Rara berjalan mengendap-endap layaknya pencuri. Bel pulang sudah berbunyi lima menit lalu dan kini ia sudah berada di samping gerbang sekolah.
Siang ini Rara memutuskan untuk menemui Satria. Untuk itu, dia harus sebisa mungkin tak terlihat untuk menghindari kakak pertamanya. Rara merasa sudah cukup jauh dari jangkauan pandangan Rizky hingga ia berani menghentikan sebuah taksi lantas menaikinya. Tak lupa, Rara mengirimkan pesan kepada kakaknya itu lantas mematikan ponselnya agar keberadaannya tidak bisa dilacak.
Setelah hampir satu jam berada di taksi, akhirnya Rara sampai di tujuan. Kawasan perumahan mewah itu selalu membuat Rara takjub. Gerbang besar dan mewah itu menyambut kedatangan Rara. Seorang satpam membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Meski sudah dua kali Rara memasuki rumah itu, ia tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan keindahan arsitekturnya. Rara merasa, ia bisa betah belama-lama di sini jika diberi kesempatan. Namun, dia harus tahu diri. Tujuannya ke sini untuk mencari Satria bukan untuk yang lain.
"Maaf, menunggu lama."
Seorang wanita anggun dengan senyum lembut menyambut Rara di ruang tamu. Rara mengenali wanita itu sebagai ibu Satria. Tidak hanya mengagumi kecantikan ibu Satria, Rara juga sangat terkesan dengan sikap lembut wanita itu sangat mencirikan sebagai wanita terhormat.
"Eh, tidak apa-apa, Tante," jawab Rara sedikit sungkan.
Ibu Satria tersenyum maklum dengan sikap Rara yang masih malu-malu itu. "Tidak usah sungkan dengan saya. Anggap saja seperti rumah sendiri," ujar Ibu Satria ramah.
"Iya, Tante," jawab Rara mencoba senormal mungkin.
"Terakhir kali kita ketemu pada waktu yang kurang tepat. Kamu terlihat buru-buru sekali mau pulang. Setidaknya kali ini kita harus mengobrol banyak sambil menunggu Satria pulang."
"Memangnya Satria ke mana?" tanya Rara penasaran.
"Entahlah," jawab Ibu Satria sembari mendesah pelan. "Tadi pagi bilangnya tidak enak badan, makanya tidak masuk sekolah. Tapi ternyata, sekarang sudah tidak ada di rumah. Kata satpam di depan sih, Satria sedang keluar dengan mobilnya. Saya kira dia pergi dengan kamu. Karena Satria hanya mengeluarkan mobilnya untuk hal-hal yang dianggapnya penting. Seperti ketika mengantar kamu pulang kemarin."
Rara tersenyum kikuk mendengar ucapan ibunya Satria. Jujur saja, Rara tidak pernah merasa menjadi hal yang penting bagi Satria. Hal ini justru semakin menambah panjang daftar kebaikan Satria yang entah bisa Rara balas atau tidak. Lain halnya dengan ibu Satria Wanita paruh baya itu terlihat begitu bahagia dengan senyum keibuan yang terus tersungging di bibirnya sejak kedatangan Rara. Bagi wanita paruh baya itu, kehadiran Rara adalah sebuah keberuntungan. Sejak mengenal Rara, putranya memang sudah banyak berubah.
"Kamu manis sekali."
Rara mengerutkan dahi. "Maaf?" ujarnya ragu-ragu karena memang takut salah dengar.
Ibu Satria tersenyum lembut. "Kamu memang manis. Pantas saja Satria bisa begitu menyukaimu."
"Eh, Tante sudah salah paham. Saya dan Satria—"
"Mata seorang ibu tidak bisa dibohongi, Nak," ujar wanita paruh baya itu cepat. "Tatapan Satria begitu berbeda jika bersamamu."
"Saya—"
Ibu Satria menghentikan kedua tangan Rara yang saling meremas. Ia tahu jiga gadis itu merasa gugup dan kurang nyaman.
"Tante sama sekali tidak marah," ujar ibu Satria menenangkan. "Tante justru sangat berterima kasih kepadamu. Terima kasih karena membuat Satria kami begitu bahagia."
"Tapi saya tidak pernah—"
"Cukup seperti ini saja," potong ibu Satria cepat. "Cukup jadi dirimu sendiri. Satria sangat perasa. Mungkin dia merasa kamu telah memberikan dia kenyamanan yang selama ini dia cari. Teruslah menjadi Rara yang seperti ini. Mau, kan?"
Rara tidak bisa menolak permohonan tulus dari seorang ibu. Meski Rara masih belum bisa memahami maksud wanita paruh baya di depannya ini, Rara tetap menganggukkan kepala dan berjanji dalan hati selalu membuat Satria merasa nyaman.
Obrolan pun mengalir begitu saja tanpa canggung. Ibu Satria yang memang dasarnya ramah dan baik, mendominasi obrolan tentang Satria dan Rara. Wanita berkulit pucat itu terlihat sangat antusias ketika membicarakan Satria. Wanita itu tampaknya sangat bangga kepada putranya. Rara ikut senang mendengarnya.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Langit mulai berubah warna. Matahari mulai pergi ke peraduannya meninggalkan semburat kemerahan di ufuk barat. Rara pun melirik arlojinya sedikit gugup. Ia benar-benar telah lupa waktu.
"Sepertinya Rara harus pamit pulang, Tante," ujar Rara memotong pembicaraan meskipun sedikit sungkan.
"Sudah mau pulang, ya?" Ibu Satria terlihat kecewa. "Mengobrol denganmu membuat waktu berjalan begitu cepat."
Rara tersenyum kepada wanita paruh baya itu. "Sudah hampir malam. Saya takut kesulitan mencari taksi," jawab Rara sembari mengenakan tasnya yang tergeletak begitu saja di lantai sejak tadi.
"Tidak perlu naik taksi. Biar sopir saja yang mengantar," cegah ibu Satria sedikit memaksa.
"Eh, tidak perlu, Tante." Rara menolak iktikad baik ibu Satria. "Akan ada banyak taksi setelah keluar dari kompleks ini. Lagi pula, rumah Rara terlalu jauh dari sini. Rara tidak mau merepotkan Tante."
Meski tidak suka dengan penolakan Rara, pada akhirnya wanita paruh baya itu menyetujuinya juga setelah melihat kesungguhan dari kedua mata Rara.
"Baiklah," ujar ibu Satria menyerah. "Jika ada apa-apa, langsung hubungi Tante."
Rara mengangguk mantap kemudian segera pamit dan meninggalkan rumah mewah itu.
Kawasan perumahan elit itu sedikit sepi. Jika tidak ingat umur, Rara pasti akan berlari dan berteriak sekencang-kencangnya.
Sejak keluar dari rumah Satria, sebenarnya Rara merasa ada seseorang yang mengikutinya. Namun, ketika berbalik untuk memastikan, dia tidak menemukan siapa pun di sana. Hal aneh itu terus Rara rasakan sampai dia keluar dari kompleks perumahan dan langsung menghentikan sebuah taksi. Rara mencoba duduk dengan nyaman sembari meredakan debaran jantungnya yang sejak tadi tak normal. Sungguh menakutkan. Rara bersumpah, lain kali tidak akan melakukan hal ini lagi.
***
Satria memarkirkan mobilnya di sebuah kafe minimalis bernuansa retro. Setelah mendapat pesan singkat dari Ojan—teman sekelasnya.
Gue mau ketemu. Ini soal Rara. Lo bisa ke Kafe Amoire? Gue tunggu di sana setelah pulang sekolah.
Satria menghela napas panjang saat mengingat isi pesan Ojan. Rara. Saat ini kepalanya memang penuh dengan gadis itu. Meski Satria baru mengenalnya beberapa minggu, Rara sudah sepenuhnya menguasai pikirannya. Perasaannya tidak bisa bisa dibohongi. Sejak bertatap muka di lapangan hari itu, jantungnya selalu berdebar kencang saat bertemu dengan gadis bersurai panjang berwarna hitam. Entah pesona apa yang dimiliki Rara hingga Satria bisa tergila-gila seperti ini.
Diembuskannya napas panjang yang tadi dihela, sebelum ia keluar dari mobilnya. Kafe Amoire tidak terlalu ramai hari ini. Kesan pertama yang dirasakan Satria saat menginjakkan kaki di sana adalah nyaman. Kafe yang penuh dengan ornamen retro itu, membuatnya berdecak kagum. Namun, ia tidak berlama-lama menikmati semua itu karena tujuannya ke sini bukan untuk bersenang-senang.
Satria langsung menemukan sosok Ojan yang memang duduk di tempat yang mudah ditemukan. Namun, alisnya berkerut saat melihat ada orang lain yang duduk bersama temannya itu. Satria mengenalinya. Mereka adalah Namira dan Farros.
"Gue kira lo enggak datang," ujar Ojan saat melihat Satria berjalan ke arah mejanya.
"Mereka datang?" tanya Satria kepada Ojan yang langsung salah tingkah. Tampaknya, Ojan memang sedikit tidak enak hati karena tidak berkata jujur jika dia memang pergi bersama Namira dan Farros.
"Kami memang sengaja meminta Ojan menghubungimu," ujar Farros. "Kami butuh penjelasan sedangkan lo sama Kenzo enggak ke sekolah."
Satria menghela napas panjang, lantas duduk dengan pasrah di samping Ojan. Sepertinya, dia memang harus menjelaskan duduk perkaranya. Meski Namira sudah tahu, Ojan dan Farros yang sebagai sahabat Kenzo sama sekali tidak paham apa yang telah terjadi.
"Apa yang ingin kalian bicarakan? Katakanlah. Saya tidak punya banyak waktu."
"Gosip di sekolah semakin menggila." Kali ini Namira yang bicara. "Ketidak hadiran lo sama Kenzo, menjadikan Rara bulan-bulanan. Dia sangat frustrasi tadi."
"Di kelas malah lebih parah lagi." Farros ikut menimpali karena memang dia berada satu kelas dengan Rara. "Rara sampai dibilang cewek murahan."
"Rara tidak seperti itu!" sangkal Satria dengan sedikit menggebrak meja.
"Tentu saja Rara enggak seperti yang mereka omongkan. Tapi, semua gosip itu terlalu memojokkan Rara. Apalagi, kali ini berita itu melibatkan dua cowok populer di sekolah," ujar Namira menjelaskan. "Asal lo tahu, Rara sebenarnya punya banyak musuh di sekolah. Mereka enggak terima Rara bisa begitu dekat dengan Kenzo meski mereka berdua adalah rival. Sekarang, kebencian mereka semakin menjadi-jadi saat lo datang dan begitu menarik perhatian."
Satria tidak bisa berkata-kata. Dia sama sekali tidak menyangka jika masalahnya bisa serumit ini.
"Lalu, apa yang bisa saya lakukan agar mereka berhenti berbicara yang tidak-tidak dan menuduh Rara sembarangan?"
Namira melirik Farros dan Ojan bergantian. Mereka berbicara melalui mata dan sepakat dengan isyarat itu.
"Hanya si pembuat gosip yang bisa mengakhiri semua ini. Jika Kenzo begitu sulit diajak kompromi, satu-satunya harapan Rara cuma lo. Lo bisa menolong Rara menghapus gosip ini."
Satria mengerutkan dahi. "Caranya?"
***