Dua cangkir white coffe tak lama datang menjadi teman mereka berdua. Malam itu Lea tidak merasa seperti pengantin baru. Tapi yang ia rasa ia harus menemukan kebenaran.Identitasnya yang asli yang selama ini tersembunyi.Yang menjadi pertanyaan baginya kenapa ia seolah - olah di singkirkan.Alllea seperti di buang begitu saja
"Pertanyaan Opah adalah pertanyaan ku juga. Aku tidak tahu siapa diriku. Bahkan terakhir orang tuaku mengapdosiku aku pun tak ingat. Setiap aku tanyakan dari mana asalku orang tuaku selalu bilang kalau aku adalah anak yatim piatu yang di titipkan di panti asuhan. "Mendengar jawaban Allea Wijaya sedikit tenang. Ia mencoba meneguk kopi hangat di malam hari.
" Minumlah Allea biar kamu sedikit lebih tenang. Aku pun ingin mengatakan sesuatu. "
Mendengar jawaban sang opah Allea sedikit lebih tenang dan seperti mendapat dukungan.Ia merasa lega di balik hidupnya penuh tekanan ia juga merasa menang. Meskipun suami dan mertuanya membencinya.
"Opah apakah di sini ada hantunya? " pertanyaan Lea membuat Opah Wijaya geli.
"Apakah kau sering di ganggu? " Wijaya terkekeh sambil memegang cofinya.
"Tidak, hanya saja aku sering menghadapkan sesuatu. Seperti mimpi tapi kejadian itu sangat terlihat. "
"Aku tidak mengerti mungkin kamu bisa menjelaskan? " pintanya kemudian.
"Semenjak aku tinggal di rumah ini. Aku sering merasakan nyeri kepala yang sangat hebat. Kemudian muncul di fikiranku aku seperti melihat diriku sendiri di masa kecil. Aku di bawa pergi dari rumah ini. Lantas orang tuaku seperti mengalami kecelakaan. "
Deghhh,, , , fikiran Wijaya kemudian berputar pada masa lalu. 20 tahun yang lalu kejadian yang silam di mana ia menyelamatkan seorang anak perempuan. Namun ia kehilangan jejak karena anak tersebut nyaris di lenyapkan. Hingga saat ini pun ia terus mencari si ahli waris tersebut.
"Azuraa,, , di mana kau,, , kaulah pemilik segalanya. kenapa kau menghilang. " Wijaya menitikan air matanya ketika mengingat kejadian masa lampau. Ia merasa gagal menjaga nya.
"Opah kau baik-baik saja? " Lea terheran melihat raut muka Opah Wijaya yang tiba-tiba berubah
"It's ok Lea, aku baik-baik saja. Ada hal yang mungkin harus kamu tahu Lea. Mungkin kamu merasa heran dengan pernikahan ini. "
"Aku tahu hidupku seperti dalam tawanan, pernikahan ku juga mungkin tak akan lama. Setelah mereka mendapatkan apa yang dia inginkan mungkin mereka akan membuangku. "
Wijaya termangu dengan perkataan Lea, ternyata ia tak sebodoh itu. Adi dan widodo saat itu mencari wanita calon istri untuk Aliando. Ia asal mencari saja.Hanya sebagai syarat warisan , mungkin mereka sengaja mencari wanita bodoh yang mudah di tipu daya.
"Allea ternyata kau begitu cerdas tak sebodoh mereka fikirkan.Ada suatu hal yang perlu kamu tahu. Aku memang mengajukan syarat warisan yaitu Aliando harus menikah. Baru warisan ini akan aku wariskan. Hanya saja perlu kau tahu kekayaan ini hanya titipan. Mungkin suatu hari pemiliknya datang mengambilnya. "
"Siapa itu Opah? ".
" Aku belum bisa mengatakan nya Allea. Tapi aku cukup bersyukur bisa bertemu denganmu. Aku yakin kamu orang baik dan amanat. Aliando sudah terbiasa hidup berkecukupan. Jika kekayaan ini kembali pada pemiliknya. Apa yang akan terjadi pada Aliando aku tak bisa membayangkan. Jadi tolong apa pun yang terjadi jangan tinggalkan cucuku. "Wijaya berucap panjang lebar perihal pernikahan itu.Ia tidak menyadari keberadaan seseorang yang sedang ia hadapi.
" Tapi dia tidak mencintaiku. "Ucap Lea putus asa.
" Jodoh itu karena takdir Lea, bukan karena cinta. Dan terkadang kita tidak bisa memilih takdir tuhan,".
Lea seperti di beri tugas yang belum beres oleh Wijaya. Belum juga terungkap siapa dirinya sebenarnya ia harus mengalami hal yang rumit di keluarga Wijaya.
Malam itu, Allea tidak bisa tidur. Surat misterius itu tergeletak di meja, dan pikirannya penuh dengan pertanyaan.
Siapa yang tahu tentang dirinya? Apa maksud "siapa dirimu yang sebenarnya"?
Pagi harinya, ia duduk di meja makan bersama keluarga suaminya. Hanya kakek mertua yang tersenyum hangat padanya, sementara yang lain menatapnya dengan tatapan tajam, terutama ibu mertuanya.
"Jangan berharap banyak dalam keluarga ini, Allea," suara ibu mertua terdengar dingin.Tapannya yang sinis penuh kebencian, ia tidak sadar dengan hadirnya Allea. Bukannya berterimakasih tapi justru ia ingin melentapkannya. "Kau hanya ada di sini karena perjanjian."
"Perjanjian?" Allea mengernyit. Setiap kata yang di ucapkan menjadi teka-teki baginya yang harus di pecahkan.
Aliando yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Jangan terlalu ingin tahu. Itu tidak akan mengubah keadaan."
Semakin banyak yang disembunyikan darinya, semakin kuat rasa curiga Allea. Tapi ia harus berhati-hati.
Malam itu, sesuai instruksi di surat, Allea pergi ke tempat yang disebutkan: "sebuah rumah tua yang tersembunyi di pinggiran kota".Ia pun berjalan menyusuri gelapnya malam.Pada akhirnya sampai pada tujuan yang ia tuju.
Pintu berderit saat ia membukanya, dan di dalam, seseorang sudah menunggu.
"Lama tak berjumpa, Allea."
Allea menegang. Suara itu… familiar.
Dia mengenalinya.
Sementara itu Aliando masih bersama Smith di rumah Smith. "Jadi bagaimana menurutmu Smith? Apa mungkin Alea adalah Azura teman kecilku? "Ternyata di balik diamnya Aliando ia juga sebenarnya sedang mencari kebenarannya tentang Allea.
" Ini permasalahan yang cukup rumit tuan, Azura tiba-tiba menghilang ia seperti di sembunyikan. Seandainya Ayah masih ada mungkin dia banyak tahu masalah ini. Karena dulu Ayahku adalah asisten keluarga besar Azura. "
Kata Smith sambil menikmati camilan yang di suguhkan ibunya.
"Tunggu dulu apakah kau membahas gadis kecil yang hilang 20 tahun yang lalu? "Tiba-tiba ibunya Smith datang bergabung obrolan hangat mereka.
" Ibu mungkin tahu satu hal, tetang itu. "Smith semakin antusias mendengar jawabannya.
" Keluarga Azura adalah keluarga yang akan di musnahkan seseorang. Padahal dia adalah sahabatnya sendiri. Dulu ibu pernah menyuruh ayahmu agar membawanya pergi anak itu. Karena kehadiran anak itu menjadi ancaman di kehidupan kami.
"Mungkin ibu tahu atau masih ingat kejadian sebenarnya? " Smith semakin penasaran, maka tak heran jika Aliando menjadikannya detektif karena ia sering memecahkan beberapa kasus misteri.
"Bagaimana kalau kita langsung mencari ke tiap panti asuhan di semua panti di kota ini. "
Aliando bukan tyve bos pesuruh terkadang ia juga sendiri yang harus terjun ke lapangan. Smith terkadang benar-benar asisten yang hanya bisa menemani.Siang dan malam ia mencoba mencari jejak tapi hasilnya nihil. Hingga ia menemukan yang tak semestinya ia cari.
"Kalau nama Azura,,, sepertinya tidak ada.Ada jua Allea shanum. " Kata ibu panti..
"Istrimu? " Ucap Smith.
"Itu tidak penting".Bisik Aliando,, ,
" Tapi saya tidak tahu sekarang nasibnya Allea, dia anak yang baik.Sejak kecil ia mengalami amnesia, dia benar-benar kehilangan identitasnya. "
"Allea,, , ? Siapa orang yang menitipkannya? mungkin anda tahu ciri-cirinya seperti apa?" Smith semakin antusias, pada permasalahannya. Ia fikir Allea dan Azura seperti nama yang berdekatan. Ini sangat mencurigakan, dan masalah ini sangat gajil.
"Bertubuh tinggi, mengenakan topi bulat. "
Ujar ibu panti..
"Ayah,, , , ".
Apakah orang itu adalah Ayahnya Smith??
"