Suara nyaring pecahan gelas terdengar di penjuru ruangan besar bergaya eropa klasik itu. Dua orang bersetelan hitam tampak berjengit karena terkejut. Mereka tahu jika bos besarnya tengah marah. Mereka paham betapa memgerikannya kemarahan sang atasan hingga mereka pun memilih untuk menundukkan wajah, takut menatap mata tajam itu secara langsung. "g****k!!!" geram Adit seraya mendekati kedua bawahannya. Ia pun tak segan-segan memberikan bogem mentah kepada keduanya. "Ngurus bocah kecil saja, tidak becus! Bagaimana mungkin dia masih hidup? Kalian g****k atau gimana?" "Maafkan kami, Tuan." Salah satu dari pria tegap bersetelan hitam itu berujar lirih. Ada nada ketakutan dari suaranya. Jika dilihat dari postur tubuh dan usia, seharusnya ia bisa dengan mudah menjatuhkan Adit. Namun, entah kena

