Langit malam ini sangat indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Hujan siang tadi cukup membersihkan langit dari awan-awan yang selalu menggantung sejak beberapa hari lalu.
Kenzo menatap bintang yang paling terang. Pikirannya berkelana entah ke mana. Hari ini menjadi hari yang panjang untuknya. Daddy-nya kembali menjadikan Kenzo tahanan rumah setelah melihat luka lebam di wajahnya. Sesuatu yang patut Kenzo syukuri sebenarnya. Untung saja, daddy-nya tidak langsung menyeretnya ke luar negeri saat itu juga.
Kenzo menghela napas panjang. Entah kenapa, apa yang terjadi akhir-akhir ini mampu membuatnya berpikir dalam. Perasaanya begitu tak menentu. Biasanya Kenzo cukup menjadi orang yang tak mau tahu lantas masalah akan pergi begitu saja. Namun, kali ini berbeda. Setelah mempertanyakan perasaannya untuk Clarissa, Kenzo kembali dihadapkan pada kegamangan perasaannya untuk Rara.
Rara. Satu nama yang tidak pernah Kenzo kira akan bisa masuk begitu dalam ke dalam pikirannya. Sungguh wajah sendu gadis itu sangat mengganggunya akhir-akhir ini. Jika bukan karena Satria menyebut nama Rara, Kenzo tidak akan semarah itu. Entah kenapa, ada sedikit ketidakrelaan di hatinya ketika melihat Satria membela Rara habis-habisan.
"Enggak mungkin, kan, gue suka Rara? Jelas-jelas di hati gue hanya ada Clarissa." Kenzo bergumam, menimbang perasaannya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Kenzo mengalihkan pandangannya. Mommy-nya terlihat telah berada di dalam kamar dengan segelas s**u di tangannya. Kenzo tersenyum sekilas, lantas memasuki kamar setelah menutup pintu penghubung balkon.
"Udaranya lumayan dingin. Jangan terlalu lama di luar," ujar Luna sembari menyodorkan segelas s**u hangat untuk putranya itu. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum lembut, meski hatinya tengah cemas setengah mati. Kemarin putranya itu pulang dengan wajah lebam. Meski Sean sempat memarahi putranya itu, Luna patut bersyukur suaminya itu tak langsung mengirim Kenzo ke luar negeri.
Kenzo menggumamkan terima kasih lantas meminumnya hingga tandas. Ia menyerahkan gelas yang sudah kosong itu kepada mommy-nya yang menyunggingkan senyuman lembut.
"Tidak usah mencemaskan Daddy. Dia sedang banyak pikiran. Pameran bulan depan sangat membuatnya lelah. Semua karena Mommy tidak bisa membantu daddy-mu. Dia jadi melampiaskan semuanya ketika di rumah."
Kenzo sangat kagum dengan wanita cantik di hadapannya yang ia panggil dengan mommy. Bagi kenzo, tidak ada cela yang bisa merusak kecantikannya. Seorang wanita tangguh, yang rela melepaskan semua mimpinya demi membangun keluarga kecil yang bahagia. Namun, Kenzo sedikit menyesali apa yang dia lakukan akhir-akhir ini yang justru membuat wanita cantik di hadapannya itu lebih banyak menitikkan air mata.
"Maaf," ujar Kenzo lirih.
Luna tersenyum lembut kepada Kenzo. Wanita itu tahu, putranya adalah anak yang baik. Kelakuan Kenzo yang sering membuat daddy-nya uring-uringan hanya bentuk mencari perhatian. Ia sangat paham jika remaja seusia Kenzo sangat ingin diperhatikan dan diberi kasih sayang. Namun, karena kesibukan daddy-nya, Kenzo harus merelakan semua itu.
Mommy meletakkan gelas di atas nakas agar dia bisa leluasa memeluk putra kesayangannya. "Mommy sayang Kenzo. Kenzo tahu, kan?"
Kenzo mengangguk dalam pelukan mommy-nya. Meski sudah berusia tujuh belas tahun, Kenzo tidak pernah malu mendapat perlakuan seperti ini. Dia dan adiknya selalu mendapatkan kasih sayang yang adil dari wanita cantik yang telah melahirkan mereka. Hanya daddy-nya yang sedikit memperlakukannya keras karena Kenzo adalah satu-satunya putra yang akan meneruskan nama besarnya dalam bidang seni. Sean memiliki ambisi besar kepada putranya. Dan hal itulah yang membuat Kenzo sedikit tertekan
"Mau sebesar apa pun, bagi Mommy, kamu adalah putra kecil Mommy." Luna melepaskan pelukannya lantas menatap ke dalam manik biru milik putranya. Luna tersenyum melihat betapa mirip putranya itu dengan sang suami. "Meski Daddy sangat keras, percayalah jika Daddy juga menyayangimu. Daddy selalu memikirkanmu, mencemaskan masa depanmu."
"Daddy hanya takut aku akan mempermalukan nama besarnya," ujar Kenzo sinis. "Daddy sama sekali tidak pernah benar-benar mencemaskan Ken."
Luna memandang Kenzo sendu. "Jangan terlalu kejam menilai daddy-mu. Butuh usaha keras untuk bisa berada di posisinya sekarang. Daddy-mu hanya tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang kelak akan kamu sesali. Dia sangat peduli dengan masa depanmu."
"Tapi Daddy enggak peduli sama perasaan Kenzo."
"Daddy-mu tentu saja peduli. Jangan mengambil kesimpulan sendiri," ujar Luna tenang. "Daddy-mu adalah ayah yang baik. Dia rela melakukan apa saja untuk keluarganya. Daddy berusaha memberikan yang terbaik untukmu, untuk keluarga kita."
"Daddy hanya memikirkan kepuasannya saja. Daddy sama sekali enggak peduli dengan perasaan Ken."
Luna menggelengkan kepalanya. "Daddy-mu adalah orang paling peka yang Mommy kenal," ujar Luna menengahi. "Daddy tidak ingin kamu salah langkah, Ken. Dia mengayangimu, memikirkanmu setiap waktu. Daddy hanya tidak ingin putranya mencintai orang yang salah. Dia tidak mau putranya mengulang kesalahan yang pernah ia lakukan dulu."
Kenzo mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan maksud ucapan Mommy-nya. "Maksud Mommy?"
Luna hanya menyunggingkan senyum, enggan membahas masa lalu itu. "Itu hanya masa lalu. Tidak usah kamu pikirkan. Yang penting sekarang, putra Mommy yang paling tampan ini, tidak boleh lagi berpikir buruk kepada daddy-nya."
Kenzo membuang wajahnya. Meski wajah mommy-nya menyunggingkan senyum, tetapi mata itu tidak bisa berbohong. Wanita paling dihormati Kenzo itu, sedikit berkaca-kaca. Terus terang, mommy-nya adalah kelemahan terbesarnya saat ini. Hatinya terasa sakit jika terlalu lama melihat wajah sendu wanita yang telah melahirkannya itu.
Luna tersenyum maklum melihat sikap putranya itu. "Kamu sudah mempersiapkan sesuatu untuk pameran bulan depan, kan? Mommy ingin karya terbaikmu yang nanti akan dipajang di sana." Luna bangkit dari duduknya lantas mengambil gelas kosong yang tadi diletakkannya begitu saja. Wanita paruh baya itu juga memberikan kecupan singkat kemudian tersenyum lembut. "Istirahatlah. Mommy harap, esok akan lebih baik dari hari ini."
***
Rara menekan bel rumahnya dengan brutal. Dia sungguh ketakutan karena merasa ada yang mengikutinya sejak keluar dari rumah Satria. Bahkan ketika di dalam taksi pun, hatinya sungguh tidak tenang.
Gadis bermata bulat itu langsung berlari ke pelukan mamanya ketika pintu rumah akhirnya dibukakan. Sang mama mengernyit ketika merasakan tubuh putrinya itu sedikit bergetar.
"Hei, ada apa?" tanya mama Rara lirih sembari mengusap punggung putrinya itu.
Merasa tidak ada jawaban, wanita paruh baya itu memanggil bantuan dari dalam rumah. "Rizky!"
Rizky dan Aidan langsung berlari keluar setelah mendengar teriakan mamanya diikuti oleh yang lain.
"Ada apa?" tanya Rizky cemas. "Rara kenapa?"
"Mama tidak tahu," jawab Mama yang juga tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. "Tolong bantu Mama."
Rara menggelengkan kepalanya seraya mengeratkan pelukannya. "Tolong biarkan seperti ini. Rara hanya ingin Mama."
Semuanya masih terdiam. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu Rara tenang.
Tak butuh waktu lama, Rara melepaskan pelukannya. Tangannya mengusap kasar air mata yang tersisa lantas mencoba memberikan senyuman kepada keluarganya. "Jangan khawatir."
Aidan merangkul pundak Rara lantas menggiringnya ke ruang keluarga agar lebih nyaman. Ia mendudukkan Rara di sofa lantas mengusap kepalanya lembut. "Lebih baik?" tanyanya.
Rara menyunggingkan senyum. "Terima kasih."
"Mama akan buatkan teh," ujar Mama yang langsung sigap menuju dapur.
Papa menatap Rara cemas. Rara merasa bersalah melihat wajah tua itu selalu mencemaskannya. Ia menyesal selalu membuat keluarga ini kalang kabut mengurusinya yang kadang tidak tahu diri.
"Ada apa? Kenapa ketakutan seperti itu? Ada yang mengganggumu?"
Rara meremas jemarinya. Pertanyaan Papa mengingatkannya akan sosok misterius yang mengikutinya sejak tadi. Rara meragu untuk menceritakannya. Ia takut membuat keluarganya semakin cemas.
"Katakan saja," tuntut Aidan. "Jika ada yang membuatmu resah, katakan kepada kami. Kami keluargamu, bukan orang asing."
Mata Rara berkaca-kaca mendengarkan ucapan sendu Aidan. Rara sungguh semakin merasa bersalah. "Maafkan Rara," ujar Rara tercekat karena menahan isakan. "Rara sungguh takut. Sejak pulang tadi, ada orang yang mengikuti. Mungkin hanya bayangan Rara, tapi Rara sungguh merasakannya. Orang itu mengikuti Rara. Rara takut."
Tangis Rara kembali pecah hingga Aidan harus menenangkan adik kesayangannya itu dalam pelukan. Aidan cemas, begitu pula Papa dan Rizky. Ketakutan mereka akhir-akhir ini mulai terbukti. Dendam masa lalu yang belum terselesaikan pada akhirnya akan menuntut bayarannya.
***