya yang membuat seluruh siswa di markas tersebut segera berhamburan keluar menuju kantin. Tersisa lima orang di sanayang merupakan first line Markolevi. Mereka saling memandangi satu sama lain lalu tertawa. Anehnya mereka tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan saat ini. Setelah menyudahi acara tertawa bersama, mereka segera menyusul yang lain pergi ke kantin.
Setibanya di kantin, seluruh pasang mata seakan tak ingin melepaskan pandangannya dari kelima laki-laki itu. Mereka sering diibaratkan sebagai pangeran yang tak tersentuh. Iya, mereka ada dan dekat tapi tidak bisa dijangkau atau dimiliki siapapun. Banyak siswi yang berbisik-bisik dan diam-diam mengagumi lima laki-laki itu. Namun, di antara mereka semua hanya satu siswi yang tidak berpikir demikian.
"Siapa sih mereka? Segitunya ya sampai semua cewek pada ngomongin," tanyanya seraya memperhatikan punggung kelama laki-laki itu yang berjalan menjauh. Dua perempuan yang duduk di sampingnya melempar tatapan sebal. Hanya anak antisosial saja yang tidak tahu mereka siapa.
"Please Milan, they are Markolevi's core troops, you know?" jawab Nessie dengan nada kesalnya yang membuat Milan hanya mengangguk-anggukan kepala. Sebenarnya ia tahu mereka Markolevi dan lima orang berwajah tampan itu adalah intinya, setiap tahun selalu seperti itu. Mustahil jika ia tidak mengerti hal sebesar itu di Meganthara, hanya saja ia ingin mengetes saja.
"Mereka baru aja membebaskan Endro kemarin dari tawanan anak Adhitama, katanya sih kejadiannya gak jauh dari komplek perumahan lo, Mil," jelas Aileen dengan serius. Milan mengernyitkan dahinya setelah menyadari ada sesuatu yang mungkin berhubungan di sini.
"Di antara mereka apa ada yang namanya Arkan?" tanya Milan dengan begitu polosnya. Ia memang terhitung jarang ada di sekolah karena mengikuti banyak kegiatan seperti olimpiade, pertukaran, duta sekolah, dan lain-lain. Jadi meski ia tahu itu adalah anak-anak inti Markolevi, sayang ia tidak mengetahui namanya.
Nessie dan Aileen spontan memincingkan matanya curiga lalu tertawa bersamaan yang membuat seluruh pasang mata tersorot pada mereka. Milan segera memberi isyarat untuk mengecilkan suara tawa itu.
"Gue serius," ucap Milan yang membuat Aileen dan Nessie berhenti tertawa.
"Oke oke sekarang serius, Arkana Axelle, komandan Markolevi yang baru," jelas Ailee dengan penuh pengkhayatan. Nessia mengangguk-anggukkan kepala meyakinkan perkataan Aileen benar.
"Arkan adalah cowok terkeren dan primadona di sekolah ini, tatapannya setajam elang, gak ada satu pun orang yang berani menentang Arkan kalau udah ditatap kayak gitu dan satu lagi, senyumannya itu bikin nagih sumpah, nyesel gue waktu itu lihat cuma sebentar karena dia terhitung jarang senyum, mukanya yang tampan itu sayang banget kalau cuma buat ekspresi serius," tambah Nessie panjang lebar yang membuat Milan makin merasa ketinggalan berita.
"So he is perfect," ucap Nessie dan Aileen bersamaan.
"Kok lo bisa gak tahu dia? Padahal di famous banget, sebelas dua belas sama lo deh," ujar Aileen sembari membayangkan bagaimana gagahnya Arkan ketika berorasi waktu itu.
"Milan lebih sering kencan sama buku tebel makanya jadi kayak orang purba gini," timpal Nessie yang membuat Milan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kalau dipikir-pikir pantas saja saat bertemu dengan laki-laki itu kemarin ia merasa seperti tidak asing. Pasti yang kemarin mengejar Arkan adalah anak Adhitama.
"Katanya, Arkan itu tipe cold badboy yang gak pernah pacaran, untuk tampang secakep dia, bisa juga jadi playboy berkelas, tapi yang ada cewek yang deketin dia malah dipermalukan, ya gak parah banget sih, tapi cukuplah buat dia gak berani nongolin muka di depan Arkan lagi," jelas Nessie yang didengarkan begitu seksama oleh Aileen tapi tidak dengan Milan. Cerita itu terlalu membosankan, lagi pula bagaimana bisa orang bangga dengan sikap buruknya. Tangannya merogoh saku roknya lalu meletakkan sebuah name tags di atas meja yang membuat kedua pasang mata Nassie dan Aileen membelalak sempurna ketika melihatnya.
"Astaghfirullah Milan, temen gue yang cantik sendiri, ini ngapain name tags Arkan ada di lo?" tanya Nessie heboh. Sementara Aileen mengambil name tags tersebut dan dilihatnya dengan teliti.
"Gimana caranya lo bisa dapat name tags dia? Padahal setahu gue Arkan benci banget ada cewek di sekitarnya," tanya Aileen penasaran.
"Ya, kebetulan."
"Lo tahu akibat dari ngambil name tags komandan Markolevi?" tanya Nessie pada Milan yang dijawab dengan gelengan kepala. Apakah ada hukum rimba tentang mengambil name tags seseorang? Milan rasa tidak. Ini hanya sebuah name tags, bukan harga diri.
"Jangan bahas dia lagi deh, lagian itu bukan suatu masalah besar," ujar Milan seraya mengambil name tags milik Arkan dari tangan Nassie dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Nassie dan Aileen saling berpandangan seakan bercakap-cakap melalui bahasa isyarat kedua mata mereka masing-masing.
Milan melihat meja di ujung kantin tempat anak Markolevi berkumpul, samar-sama ia melihat laki-laki yang ia temui kemarin tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang tajam. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
"Udah selesaikan makannya? Balik ke kelas yuk!" ajak Milan, Aileen hanya menarik napas pasrah lalu mengangguk sementara Nessie tersenyum tipis dan mengiyakan ajakan Milan. Sebelum pergi, secara tak sengaja pandangannya membali beradu dengan Arkan dari kejauhan. Benar ucapan Aileen tentang tatapan Arkan setajam Elang, Milan mulai merasa pertemuannya dengan Arkan kemarin bukan hanya sebuah kebetulan.
××
"Kemana name tags kamu?" entah ada apa dengan nasibnya hari ini karena seharian ia selalu terkena semprot. Kali ini Pak Ali sebagai guru sejarah, seringnya dipanggil Prince Ali seperti di film Aladdin. Ia baru menyadari jika name tagsnya hilang setelah kembali ke markas Markolevi kemarin. Ia yakin seratus persen jika sekarang name tagsnya ada di perempuan itu.
"Arkan!" suara bariton Pak Ali sukses membuat semua siswa di kelas terdiam. Arkan hanya mengendikkan bahu tanda tidak tahu. Onto selaku teman seperkongkolan Arkan di kelas merasa prihatin dengan laki-laki itu sekarang.
Arkan bukan tipe orang ceroboh jadi pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Satu hal yang perlu diingat, peraturan penting di Meganthara adalah jangan sampai kehilangan name tags sebagai tanda pengenal identitas, tanpa identitas kamu tidak bisa dikenali. Dan mungkin gadis yang mengambilnya telah melupakan peraturan itu.
"Sekarang berdiri di depan kelas, angkat satu kaki kamu dan pegang dua telinga dengan kedua tangan, cepat!" titahnya. Arkan tidak melakukan pembelaan apapun karena ia sedang tidak begitu fokus hari ini. Entah karena urusan Adhitama yang menantang tawuran atau karena perdebatan panjang antara dia dan ayah kandungnya kemarin.
Arkan pergi ke luar kelas lalu menjalankan hukuman yang diberikan Pak Ali. Tak lama seorang perempuan berjalan menghampirinya, wajahnya tidak asing dengan rambut panjang yang terikat rapi itu.
"Ini name tags lo," ujar Milan lalu memberikan name tags itu pada Arkan dan segera meninggalkannya, tapi dengan cepat Arkan menahan pergelangan gadis itu. Ia menatap kedua manik mata cokelat milik gadis itu.
"Lepasin!"
"Lo tahu akibatnya ngambil name tags gue hmm?" tanya Arkan pada Milan, gadis itu mencoba melepaskan cengkraman tangan Arkan tapi laki-laki itu justru mengeratkannya yang membuat Milan mengeringis kesakitan. Arkan mendekatkan wajahnya pada Milan lalu membisikan sebuah kalimat ditelinganya.
"Gue tunggu di parkiran sepulang sekolah, Milan." Arkan menjauhkan wajahnya lalu melepaskan cengkramannya, ditatapnya perempuan itu kemudian masuk ke dalam kelas seraya memasang kembali name tagsnya.
"Milan Alexandria Thaufan, tidak buruk."
××