BAB 31

1117 Kata

Rara mengutuk kebodohannya. Sudah tahu jika pembinaan lomba akan selama ini, tetapi ia tetap saja memaksa untuk menunggu. Sekarang ia bosan setengah mati, menunggu Laila di pos satpam yang kebetulan dekat dengan tempat adiknya pembinaan. Rara mengembuskan napasnya. Uap yang keluar dari mulut dan hidungnya pertanda bahwa hujan sore ini membuat udara lebih dingin dibandingkan biasanya. Sejak bahunya patah beberapa tahun lalu, gadis itu memang tidak pernah akrab dengan dingin. Sebenarnya, sejak tadi kakak-kakaknya sudah menghubunginya dan mengirim pesan untuk menjemput, tetapi Rara menolak. Ia beralasan menunggu Laila agar adiknya itu tidak pulang sore sendirian. Padahal, alasan Rara yang sebenarnya adalah ia ingin menenangkan pikirannya dulu sebelum pulang. Jujur saja, percakapannya dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN