BAB 19

1112 Kata
Ruang baca terasa mencekam karena keheningan yang memuakkan. Mama dan Papa tampak menggenggam tangan satu sama lain, berusaha saling menyalurkan kekuatan. Aidan memilih duduk di sofa yang paling jauh. Meski diam, wajah Aidan tidak bisa berbohong. Ia yang paling tidak setuju dengan ide gila orang tuanya ini. Rizky—kakak tertua—dan Laila terlihat duduk mengapit Rara sembari menggenggam tangan gadis bermata bulat itu. Semua tampak sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Papa mulai membuka suara. "Papa tahu, apa yang akan papa sampaikan ini akan terasa mengejutkan. Apalagi bagi Rara dan Laila yang baru pertama kali mendengarnya. Tapi..." Papa terlihat menghela napasnya. "Mau tidak mau, suka tidak suka, Papa harus mengatakan semuanya." Hening lagi. Semua seperti menahan napas menunggu Papa memulai ceritanya. Aidan yang sejak tadi kelihatan tak tertarik, mulai menegakkan duduknya. Pandangannya tertuju kepada Rara yang sejak tadi menundukkan wajahnya. Ia tahu jika adik kesayangannya itu, kini tengah berperang dengan perasaannya sendiri, menguatkan hati. Rara tidak sekuat kelihatannya. Gadis itu mudah rapuh dan jatuh. "Malam empat belas tahun lalu, Papa menggendong seorang gadis kecil yang tengah terlelap," ujar Papa memulai kisahnya. "Papa membawanya masuk ke rumah kemudian menidurkannya di samping Laila yang baru berusia setahun. Meski malam itu hujan deras dengan petir yang menyambar-nyambar, Rara kecil sangat tenang dalam tidurnya." Semua mata tertuju kepada Rara. Mata gadis itu mulai berkabut dan bahunya sedikit bergetar. Rizky yang merasakan hal itu langsung memeluk bahu adiknya, mencoba memberi isyarat bahwa ia ada di sana untuk menguatkan. "Seperti hari ini, malam itu kita berkumpul di sini. Hanya ada Papa, Mama, Rizky, dan Aidan. Malam itu Papa bersumpah bahwa Rara adalah bagian dari keluarga ini, putri ketiga kami, adik dari Rizky dan Aidan, serta kakak dari Laila. Tidak boleh ada yang membantah atau mengusiknya karena Papa dan Mama akan menjadi orang pertama yang akan melindunginya." Mama terisak pelan. Wanita paruh baya itu tidak kuat jika harus diingatkan lagi dengan masa lalu yang sangat tragis itu. Papa terlihat mencoba menenangkan wanita nomor satu di rumah itu, dengan rengkuhan lembut. Papa harus kuat untuk melanjutkan semuanya. "Malam itu Papa hanya mengatakan kepada Rizky dan Aidan bahwa ada orang jahat yang berusaha melukai Rara kecil. Papa belum berani mengatakan yang sebenarnya mengingat Rizky dan Aidan belum cukup umur untuk memahami semua itu." Merasa namanya disebut, Rizky dan Aidan sedikit tersentak. Mereka penasaran dengan rahasia yang selama ini orang tuanya sembunyikan. Selama ini, Rizky hanya tahu jika orang jahat yang berusaha melukai Rara sudah menerima hukuman yang setimpal. Ia sama sekali tidak tahu penyebab orang itu ingin melukai Rara. Ia dan Aidan juga tidak pernah berpikir sampai ke sana. Papa menghela napasnya sejenak. "Orang tua kandung Rara adalah sahabat baik Papa dan Mama. Mereka menikah karena cinta yang dalam meski tanpa restu." Mama terlihat mengusap matanya yang basah. Hal serupa juga dilakukan oleh Rara. Semua nampak terdiam, menunggu sang kepala keluarga melanjutkan kisahnya. "Meski terlahir dari keluarga pengacara yang memiliki firma hukum besar, ayah Rara tidak serta merta mau menjadi seorang pengacara. Dia memilih menjadi jaksa yang risiko pekerjaannya jauh lebih berbahaya. Papa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga ayah Rara. Yang kita tahu selanjutnya hanya ia akhirnya keluar dari rumah keluarganya, menikah dengan ibu Rara, lantas tinggal di rumah sederhana yang letaknya jauh di pinggiran kota." Papa menjeda ceritanya, memastikan bahwa yang ada di sana mengerti. "Butuh bertahun-tahun hingga mereka bisa mendapatkan putri secantik Rara. Kehidupan mereka sangat bahagia hingga Rara berusia tiga tahun." Papa menjeda ceritanya sejenak, menghela napas panjang. "Malam itu, empat belas tahun lalu, menjadi malapetaka bagi keluarga kecil Rara. Papa terkejut ketika mendapat kabar bahwa beberapa orang telah menerobos masuk ke rumah mereka dan mengakibatkan terbunuhnya kedua orang tua Rara." Air mata Rara semakin deras. Meski tanpa isakan, semua yang di sana tahu jika Rara sangat terpukul mendengar semua itu. Melihat itu, Aidan mendekat kepada adik kesayangannya itu. Ingin rasanya Aidan berteriak agar papanya tidak melanjutkan kisah tragis itu, tetapi ia sadar jika Rara memang berhak mengetahui kebenaran jati dirinya. "Polisi menemukan kedua orang tua Rara yang sudah tak bernyawa, tergeletak begitu saja di ruang tamu. Awalnya para polisi bingung karena tidak menemukan Rara di rumah itu. Setelah dicari, Rara kecil ternyata berada di sebuah lemari rahasia di ruang baca dan sudah tak sadarkan diri. Rara segera dilarikan ke rumah sakit. Meski tidak ada satu pun luka, keadaan Rara tetap saja membuat kami semua cemas. Benar saja, setelah sadar, Rara histeris dan berusaha melukai dirinya sendiri," ujar Papa pilu. Meski tidak pernah ia katakan, Papa sedih dan terpukul ketika harus mengingat malam nahas itu. "Rara tertidur lagi karena obat penenang yang diberikan dokter. Namun, ketika Rara terbangun, dia melupakan semua kejadian yang baru saja dialaminya. Ia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Polisi menjadi kesulitan karena Rara adalah satu-satunya saksi mata kejadian itu." Tidak ada yang menyela. Mereka merasakan kesedihan yang sama meski tanpa diucapkan sekali pun. "Papa dan Mama yang tidak tega melihat Rara dan mencemaskan masa depannya, akhirnya memutuskan untuk menutup rapat kasus itu dan memberikan identitas baru kepada Rara." Papa masih terlihat tegar meski matanya sudah memerah sejak tadi. "Pihak kepolisian masih melanjutkan penyelidikan tanpa melibatkan Rara. Mereka curiga dengan kasus terakhir yang ditangani ayah Rara. Kasus pencucian uang yang melibatkan beberapa pejabat dan konglomerat sangat ramai diperbincangkan saat itu. Penyelidikan mereka mengarah pada satu nama pengusaha terkenal tetapi kasus itu harus dihentikan karena kurangnya bukti. Namun, beberapa tahun lalu, Papa mendengar jika ia berhasil dijebloskan ke penjara karena kasus yang berbeda. Karena bukti-bukti sudah banyak, akhirnya ia mendekam di dalam jeruji besi untuk waktu yang sangat lama." "Cukup!" ujar Aidan sedikit tercekat. Ia lantas meraih jemari Rara yang terasa dingin. Aidan menatap adiknya yang bersimbah air mata itu dengan nanap. "Ra ...." "Kak, bagaimana ini? Rara bukan adiknya Kak Aidan. Rara bukan anaknya Mama. Rara tidak punya siapa-siapa. Rara sebatang kara di dunia ini. Rara—" Aidan merengkuh tubuh gadis tujuh belas tahun itu lantas memeluknya erat. Pecahlah tangis Rara yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga. Isakan gadis bermata bulat itu terdengar pilu. Mama yang juga sudah tidak tahan juga menjatuhkan diri ke dalam d**a bidang sang suami. Wanita paruh baya yang selama ini mencoba tegar demi putra-putrinya, kini menampakkan sisi rapuhnya. "Rara enggak boleh bicara seperti itu," tolak Aidan sembari mengeratkan pelukannya. "Kakak adalah kakaknya Rara. Begitu pula Kak Rizky dan Laila. Mereka adalah keluargamu, kami adalah keluargamu. Kenapa kamu tega mengatakan hal itu? Tolong jangan jadikan kami orang asing. Kakak enggak akan bisa menanggung kesedihan itu jika kamu pergi dari kami." Rara menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Aidan. "Kakak ... Kakak ...," racau Rara dalam tangisnya. Semuanya terdiam. Mereka hanya bisa menatap sendu Rara yang tengah menangis pilu. Semua hati tengah terluka dan berduka sekarang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN