BAB 20(b)

1688 Kata
Rara dan Laila harus berpisah jalan karena kelas Laila berada di sisi sekolah yang berseberangan dengan kelas Rara. Rara mencoba berjalan seperti biasa ketika ia mendapati beberapa siswa melihatnya dengan tatapan aneh. Ia juga mendengar kasak-kusuk yang sedikit membuatnya tak nyaman. Rara mulai merasa risi ketika dengan terang-terangan mereka memberinya tatapan aneh dan senyuman sinis. Ia merasa tidak melakukan kesalahan yang membuatnya mendapatkan perlakuan seperti ini. Karena tidak ingin bergelut dengan spekulasinya sendiri, Rara mempercepat langkahnya. Setidaknya ia akan aman di kelasnya sendiri. Kelas unggulan itu mendadak hening ketika Rara memasukinya. Rara merasa semua mata tertuju kepadanya. Ia yang tidak tahan pun, hanya menundukkan kepalanya lantas segera mendudukkan diri di bangkunya. Bisik-bisik mulai terdengar. Hal itu membuat Rara semakin gelisah. Ia merasa dirinyalah yang sedang menjadi bahan pembicaraan saat ini. Melihat sahabatnya seperti orang kehilangan akal, Kira meletakkan sebuah selebaran di depan Rara. "Baca. Lo bakal ngerti." Meski ragu, Rara mulai membaca selebaran pemberian Kira. Jantung Rara memompa lebih cepat, matanya membulat, dan bibirnya mulai bergetar membaca apa yang tertulis di sana. Sontak, Rara meremas selebaran itu. "Apa maksud semua ini?" Rara bersuara lantang hingga kembali menimbulkan keheningan. Semua mendadak terdiam dan memalingkan wajah karena tidak ingin bersitatap dengan Rara. "Kalian percaya gosip murahan ini?" Hening. Tidak ada yang bersuara. Tangan Rara mengepal dengan erat, matanya mulai berkaca-kaca, dan bibirnya mulai bergetar kala menyaksikan reaksi teman-temannya itu. "Dua setengah tahun kita lalui tanpa ada artinya? Seharusnya kalian lebih mengenal gue daripada harus percaya gosip enggak jelas ini." Dada Rara naik turun dengan cepat karena emosi tak tertahankan. Baru kali ini dia kecewa dengan teman-temannya sendiri. "Bukan gitu, Ra," ujar Riko yang akhirnya berani angkat bicara. Pria berpenampilan kurang rapi dengan kemeja yang sepenuhnya keluar dari celana itu, menanatap Rara dengan mata sendunya. "Kita enggak tahu harus gimana saat tahu berita itu. Kenzo sendiri sangat sulit dimintai penjelasan." Semua mendadak menoleh ke bangku Kenzo yang masih kosong. Nampaknya masalah kemarin, memaksanya kembali absen. "Kalian lantas mengambil kesimpulan begitu saja?" ujar Rara marah. "Semua ini hanya kesalahpahaman gue sama Kenzo. Kenapa harus melibatkan Satria?" "Gosip itu ada juga pasti ada sebabnya. Jangan asal nuduh kami." Salah satu teman Rara yang duduk di dekat jendela mulai angkat bicara. "Kenzo dan Satria memang adu jotos di kantin. Beberapa dari kami melihatnya sendiri. Mereka menyebut nama lo. Jadi, jangan salahkan kami jika kami berpikir seperti itu." "Beberapa anak juga ngomongin lo yang sering berduaan dengan Satria di ruang musik," timpal gadis berambut pendek di depan Rara. "Gosip itu enggak mungkin muncul jika enggak ada sebab." "Sebaiknya lo tutup mulut!" Kira mengancam gadis berambut pendek itu dengan tajam. Dia rasa sudah cukup menahan diri sejauh ini. "Kalian semua, terserah kalian mau percaya atau enggak. Tapi gue yakin, Rara bukan gadis murahan. Terserah dia mau berhubungan dengan siapa pun. Toh, itu sama sekali enggak merugikan kalian, kan? Kecuali, kalian memang cemburu dengan Rara yang ternyata berhasil membuat dua cowok paling populer di sekolah ini berantem demi dia." Kira puas dengan kata-katanya. Meski teman-teman sekelasnya merupakan siswa terbaik di sekolah, tetapi terkadang mereka tak punya hati. Setelahnya, Kira menarik lengan Rara agar gadis itu kembali duduk. Kira tahu jika Rara sedang tidak baik-baik saja, tetapi dia tidak mau sahabatnya itu kembali mendapat masalah dengan guru karena bel masuk telah berbunyi beberapa menit lalu. *** "Tunggu gue, Ra!" Kira merasa kewalahan mengejar langkah lebar Rara. Ia merasa sahabatnya itu sedang tidak bisa berpikir jernih sekarang. Bukannya di kelas saja, gadis berambut panjang itu justru melesat menuju kelas Satria setelah bel istirahat berbunyi. Meski harus mengorbankan image-nya sebagai gadis pendiam, Kira sama sekali tidak peduli. Ia mempercepat langkahnya agar bisa mengejar dan mencegah sahabatnya itu melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti. "Tunggu gue, Ra!" Kira mencekal tangan Rara agar gadis itu berhenti. "Apa yang lo pikirin? Ngapain ke kelas Satria? Lo mau nambah masalah?" "Gue enggak mau nambah masalah," jawab Rara lantang. "Gue cuma mau minta penjelasan." "Penjelasan apa? Penjelasan dari gue kurang? Lo enggak percaya gue?" Kira sudah habis kesabaran menghadapi sahabat keras kepalanya itu. "Coba lo mikir. Kalau Kenzo enggak masuk karena masalah ini, kemungkinan besar Satria juga enggak masuk." "Gue mau mastiin sendiri," ujar Rara yang entah mendapat kekuatan dari mana, berhasil melepaskan diri dari cekalan Kira. "Lo bakal dimakan hidup-hidup di kelas Satria." Berhasil. Suara lantang Kira berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian dan menghentikan langkah Rara. Gadis itu pun memanfaatkan kesempatan itu dengan menarik lengan Rara. Kira lega, sahabatnya itu hanya mengikutinya pasrah dan tanpa perlawanan. Udara semakin dingin dengan awan kelabu yang masih setia menggantung di langit sejak pagi. Tampaknya, langit akan segera menumpahkan bebannya. Kira melihat Rara yang tengah menundukkan kepala kemudian menghela napas. Pada akhirnya, Kira berhasil menggiring Rara di taman belakang ruang musik yang memang sepi pada jam istirahat seperti ini. Ia hanya ingin menyadarkan sahabat yang tengah kehilangan otak di hadapannya itu. "Jangan bertindak bodoh," ujar Kira kesal. "Gosip seperti ini akan hilang sendiri. Lo enggak usah berbuat apa pun. Cukup berdiam diri dan tanpa lo sadari, gosip akan hilang." "Gue enggak bodoh," bantah Rara. "Gue tahu apa yang gue lakuin." "Sepertinya otak lo tercecer. Kalau enggak bodoh, lantas apa yang mau lo lakuin tadi?" "Gue cuma mau nemuin Satria terus minta penjelasan." "Ya ampun, Ra .... Lo enggak percaya gue? Penjelasan gue tadi belum cukup?" ujar Kira tak habis pikir dengan sifat sahabatnya yang satu itu. "Gue yakin otak cerdas lo tercecer entah di mana. Kalau lo mau tahu keadaan Satria, kenapa enggak nanya Namira saja? Ngapain harus memaksa ke kelasnya?" Kira gemas menghadapi sahabat keras kepalanya itu. Dia akhirnya mengeluarkan ponsel di saku dan mencari kontak Namira. "Sudah gue duga akan seperti ini." Suara Namira mengalihkan perhatian Kira dan Rara. Melihat sahabatnya kini telah berdiri tepat di hadapannya, Kita mengurungkan niatnya untuk melakukan panggilan melalui ponsel. "Syukur lo datang, Nam," ujar Kira lega. "Sebentar lagi gua pasti gila menghadapi gadis keras kepala ini. Rara membuang muka. Dia tidak marah dengan ucapan sarkas Kira. Ia hanya tidak mau semakin terpancing emosi. Namira menghela napas panjangnya. "Jujur, gue juga kaget denger gosip ini," ujar Namira. "Selama kita bersahabat baik, baru kali ini gue denger ada berita buruk tentang lo." Rara masih bergeming. Hal itu yang semakin membuat Namira jengkel dengan sahabatnya itu. Ia sangat paham sifat Rara yang terlalu tertutup dan cenderung menarik diri jika ditekan, tetapi sekarang tidak saaatnya Rara mempertahankan sifat buruknya itu. "Setidaknya lo harus ngasih penjelasan sama gue dan Kira agar kita tahu harus bersikap gimana." Namira sedikit memohon kepada sahabatnya itu. "Kami percaya lo enggak mungkin ngelakuin apa yang disebutin di gosip itu. Untuk itu, bicaralah. Beri kami penjelasan." Air mata lolos begitu saja dari kedua mata Rara. Meski tanpa isakan, Namira dan Kira yang melihatnya juga ikut merasakan apa yang dirasakan gadis bersurai hitam itu. "Kenapa rasanya berat? Kenapa cinta harus sesakit ini? Sebenarnya apa salah gue hingga harus mengalami semua ini?" Rara merasakan ketidakadilan. Hatinya terlalu sakit harus menghadapi semua ini. Masa lalu yang tragis dan kisah cinta yang dramatis harus ia terima di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun. Ia merasa Tuhan begitu tidak adil mempermainkan takdirnya. Namira langsung merengkuh Rara ke dalam pelukannya. Ia tahu jika sahabat baiknya itu sedang menghadapi sesuatu yang berat. Akhir-akhir ini, Rara terlihat sangat rapuh, tidak sekuat biasanya. "Sstt, jangan nangis," ujar Namira sembari mengusap lembut punggung Rara. "Gue sama Kira ada di sini." Langit mulai mulai menjalankan ancamannya. Hujan turun begitu derasnya tanpa peringatan. Untung saja, Namira begitu sigap menggiring Rara ke teras ruang musik. Ruang musik begitu sepi hingga memudahkan mereka untuk sekadar berteduh di sana. Kira memberi kode bahwa ruang musik tidak dikunci. Mereka bertiga memilih untuk masuk ruang musik daripada basah terkena hujan yang entah kenapa turun begitu deras seolah tengah menumpahkah semua bebannya. Di sinilah mereka sekarang. Duduk saling berhadapan di tengah ruang musik yang sunyi. "Jadi, sudah siap untuk bercerita?" tanya Namira memecah kesunyian. "Kami enggak bermaksud membuat lo tertekan. Kami hanya butuh lo bisa jujur. Jika memang benar lo menganggap kami sebagai sahabat, sebaiknya lo harus belajar untuk mulai terbuka kepada kami." Rara menundukkan kepala sembari meremas jemarinya. Ia tidak bisa menampik kata-kata Namira. Sebagai sahabat yang selalu ada di sampingnya, Namira dan Kira berhak menuntutnya. Terdengar helaan napas panjang dari Rara. Gadis bermata bulat itu mengangkat wajahnya lantas menatap sahabatnya satu per satu. Matanya terlihat sembab tetapi senyum tipis sedikit tersungging di bibirnya. "Terima kasih," ujarnya lirih. Kira meraih jemari Rara, memberinya remasan lembut yang mengisyaratkan bahwa ia ada di sana dan semua akan baik-baik saja. Rara sungguh menghargai dukungan dari gadis berkacamata itu lantas memberikan senyum tulusnya. "Gue enggak tahu harus mulai dari mana," ujar Rara memulai. "Yang pasti, semua yang kalian dengar itu salah. Gue, Kenzo, dan Satria sama sekali enggak terlibat dalam hubungan yang seperti itu." Rara menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue mencintai Kenzo," ujar Rara lirih. "Gue enggak tahu kapan perasaan ini mulai muncul. Tapi gue yakin kalau gue suka sama Kenzo." "Ya ampun, Ra." Kira langsung mengusap punggung Rara. "Kenapa lo enggak bilang?" "Gue bingung," jawab Rara. "Pada akhirnya, gue memberanikan diri untuk mengungkapkannya kepada Kenzo." "Kenzo nolak lo?" tanya Namira yang dijawab Rara dengan anggukan kepala. "Lalu Satria datang untuk menawarkan sandaran buat lo?" Rara kembali menganggukkan kepalanya yang membuat Namira menghela napas panjang. "Pantas saja." Namira memijat kepalanya yang sedikit pening setelah merangkai potongan kejadian yang diceritakan Rara. "Gosip enggak akan muncul jika enggak ada sebab. Kemarin Kenzo dan Satria berkelahi di kantin dan membuat heboh karena lo. Satria nyebut nama lo, Ra. Seharusnya lo paham jika semua yang Satria lakuin buat lo selama ini adalah cinta. Satria suka sama lo." Rara terdiam. Bukannya tidak peka jika selama ini Satria memendam perasaan lebih kepadanya. Rara hanya tidak mau mengakui itu semua. Ia masih beranggapan bahwa Satria hanya seorang pria baik yang selalu membantunya di kala membutuhkan. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Kira cemas. Namira kembali menghela napas panjang. Entah berapa keberuntungan yang ia buang hari ini. "Hanya pelaku gosip yang bisa menghilangkan gosip." Kira mengerutkan dahi. "Maksud lo?" "Hanya Rara, Kenzo, dan Satria yang bisa meredam semuanya," ujar Namira datar. "Kenzo dan Satria absen hari ini. Seenggaknya kita harus menunggu sampai besok untuk menyelesaikannya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN