BAB 18(b)

1515 Kata
Tubuh Rara lemas setelah menangis lama. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang karena tidak sanggup lagi jika harus mengikuti kelas dan memaksa otaknya untuk berpikir. Awalnya, Satria menawarkan diri untuk mengantar Rara pulang, tetapi gadis itu menolak. Ia lebih memilih menghubungi kakaknya agar menjemputnya. Rizky datang dengan wajah cemas ketika Rara menghubunginya. Ia melihat adik kesayangannya itu tengah tertidur di ruang kesehatan dengan wajah pias. "Rara kelelahan jadi saya membawanya ke sini." Rizky mengalihkan pandangannya kepada satu-satunya orang yang ada di sana. Ia tidak mau membuat keributan di sekolah adiknya, jadi ia berusaha mengabaikan orang itu. "Rara baru saja tertidur setelah minum obat sakit kepala dari dokter sekolah." "Terima kasih." Mau tak mau Rizky mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Satria yang telah membantu. Tanpa banyak bicara lagi, Rizky menggendong Rara tanpa berniat untuk membangunkannya. Satria membantu membawakan tas Rara dalam diam. Pria bersurai hitam itu menatap kepergian mobil Rizky yang membawa Rara, lantas melangkahkan kakinya kembali kelas dengan perasaan campur aduk. *** Setelah hampir setengah hari Rara tertidur karena obat, Rara merasa malam ini ia tidak akan bisa memejamkan mata lagi. Hari sudah malam, tetapi gadis bermata bulat itu masih terlihat sibuk dengan buku-buku yang berserakan di meja belajarnya. Setelah bangun tadi, Rara bertanya soal pelajaran hari ini kepada Kira. Ia tak henti-hentinya mengutuk kebodohannya sendiri karena meninggalkan pelajaran hingga membuatnya tertinggal banyak. Tugas-tugas yang diberikan hari ini juga tak kalah banyak. Mau tak mau, Rara harus menyelesaikan semua jika tak ingin mendapat amukan dari guru-gurunya. Tengah malam sudah terlewat beberapa menit tetapi Rara masih betah memandangi buku tugasnya. Kepalanya serasa mau pecah menghadapi soal-soal Fisika yang sama sekali tidak ia mengerti. Rara kembali menyalahkan dirinya yang tidak masuk selama seminggu dulu hingga tertinggal banyak. Rara hampir frustrasi ketika mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Rara menoleh sebentar lantas kembali menekuni bukunya. "Kenapa belum tidur? Seharusnya kamu banyak istirahat." "Belum ngantuk karena tadi sudah tidur seharian," jawab Rara tanpa mengalihkan pandangannya. "Kak Rizky juga. Ngapain ke sini? Enggak tidur?" Rizky tersenyum lantas mengusak rambut Rara sebelum duduk di pinggir tempat tidur adiknya yang berhadapan langsung dengan meja belajar. "Bukan tidur seharian," ralat Rizky. "Bisa dikatakan kamu pingsan seharian dan membuat semua orang panik." "Rara enggak pingsan," bantah Rara yang kini telah beralih menatap kakak pertamanya itu. "Iya, deh. Enggak pingsan," ujar Rizky mengalah. "Istirahatlah. Mereka semua mencemaskanmu. Jika saja tidak Kakak larang, mereka semua akan masuk dan memaksamu tidur." Rara menautkan alisnya. "Mereka?" "Mama dan Laila," jawab Rizky mantap. "Sejak tadi mereka sudah gelisah karena lampu kamarmu masih menyala. Rara menghela napas kasar. "Rara belajar, Kak. Bukannya main-main. Lagian, Rara enggak bisa tidur. Mending melakukan sesuatu yang berguna." Rizky melirik buku Rara yang masih bersih dari coretan. "Belajar apa? Masih bersih gitu bukunya?" Rara sedikit gugup. Tidak mungkin ia mengatakan kepada kakaknya itu jika ia tidak bisa mengerjakan soal-soal ini sama sekali. Bisa-bisa Rara mendapatkan ceramah gratis lagi. "Fisika. Kakak bisa lihat sendiri, kan?" "Ya sudah, lanjutkan saja. Kakak akan di sini sampai kamu selesai," ujar Rizky final tanpa bisa dibantah lagi. Rizky terlihat mengambil salah satu buku Biologi Rara yang tergeletak di meja lantas membacanya. Rara pun kembali menekuni soal-soal Fisikanya. Setelah beberapa menit berlalu, Rizky terlihat selesai dengan bacaannya lantas melihat pekerjaan adiknya. Alisnya bertaut ketika buku tugas adiknya itu masih bersih dari coretan. Dia sangat tahu kemampuan adik-adiknya. Meski kemampuan Rara sangat jauh di bawah saudaranya yang lain, semangat belajar Rara patut diacungi jempol. Mendapat peringkat dua di sekolah adalah bukti kesungguhan Rara. Melihat usaha Rara sampai sejauh ini terus terang membuat Rizky cemas. Demi peringkat dan pengakuan dari semua orang, adiknya harus berjuang mati-matian. Ditambah persaingan konyolnya dengan Kenzo Adams, membuat Rizky semakin cemas. "Mau kakak bantu?" tawar Rizky karena merasa prihatin dengan adiknya. "Enggak usah, Kak. Rara bisa sendiri," tolak Rara halus. Rizky membuang napasnya asal. Ia tahu adiknya akan menolaknya, tetapi ia tak menyerah. Rizky menarik kursi rias Rara agar ia bisa lebih dekat dengan meja belajar Rara. Meski merasa menampakkan gelagat tak sukanya, Rizky acuh saja dan tetap ikut membaca soal-soal di hadapan Rara. "Ini sangat mudah," gumam Rizky tak sadar. "Bagian mana yang kamu enggak ngerti?" Mendengar kakaknya berkata bahwa soalnya mudah membuat Rara ingin menangis. Ia langsung sadar di mana posisinya. Di dalam keluarga, memang Raralah yang paling payah. Meski mendapat peringkat dua di sekolah, Rara tetap kalah jauh dari saudara-saudaranya. Jika Rara tidak berusaha mati-matian seperti sekarang, Rara tidak akan mampu sampai pada posisi ini. Merasa Rara hanya diam saja, Rizky mengalihkan perhatiannya. Ia menatap Rara yang masih bergeming. Pada akhirnya Rizky mengutuk bibirnya yang telah sembarangan bicara setelah melihat mata adiknya mulai berkaca-kaca. "Maafkan Kakak, ya," ujar Rizky merasa bersalah. Rara menggelengkan kepala lantas mengusap matanya yang berembun. "Rara yang seharusnya minta maaf karena merepotkan." "Hei, jangan bilang seperti itu," bantah Rizky lembut. "Kakak sama sekali enggak merasa direpotkan." Rara kembali mengusap air matanya. "Terima kasih." Rizky tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Rara. Ia lantas mengusap lembut rambut Rara yang sudah semakin memanjang itu. "Bagian mana yang kurang jelas?" ujar Rizky mengembalikan topik. "Kakak akan bantu." "Semuanya," ujar Rara malu dengan suara lirih. Rizky tersenyum mendengar pengakuan adiknya itu. Setidaknya Rara tidak menolak bantuan Rizky kali ini. "Ayo, kita selesaikan biar kamu bisa segera istirahat." Rara menganggukkan kepalanya, setuju dengan Rizky. Gadis itu mendengarkan penjelasan Rizky dengan seksama. Penjelasan kakaknya yang mudah dimengerti membuat Rara cepat menangkap maksudnya. "Sudah jam tiga, Kakak rasa ini sudah cukup," ujar Rizky mengakhiri pelajarannya. "Kamu harus istirahat." Rara menganggukkan kepalanya lantas tersenyum tipis kepada kakaknya itu. "Terima kasih, Kak," ujar Rara tulus. Kak Rizky mengacak rambut Rara. "Masalah enggak akan selesai kalau dihadapi sendiri. Mintalah bantuan kepada kami. Kami keluargamu, kami akan berusaha membantu sekuat tenaga. Jangan merasa sendiri. Hal itu justru membuat hati kami terluka." Mata Rara kembali berkaca-kaca, merasa bersalah kepada keluarganya. Rizky hanya tersenyum maklum melihat sikap adiknya itu. "Tidurlah," ujar Rizky yang dijawab Rara dengan anggukan kepala. Rizky lantas meninggalkan kamar adiknya yang terletak tepat di depan kamarnya. Pria berlesung pipi itu memasuki kamarnya sendiri setelah memastikan lampu kamar Rara padam yang menandakan bahwa adiknya sudah tidur. *** Rara menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang, mencoba mengejawantahkan segala hal yang akhir-akhir ini mengganggunya. Setelah kepergian Rizky semalam, Rara benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Ia hanya mematikan lampu kamarnya agar kakak pertamanya itu pergi dari depan kamarnya. Rara menghela napasnya lelah. Ia alihkan pandangannya ke jendela yang tirainya sedikit tersibak. Mentari nampaknya sudah merangkak naik. Rara harus segera keluar dari kamar jika tidak ingin salah satu anggota keluarganya datang dan menampakkan wajah cemas yang berlebihan. Membayangkan itu saja membuat Rara bergidik. Sebenarnya Rara masih malas dan ingin bergelung di bawah selimutnya seharian. Namun, bayangan perlakuan keluarganya yang akan memperlakukannya layaknya pesakitan, membuatnya ngeri. Ia pun bergegas mempersiapkan diri sebelum bayangan buruknya menjadi kenyataan. Rara menghentikan langkahnya saat akan memasuki ruang makan. Alisnya hampir bertaut ketika melihat seluruh anggota keluarganya sudah lengkap di sana. Papa dan Aidan pun duduk manis di tempatnya. "Pagi, Cantik ...." Rara mendengkus tidak suka ketika Aidan menyapanya. Kakaknya itu memang berlebihan. "Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Rara dingin setelah mendudukkan diri di kursinya. Aidan menghentikan kunyahannya lalu menatap heran kepada Rara. "Sarapan. Kamu enggak lihat kita semua sedang di meja makan dengan makanan yang menggugah selera buatan Mama?" Rara menghela napasnya kasar. "Terserah, deh," ujar Rara malas. "Papa dan Aidan baru pulang subuh tadi," ujar Mama menengahi karena gemas melihat Aidan yang terus menggoda Rara. Rara menganggukkan kepalanya. "Pantas subuh tadi Rara mendengar suara mobil di depan." Ucapan Rara menghentikan semua aktivitas di meja makan. Semua mata kini tertuju kepada Rara yang nampaknya tidak sadar dengan ucapannya tadi. "Kamu mendengar suara mobil Papa?" tanya Rizky cemas. Rara yang masih tidak paham pun hanya menganggukkan kepalanya membenarkan. "Jam berapa kamu tidur setelah kita selesai belajar? Atau kamu memang tidak tidur?" tuntut Rizky. Kini Rara baru menyadari kesalahannya. Dengan mengatakan bahwa ia mendengar suara mobil papanya, berarti Rara telah membuka kebohongannya sendiri. "Kamu tidak tidur, Ra?" tanya Mama lembut. Rara yang merasa terpojokkan pun hanya menganggukkan kepalanya. "Apa yang kamu lakukan, Ra? Bukankah kakak sudah menyuruhmu istirahat?" Rizky terlihat frustrasi. "Maaf," ujar Rara lirih sembari menundukkan kepala. Pandangannya mulai buram karena air mata. Terkadang Rara mengutuk dirinya yang sekarang tidak bisa mengendalikan air matanya. "Sudahlah," ujar Papa menengahi. "Sebenarnya Papa dan Mama merencanakan ini semua. Papa ingin kita semua berkumpul untuk membicarakan hal yang penting." Semua mata kini beralih kepada sang kepala keluarga. Papa yang masih terlihat tampan di usianya yang tak muda lagi itu, kini sangat serius. Mama terlihat menahan napasnya, Aidan terlihat hampir melontarkan keberatan, sedangkan Rizky terlihat tenang meski wajahnya menunjukkan kecemasan. Papa kini mengalihkan pandangannya kepada Rara dan Laila, dua termuda di antara mereka. "Kalian tidak usah ke sekolah," ujar Papa tegas. "Papa dan Mama sudah sepakat dengan ini." "Aidan menolak," ujar Aidan keras. Rara dan Laila yang tidak paham arah pembicaraan ini pun hanya diam, tanpa ingin menyela sedikit pun. Tatapan Papa tajam, pertanda tak ingin dibantah. "Kita sudah sepakat," putus Papa tegas, pertanda tidak mau dibantah atau disela siapa pun. "Ini tentang sebuah rahasia yang kami simpan selama ini. Sebuah rahasia tentang jati diri Rara." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN