BAB 21(b)

1196 Kata
Rara mengerutkan dahinya ketika memasuki ruang makan. Suasana sepi langsung menyambutnya, sangat berbeda dari biasanya yang heboh dan ramai. "Siang ini Papa terbang ke Korea," ujar Gio memecah keheningan. "Kalian jaga diri baik-baik." Semuanya hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Mulai hari ini, Papa tidak mengizinkan kegiatan apa pun setelah pulang sekolah. Akan ada sopir yang mengantar jemput Rara dan Laila jika Rizky atau Aidan sibuk. Papa tidak ingin lagi mendengar penolakan dan alasan apa pun." Final. Nada tegas Gio pertanda tidak ingin dibantah siapa pun, kecuali Rara. Gadis bersurai panjang itu menunjukkan keberatannya. Meski terkesan lembut, papanya itu paling tidak suka dibantah dan selalu memutuskan semuanya sendiri tanpa memikirkan perasaan anggota keluarga yang lain. "Rara ada les, Pa. Lagi pula, kenapa harus diantar jemput, sih? Jarak rumah ke sekolah hanya sepuluh menit. Masih sekomplek juga, kan?" protes Rara tegas. Ia paling tidak suka berangkat sekolah menggunakan mobil. Apalagi sekarang ia tahu statusnya di rumah ini. Tentu Rara tidak bisa lagi seenaknya menggunakan fasilitas yang memang seharusnya bukan miliknya. Gio meletakkan sendoknya kasar hingga membuat semuanya berjengit karena kaget. "Papa sudah menyiapkan guru privat di rumah, jadi tidak alasan lagi." Gio terlihat mendesah pelan, menyadari kesalahannya karena sedikit terpancing emosi. Ia pun melirik istrinya yang ternyata memberinya tatapan menegur. Gio menghela napas panjang untuk mengatur emosinya. "Papa hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian. Dengan ini Papa bisa tenang karena Papa tidak bisa ada di sini selama dua puluh empat jam untuk melindungi kalian." Rara menundukkan kepalanya. Ia sadar jika semua ini pasti karena ceritanya kemarin. Dia menyesal karena telah bersikap jujur. Seharusnya hal seperti itu dia simpan sendiri saja. Lain kali, Rara akan berusaha menyimpan masalahnya sendiri. Ia tidak mau keluarga yang telah menampungnya selama ini juga ikut kesulitan karenanya. "Sudah. Lanjutkan sarapan kalian," ujar Mama lembut, mencoba memecah ketegangan. "Jangan berdebat di depan makanan. Hmm." Pada akhirnya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari atau lari dari aturan ketat yang dibuat sang kepala rumah tangga. Rara harus puas dengan apa yang didapatnya sekarang. Dia tidak mau menjadi anak yang tidak tahu diri dengan lebih banyak menyusahkan keluarga yang telah dengan baik merawatnya selama ini. *** Rara memilih melewati jalan memutar untuk sampai ke kelasnya. Ada rasa tidak nyaman ketika Rara tahu ada yang membicarakannya. Tampaknya gosip kemarin belum mereda. Rara memang sengaja tidak memberi tahu keluarganya. Ia takut kejadian dulu terulang kembali. Rara tidak mau tahun terakhirnya di sekolah kacau. Gosip macam ini, harus bis ia selesaikan sendiri tanpa melibatkan keluarganya. Jalan memutar tidak buruk juga. Rara jadi bisa menikmati sudut sekolah yang sepi dan tenang. Ia melewati perpustakaan, laboratorium, dan ruang musik. Saat melewati koridor ruang musik, Rara mendengar suara-suara. Sayup-sayup terdengar suara dentingan piano. Musiknya terlalu mengentak seperti orang yang tengah marah. Rara mengintip melewati jendela yang tirainya sedikit menyingkap. Musik penuh amarah itu entah kenapa terdengar penuh kesedihan di telinga Rara. Jika biasanya Rara akan melihat Satria di balik piano, saat ini ia melihat Kenzo. Kenzo—pria arogan dan berkuasa—terlihat begitu rapuh ketika berada di depan piano. Baru pertama kali ini, Rara melihat permainan penuh emosi dari Kenzo. Seperti ditusuk oleh ribuan jarum, hati Rara ikut merasakan pilu melalui musik itu. "Apa yang membuatmu pagi-pagi berada di sini?" Permainan piano menguras emosi itu akhirnya berakhir ketika seorang wanita cantik tiba-tiba datang mengahampiri Kenzo. Tatapan wanita itu terlihat sendu seolah merasa bersalah. Clarissa berdiri tepat di samping Kenzo, menghela napas panjang "Apa seberat itu? Aku—" Clarissa menghentikan ucapannya ketika Kenzo tiba-tiba berbalik dan memeluknya. Wanita bersurai kecokelatan itu tampak terkejut akan perlakuan mendadak itu. Clarissa merasakan bahu Kenzo bergetar. Remaja tujuh belas tahun itu tengah menangis, menumpahkan semua emosinya. Clarissa tersenyum kecil kemudian mengusap punggung siswa tersayangnya itu. "Tidak apa-apa," ucapnya menghibur. "Tidak ada yang salah." Clarissa sudah lama mengenal Kenzo sejak masih kanak-kanak. Kenzo yang dulu dikenalnya sebagai anak periang dan penuh semangat, kini telah berubah menjadi pria yang egois dan pendiam. Sedikit banyak, Clarissa tahu penyebab perubahan sifat Kenzo. Rara menutup mulutnya, menahan isakan yang hampir keluar. Baru pertama kali ini ia melihat Kenzo menangis. Lelaki yang begitu ia cintai itu, kini terlihat sangat rapuh. "Kenapa harus dengannya?" ujar Rara lirih di sela tangisnya. "Seharusnya gue orang pertama yang mengatakan itu. Tapi, sekarang lo ada di pelukan orang lain. Orang lain, bukan gue." Sebelum hatinya semakin sakit, Rara memutuskan meninggalkan ruang musik. Namun, langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menghalanginya. "Apakah sesakit itu?" Suara bariton itu sangat Rara hafal. Entah kenapa, saat mendengarnya, tangis Rara justru semakin kencang. Ia tidak menahannya lagi hingga membuat dadanya sesak. "Apa yang harus aku lakukan, Satria?" ujar Rara pilu. "Kenapa aku masih mencintai lelaki itu padahal aku tahu hatinya telah termiliki? Cintaku buta. Cintaku memilukan." Satria mati-matian menahan air matanya. Melihat orang terkasihnya menangis pilu seperti itu, membuat hatinya sakit. Dia merasa tidak berguna karena tidak bisa mengurangi kesedihan gadisnya itu. "Tidak apa-apa. Ada saya di sini." Suara Satria sedikit bergetar ketika mengucapkannya. "Menangislah jika kamu ingin menangis. Sebanyak apa pun kamu menangis, saya akan ada untuk menghapusnya. Tidak apa-apa. Saya akan selalu di sini." Tangis Rara semakin memilukan. Satria memejamkan matanya, meresapi semua kepedihan itu, lantas menyimpannya di dalam hati sebagai pengingat agar kelak ia tidak menjadi penyebab tangis gadis bermata bulat itu. *** Satria masih setia menemani Rara yang tengah berusaha menenangkan hatinya. Ia bahkan rela membolos jam pertama demi gadis itu agar tidak sendirian. Satria cukup tahu diri untuk tidak terlalu menekan Rara. Sejak tadi, ia hanya diam, duduk di samping gadis itu, ikut meresapi setiap isakan yang keluar dari bibir Rara. "Sebaiknya kamu masuk kelas. Aku tidak ingin kamu ketinggalan pelajaran karena menemaniku di sini," ujar Rara sedikit parau. Meski tangisnya sudah mereda, mata sembab itu tidak bisa berbohong bahwa gadis itu telah menangis banyak. "Saya akan di sini," jawab Satria dengan suara beratnya yang maskulin. "Suka tidak suka, saya akan selalu ada di saat kamu membutuhkan. Dan saya yakin, saat ini kamu sedang membutuhkan saya." Rara menatap Satria dengan mata sembabnya. Ditatapnya wajah tampan dengan garis dagu yang tegas. Kulit kecokelatan yang sehat itu terlihat sangat maskulin. Alis tebal dengan bulu mata panjang membuat kesan lembut. Satria bisa dikatakan sempurna. Pantas saja, dalam waktu singkat ia bisa menjadi idola sekolah, menyaingi popularitas Kenzo. "Kamu sangat tampan," ujar Rara lirih. Satria hanya diam, tidak menanggapi ucapan gadis itu. "Seharusnya kamu bisa berbahagia dengan wajah tampan ini. Dengan berada di sekitarku, kamu akan mendapatkan kesialanku. Kita baru kenal beberapa minggu saja, kamu sudah mendapatkan gosip jelek. Kamu tidak seharusnya berada di dekatku." "Memangnya ada melarang saya dekat denganmu?" Satria akhirnya membuka mulut. Pria itu sudah berusaha menahan emosinya. Ia paling tidak suka Rara berbicara seperti itu. "Masalah gosip seperti ini, saya sudah biasa mendapatkannya. Justru bukan kamu yang membawa sial. Sayalah yang membawa kesialan ke hidup kamu." "Seharusnya—" "Sudah cukup," potong Satria cepat saat Rara hendak melontarkan bantahannya. "Jangan banyak omong yang tidak perlu. Gosip seperti ini sangat ringan. Jangan terlalu memikirkannya. Saya berjanji kepada kamu bahwa gosip tentang kita akan menghilang dalam beberapa hari. Kamu percaya saya, kan?" Bagai terhipnotis suara berat Satria, Rara hanya menganggukkan kepala. Entah kenapa, ia sangat percaya dengan pria yang baru dikenalnya beberapa minggu itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN