BAB 19(c)

1086 Kata
Satria terlihat cemas dan tidak tenang ketika tidak menemukan Rara di sekolah. Ia khawatir jika Rara sakit karena kejadian kemarin. Meski Satria sekelas dengan sahabat Rara, informasi tentang gadis yang sangat dicintainya itu tidak serta merta mudah ia dapatkan. Seperti halnya Kira, Namira juga menutup mulut rapat-rapat jika tahu sesuatu tentang Rara. Setelah bel istirahat berbunyi, Satria tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ia mencoba jalan kedua untuk langsung bertanya kepada guru piket mengenai absennya Rara hari ini. Satria putus asa ketika guru piket tidak tahu alasan ketidakhadiran Rara. Ia sangat marah dan menyesal karena tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna kemarin. Ia tahu Rara pasti sangat terluka setelah ditolak dengan kata-kata yang kasar. Mengingat hal itu saja, memunculkan kembali amarah Satria yang sejak kemarin ia pendam. Pria bersurai hitam itu mempercepat langkah, agar emosinya tidak lekas mengusai dirinya. Tujuan dia saat ini adalah ruang musik yang diharapkan dapat meredam amarahnya saat ini. Kesalahan terbesar Satria saat ini adalah melewati kantin yang ramai. Meski Satria mencoba mengabaikannya, entah kenapa ketika melihat Kenzo yang tengah tertawa di kantin bersama teman-temannya, emosi yang sedang berusaha Satria redam kembali muncul. Mengingat betapa terlukanya Rara kemarin membuat amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Satria tidak tahu setan apa yang merasukinya saat ini, tiba-tiba tinjunya melayang begitu saja di wajah mulus Kenzo hingga membuat pemuda itu terjengkang karena terkejut. "Maksud lo apa?" Kenzo terlihat marah dengan tatapan tajamnya. Tanpa banyak isyarat, Kenzo balas meninju wajah Satria. Satria yang tidak siap menerima tinjuan Kenzo, sedikit terhuyung ke belakang. Wajah Satria memerah, tak kalah menyeramkan. Beberapa siswa yang sigap berusaha memisahkan kedua idola sekolah itu hingga menyebabkan kekacauan di kantin yang mulanya damai. "Lepasin gue!" ujar Kenzo geram kepada siapa saja yang menahan lengannya. Mata dan wajahnya mulai memerah. Rahangnya mengeras dengan otot-otot leher yang mulai menyembul keluar. "Gue mau kasih pelajaran biar anak baru itu enggak ngelunjak." "Kamu pikir saya takut?" tantang Satria tak mau kalah. "Orang sombong dan arogan seperti kamu tidak pantas untuk saya takuti. Saya jauh lebih baik daripada laki-laki yang bisanya berkata kasar kepada perempuan." "b******k!" Kenzo berhasil melepaskan diri dari kungkungannya lantas memberikan bogem mentah lagi kepada Satria. "Gue sama sekali enggak ada urusan sama lo." Satria merasakan wajah kirinya berkedut. Pukulan Kenzo tidak main-main. Satria mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Pemuda itu lantas menatap Kenzo tajam tanpa rasa takut sedikit pun. "Akan menjadi urusan saya jika itu tentang Rara." Kenzo tersenyum miring. "Jadi ini soal Rara? Apa urusan lo? Lo suka sama dia?" "Bukan urusan kamu," desis Satria. Kenzo tertawa sinis. "Bukan gue yang memulai semua ini. Lo sendiri yang membuat masalah sama gue," ujar Kenzo penuh penekanan sembari mengacungkan telunjuknya tepat di wajah Satria. "Sebaiknya lo berpikir lagi soal rasa suka lo, karena orang yang lo suka lebih mencintai gue." Tangan Satria mengepal, urat pada wajahnya menyembul. "b******k!" Satu tinjuan berhasil mendarat di wajah Kenzo hingga membuatnya terhuyung ke belakang. Satria tidak pernah main-main dengan perasaannya. Kini rasa cintanya sedang diuji. Melihat wajah Kenzo membuatnya kembali ke masa lalu. Masa suram yang membuatnya mendapat label-label buruk. Masa-masa penyesalan karena tidak dapat melindungi orang yang paling ia sayangi hingga orang itu memilih jalannya sendiri. *** "Sebenarnya, apa, sih, yang ada di otak lo? Terang-terangan kayak gitu nantangin Kenzo di tempat umum. Mau cari mati?" Satria tidak membalas ucapan tajam Namira. Ia sudah malas membahas masalahnya dengan Kenzo. Setelah mendapat ceramah gratis dari guru BK, kini Satria juga harus mendengar ceramah dari Namira. Meski begitu, Satria harus berterima kasih kepada gadis itu karena mau merawat luka-lukanya. "Saya tidak pernah takut dengan Kenzo. Seandainya tadi Kenzo mengajak duel, saya akan menerimanya dengan senang hati. Aww ...." Namira sengaja menekan luka Satria lebih keras. Gadis itu kesal karena pria di hadapannya ini sangat keras kepala dan menyebalkan. "Udah bonyok kayak gini, masih mau adu jotos lagi? Sekalian saja pinjam pisau ibu kantin. Tusuk-tusukan sampai ada yang mati dan kalian puas." Satria tidak membalas ucapan Namira. Ia hanya terdiam sembari menikmati sensasi perih dari obat yang dioleskan gadis itu. "Satria yang gue kenal selalu berpikiran dingin, penuh pertimbangan, dan tidak gegabah. Dia lebih sering menggunakan otaknya daripada otot. Dia juga ahli strategi di lapangan. Tapi apa? Hari ini gue seperti melihat orang lain, berandal yang memakai wajah Satria." Satria membuang pandangan. Ia tidak berani menatap Namira. Gadis itu berkata benar. Apa yang dilakukan Satria hari ini, sangat out of character. "Saya tidak tahu kenapa bisa seemosi tadi," ujar Satria lirih dengan pandangan yang masih mengarah ke lapangan basket yang sepi karena jam belajar masih berlangsung. "Hanya saja, saya benar-benar tidak bisa memaafkan Kenzo jika mengingat betapa terlukanya Rara kemarin." Namira mengembuskan napas berat. Sudah ia duga sebelumnya. Meski sahabatnya itu tidak pernah berterus terang tentang perasaannya, Namira bisa menebak bahwa Rara benar-benar jatuh cinta kepada Kenzo. Perasaan yang mulanya benci, berubah menjadi cinta. Memang benar jika sekat antara benci dan cinta sangat tipis. Jika memang tidak mau mencintai, maka jangan membenci. Memang tanpa Rara sadari, kebencian yang tertanam selama lima tahun terakhir, sedikit demi sedikit memupuk perasaan cinta itu sendiri. "Lo cinta sama Rara?" tanya Namira serius. "Jika hasrat ingin memiliki dan melindungi disebut cinta, maka saya memang benar-benar sudah jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengannya." "Astaga ...." Namira terduduk di kursi samping ranjang UKS. Kakinya mendadak seperti jelly saat mendengar pengakuan Satria. "Kenapa lo enggak pernah bilang?" Wajah Satria sendu tanpa semangat. "Saya hanya bisa melihat Kenzo dalam binar mata Rara. Memangnya saya bisa berbuat apa?" "Setidaknya Rara bisa mempertimbangkan perasaan lo dan melupakan perasaan sia-sianya kepada Kenzo." Namira kesal pada sifat lelet Satria. Rasanya ingin memukul kepala pemuda tampan di hadapannya agar lebih berani mengungkapkan perasaannya. "Apa lo tahu jika Kenzo sudah menaruh hati kepada wanita lain?" Pandangan Satria beralih kepada Namira. Ucapan gadis itu langsung menarik perhatiannya. "Sejak dulu, Kenzo menaruh hati kepada Miss Clarissa. Mereka saling kenal sudah sejak lama dan Kenzo sangat kagum dengan bakat dan kecantikan Miss Clarissa." "Apa Rara tahu?" Namira menganggukkan kepala. "Sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Tidak ada yang berani menegur mereka karena orang tua Kenzo adalah pemilik sekolah ini." Satria mengepalkan kedua tangannya. Sungguh, kali ini Satria mengutuk ketidakpekaannya dengan lingkungan sekitar. Jika saja ia tahu lebih awal, ia tidak akan membiarkan Rara mengungkapkan isi hatinya. Kenzo memang lelaki b******k yang sialnya terlalu sempurna untuk diabaikan para gadis. Namira melihat tangan Satria yang mengepal. Ia tahu jika pria di hadapannya ini tengah menahan amarahnya. "Apa lo benar-benar menyukai Rara?" tanyanya hati-hati. "Jika harus mengorbankan nyawa saya untuk melindungi Rara, maka akan saya lakukan." "Kalau begitu, bisakah gue meminta sesuatu?" Satria mengerutkan dahi. Ia tahu jika Namira tengah dalam mode serius kali ini. "Tolong buat Rara melupakan perasaannya dan bahagia. Sudah banyak kesulitan yang Rara terima selama lima tahun ini kerena Kenzo. Gue mohon, buat Rara jatuh cinta sama lo." Satria menatap iris kelam Namira. Ia bisa menilai seberapa dekat persahabatan antara Namira dan Rara. Gadis di hadapannya ini memohon dengan matanya. Mana tega Satria menolak permohonan setulus itu. "Saya akan berusaha." Satria menjawab tegas meski masih ada sedikit keraguan di hatinya. Apa yang harus Satria lakukan untuk menyingkirkan nama Kenzo yang sudah lima tahun ini mengisi hati Rara? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN