BAB 19(b)

1089 Kata
Cukup lama Rara menumpahkan air matanya dan mengeluarkan semua sesak di dadanya. Setelah merasa sedikit tenang, Rara keluar dari rengkuhan Aidan. Meski wajahnya masih terlihat sembab dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, Rara menatap keluarganya satu per satu. Keadaan mereka hampir hampir sama dengan mata sembab karena air mata. Pandangan Rara berhenti kepada sang kepala keluarga—pria tegas yang selama ini ia yakini sebagai papanya. Mata mereka saling bertemu, saling meresapi perasaan. "Pa, bolehkah Rara mengunjungi rumah lama Rara?" "Enggak boleh," jawab Aidan cepat yang membuat Rara mengerutkan dahinya. "Papa akan antar," jawab Papa yang langsung mendapat protes dari Aidan. "Pa—" "Rara berhak tahu semuanya," potong Papa cepat sebelum Aidan melontarkan keberatannya lagi. "Kita sudah sepakat dengan hal ini. Papa mohon ... jangan egois." Rizky yang paling dewasa di antara adik-adiknya, mengusap pundak Aidan. Ia berusaha menurunkan ketegangan dan amarah Aidan. Rizky sangat tahu sifat Aidan yang mudah meledak-ledak itu. Sejak melihat Rara empat belas tahun lalu, Rizky tahu bahwa Aidan sangat tertarik dan menyayangi balita lucu dengan rambut sedikit ikal itu. Seiring berjalannya waktu, Aidan memang jauh lebih dekat dengan Rara dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Untuk itu, Rizky paham dengan penolakan yang dilontarkan Aidan sekarang. Namun, benar kata papanya. Sudah saatnya Rara tahu semua kebenarannya. Mereka tidak boleh egois dengan menyimpan semua rahasia yang berhak Rara ketahui. Aidan paham maksud sentuhan kakaknya. Akhirnya ia mengalah dengan menghela napas panjang. "Baiklah. Selama Rara berjanji akan baik-baik saja." Rara menatap kakak keduanya itu. Senyumnya sedikit terkembang dari bibirnya meski jejak air mata belum sepenuhnya hilang. Ia tengah berusaha meyakinkan kakak dan semua yang ada di sana bahwa ia baik-baik saja. *** Satu jam terasa seperti satu abad. Rara gelisah sejak memasuki mobil yang akan membawa ke rumah lama keluarga kandungnya. Jantungnya berdetak tak karuan karena gugup. Rara memilih menyandarkan kepalanya di bahu Mama, mencoba mencari ketenangan di sana. Mama seolah paham maksud putrinya itu. Ia pun hanya memberikan usapan lembut di tangan Rara tanpa suara, menyalurkan kekuatan tak kasat mata untuk putri kesayangannya itu. Setelah hampir dua jam berkendara dari pusat kota, sampailah mereka di sebuah rumah sederhana dengan pagar tanaman hidup. Rumah satu lantai dengan gaya kolonial itu terlihat asri dengan halaman luas dan bunga-bunga yang tertata rapi. Meski sudah lama tak dihuni, rumah itu masih terlihat rapi dan terawat. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang akan mengantarkan ke depan pintu utama rumah. "Papa sengaja membayar orang untuk merawat taman serta rumah ini. Papa pikir, rumah ini adalah satu-satunya peninggalan ayah Rara yang harus dijaga," ujar Papa seolah paham dengan apa yang dipikirkan keluarganya. Mata Rara kembali memanas mendengar penuturan papanya itu. Rara merasa telah terlalu banyak berhutang budi kepada keluarga ini. Lingkungan rumah lama Rara memang sedikit sepi. Sejauh mata memandang, hanya ada beberapa rumah dengan gaya yang sama. Suasananya sangat sunyi. Pantas saja ketika malam nahas itu terjadi, tidak ada saksi mata yang melihat. "Masuklah." Papa membuka pintu utama rumah itu lantas melangkahkan kakinya terlebih dahulu memasuki rumah tua itu. Pemandangan pertama yang ditangkap mereka adalah sebuah ruang tamu luas dengan beberapa kain putih yang menutupi sebagian besar perabot. Rara mengedarkan pandangannya. Ia merasa tak asing dengan semua ini. Matanya mulai berembun menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Meski ada sedikit ketakutan di dalam hatinya, ia berusaha menguatkan diri. Ia melangkahkan kakinya menyusuri ruangan itu hingga langkahnya terhenti di depan sebuah piano tua yang tertutup kain putih. Rara menyingkap kain yang menutupi piano itu. Rara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika suara-suara asing mulai terngiang di kepalanya. "Bagaimana? Rara suka?" Seorang wanita cantik bersurai hitam panjang bertanya kepada seorang anak kecil bertubuh gempal dengan rambut berkepang dua. Anak itu terlihat senang dengan menepukkan kedua tangannya. "Ibu memang hebat. Rara ingin bisa bermain piano seperti itu." "Benarkah? Sini Ibu ajari." Rara meremas kepalanya. Rasanya, seperti ada sebuah batu besar yang tiba-tiba menghantam kepalanya. Mimpi-mimpi buruk yang sering mengganggunya ternyata berasal dari ingatan masa lalu. Rumah ini, ruangan, serta piano yang ada di hadapannya selalu muncul dalam mimpinya. Merasa ada yang aneh dengan Rara, Aidan berjalan mendekati adik kesayangannya itu. "Kenapa, Ra? Kamu sakit?" tanya Aidan cemas. Ia melihat wajah Rara sedikit pucat dengan keringat yang terlihat jelas. Rara menggelengkan kepalanya lantas melemparkan senyuman tipis kepada Aidan. "Enggak apa-apa, Kak. Hanya sedikit pusing saja." "Sebaiknya kita pulang saja," putus Aidan sepihak. "Kita bisa ke sini lain waktu." Rara menolak ketika Aidan hendak menuntunnya. "Sebentar, Kak." Suara lirih Rara tidak bisa meyakinkan siapa pun. Semua yang ada di sana terlihat sudah sangat cemas dengan gadis tujuh belas tahun itu. "Tolong biarkan Rara memastikan sesuatu sebelum pergi." Melihat wajah sendu Rara membuat semuanya tak berani menolak atau membantah keinginannya. Akhirnya mereka hanya mengikuti kemana pun kaki Rara melangkah. Rara memasuki sebuah ruangan yang letaknya sedikit jauh dari ruang depan. Ruangan itu dikelilingi rak yang penuh dengan buku. Sebuah jam besar menggantung di salah satu dinding yang bercat hijau itu. Kepala Rara semakin berat dan pandangannya mulai mengabur tetapi ia masih berusaha menegakkan langkahnya. Rara mendekati sebuah lemari kecil di sudut ruangan yang tersamarkan oleh guci besar. Rara melihat dirinya meringkuk di dalam lemari itu, menatap ibunya dengan linangan air mata. "Rara tetap di sini, ya." "Ibu jangan tinggalkan Rara sendirian. Rara takut." Ibu menggelengkan kepalanya meski air matanya juga sudah menganak sungai. "Rara anak yang kuat. Berjanjilah kepada ibu. Apa pun yang nanti Rara dengar, jangan keluar dari lemari ini." Suara petir terdengar bersahutan, membuat Rara semakin mengeratkan genggaman tangannya kepada sang ibu. "Rara ikut Ibu," mohon Rara. "Anak baik harus menuruti ucapan ibu," ujar ibu Rara lembut mencoba menenangkan putrinya. "Ibu dan Ayah mencintai Rara. Rara percaya, kan?" Rara kecil hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Ibu merogoh saku roknya, kemudian mengeluarkan sebuah benda persegi panjang kecil berwarna biru. Ibu memberikan benda itu kepada Rara dengan tersenyum dan air mata yang berlomba turun dari kedua matanya. "Simpan ini baik-baik." Ibu mengecup lama dahi Rara sebelum menutup pintu lemari dan benar-benar meninggalkan gadis kecil itu sendiri. Rara masih bisa mendengar teriakan-teriakan yang tersamarkan oleh suara petir yang bersahut-sahutan. Rara mencoba menutup kedua telinganya, tetapi percuma. Teriakan itu sangat keras hingga suara tembakan tiba-tiba terdengar. Teriakan-teriakan itu sudah hilang. Yang terdengar hanya suara hujan yang begitu keras menghantam bumi malam itu. Rara kecil semakin meringkuk, mencoba mencari ketenangan dalam tubuhnya sendiri meski air matanya tak bisa berhenti mengalir tanpa isakan. Bayangan itu membuat telinga Rara berdenging. Kepalanya semakin berat dan pandangannya mengabur. Lututnya lemas dan tidak bertenaga seperti kapas. Rara mendengar teriakan orang-orang memanggil namanya sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN