Ada kalanya ketika langit enggan menampakkan warna kebesarannya. Awan kelabu begitu gagahnya menggantung, menunjukkan eksistensinya.
Rara menghela napas panjangnya, membuang satu keberuntungannya pagi ini. Melihat awan kelabu yang berarak membuatnya gelisah. Rara benci hujan, sedangkan awan-awan yang menggantung itu adalah pertanda hujan.
"Hari ini akan menjadi hari yang panjang," gumam Rara di depan jendela kamar.
Rara mencoba bersikap biasa saja serta menampilkan senyum terbaik sebelum ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia hanya tidak ingin membuat keluarganya cemas. Menyebut kata keluarga, hati Rara mulai tercubit. Keluarga yang selama ini ia yakini ternyata bukan keluarganya. Lantas, pantaskah Rara menyebut orang-orang yang selama ini terlalu baik kepadanya itu keluarga? Rara mulai meragukan dirinya sendiri.
Rara sudah mendengar keributan di ruang makan meski ia masih beberapa langkah dari anak tangga terakhir yang berhadapan langsung dengan ruang makan keluarga. Ia menyunggingkan senyum. Keluarganya memang selalu seperti itu. Hal itulah yang membuat hatinya sedih. Kenyataan pahit harus ia terima karena ia bukanlah bagian dari keluarga ini.
"Selamat pagi!" sapa Rara riang lantas mendudukkan diri di kursinya. Semua mata kini mengarah kepadanya dengan tatapan meminta penjelasan. Rara tidak peduli. Ia lebih tertarik dengan roti bakar yang terhidang di depan matanya.
"Mau ke mana?" Aidan akhirnya membuka mulut. "Kamu pakai seragam? Enggak salah?"
Rara menggelengkan kepalanya sembari mengambil setangkup roti bakar dengan olesan selai cokelat kesukaannya. "Mau sekolah memang harus pakai seragam, Kak."
Aidan nampaknya harus ekstra sabar menghadapi kelakuan adik kesayangannya itu. "Kakak tahu. Tapi kenapa kamu pakai seragam? Seharusnya kamu istirahat di rumah."
"Kenapa harus istirahat? Rara merasa baik-baik saja," ujar Rara santai sembari menggigit rotinya. "Lagian, ada ulangan hari ini."
"Tapi—" Aidan menghentikan ucapannya ketika mendapatkan tatapan tajam dari mamanya. Ia tahu harus menghentikan perdebatannya dengan Rara jika mama sudah turun tangan.
Mama mendekati Rara lantas meraba dahi putrinya tanpa persetujuan. Mama sedikit mengernyit merasakan suhu tubuh Rara. "Sedikit hangat."
"Tuh, kan. Mending di rumah saja." Aidan tampak bersemangat melarang Rara meneruskan niatnya untuk pergi sekolah.
"Tapi Rara baik-baik saja. Rara enggak mau bolos dan ketinggalan pelajaran. Setidaknya Rara harus berusaha keras. Rara enggak mau mempermalukan kalian yang telah baik mengurus Rara sampai sekarang. Hanya ini yang bisa Rara lakukan untuk membalas budi." Mata Rara mulai berkaca-kaca. Meski ia sudah menahan emosinya dengan sekuat tenaga, tetap saja sisi rapuhnya mulai mengambil alih. Terkadang Rara benci sifatnya yang satu itu.
Semuanya terdiam sampai Papa mulai bersuara. "Kalau Rara bilang baik-baik saja, berarti dia baik-baik saja. Papa percaya kepada anak gadis papa." Papa menyunggingkan senyum tulusnya kepada Rara. Rara terlihat sangat berterima kasih kepada pria yang selama ini ia anggap sebagai papanya itu.
Aidan meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. "Keras kepala," ujar Aidan datar lantas berdiri meninggalkan meja makan dan piringnya yang masih penuh.
Rara menundukkan kepala, merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan. Baru kali ini Rara melihat kakak yang paling dekat dengannya itu marah seperti tadi. Biasanya, Aidan bisa mengendalikan diri dengan baik jika berada di dekat Rara.
"Biarkan Aidan. Mungkin hatinya sedang tidak baik," ujar Papa mencoba tenang. "Sebaiknya kalian segera bersiap jika tidak ingin terlambat. Biar Rizky yang mengantar kalian."
***
Aidan menatap kosong taman bunga kecil di halaman samping. Ia memang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan keluarga yang memang menghadap langsung ke taman itu. Pikirannya sedikit kacau sejak kemarin.
Entah sudah berapa kali Aidan membuang napasnya haru ini. Sejak dulu, urusan Rara memang selalu menjadi prioritasnya. Meski ia sudah tahu bahwa Rara bukan adik kandungnya, Aidan tidak pernah merasa keberatan akan hal itu. Justru karena itulah, ia lebih melindungi adiknya itu.
"Jangan terlalu sibuk dengan pikiran dan perasaanmu sendiri. Jika adikmu tahu, dia akan semakin tidak enak hati."
Aidan melirik papanya yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Pria paruh baya yang masih tampan dan gagah di usianya yang sudah tidak muda lagi itu, tersenyum kepada putra keduanya yang tampah sedang banyak pikiran.
Giovani Aldebaran adalah seorang pilot kawakan dengan jam terbang tinggi. Dalam dunia penerbangan, Gio sangat disegani dan dihormati. Meski begitu, Gio adalah seorang ayah yang lembut dan penyayang bagi keluarga kecilnya. Bagi Gio, keluarga tetaplah nomor satu.
"Papa tahu kamu marah," ujar Gio lembut. Pandangannya mengarah ke taman kecil seperti yang Aidan lakukan. "Tapi, menurut Papa, kamu tidak punya hak untuk itu."
Aidan mengalihkan pandangannya, menatap sang ayah dengan alis bertaut. "Maksud Papa apa?"
"Rara sudah tujuh belas tahun, sudah memasuki usia legal. Kita tidak bisa terus-terusan meminggirkan Rara dan meletakkannya pada posisi tidak tahu apa-apa."
"Tapi dia terluka," ujar Aidan frustrasi. "Selama ini Rara sudah diperlakukan sebagai orang asing di keluarga besar kita. Dia juga sering menerima perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekolahnya. Dia selalu merasa tidak nyaman dengan perbedaan fisik yang mencolok di antara kita. Rara sudah terluka sejak dulu. Hanya saja, dia berhasil menyembunyikan lukanya dengan baik."
Gio menatap putra keduanya. Ia paham dengan apa yang dirasakan Aidan. Namun, tetap saja Rara harus tahu rahasia besar itu.
"Radit dan Tasya adalah orang baik. Papa dan Mama sudah berteman dengan orang tua Rara sejak zaman sekolah dulu. Meski lahir dari keluarga kaya dan berpengaruh, Radit sama sekali tidak pernah sekali pun menggunakan nama keluarganya. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik dan sedikit keras kepala."
"Persis seperti Rara," gumam Aidan yang disambut dengan senyum tipis Gio.
"Radit sering bertolak belakang dengan keluarganya, bertengkar, kemudian kabur dari rumah."
"Dan menginap di rumah Papa." Aidan mengomentari cerita Gio. Memang benar jika dulu Radit memang sering menginap di rumahnya. Orang tua Gio tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena Radit cukup sopan dan baik kepada orang yang lebih tua.
"Dan pertengkaran besar itu akhirnya meledak saat Radit menjadi jaksa muda. Keluarganya tidak setuju karena kemungkinan besar, mereka akan menjadi lawan di persidangan."
"Mereka keluarga pengacara?"
Gio mengangguk. "Keluarga Darmawan mempunyai sebuah firma hukum besar dan terkenal di kalangan pengusaha dan pejabat. Dan saat Rafit memutuskan untuk menjadi jaksa, keluarganya menentang habis-habisan. Bahkan mereka tak segan untuk mengancam Radit."
Aidan mengerutkan dahi. "Tapi mereka keluarga ...."
"Keluarga Darmawan tidak akan pandang bulu. Mereka bisa sesuka hati melenyapkan siapa saja yang menurut mereka mengancam. Bahkan kepada keluarga sendiri, darah daging mereka."
"Kalau begitu, Rara—"
"Keselamatan Rara terancam," ujar Gio cepat. "Cepat atau lambat, mereka akan menemukan Rara. Karena itulah, Papa menceritakan semua rahasia itu. Rara berhak tahu jati dirinya agar jika suatu saat dia bertemu dengan keluarga kandungnya, dia bisa waspada."
Aidan mendesah pelan. Pikirannya tidak pernah sampai sana. Sekarang ia tahu jika keputusan papanya memang penuh pertimbangan. Sang kepala keluarga itu, tidak mungkin mengambil keputusan dengan asal.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pa?"
***