Rara merasa dia baik-baik saja. Dia merasa sudah sangat sehat meski bahu kirinya masih harus ditopang dengan arm sling. Rara sudah tidak tahan lagi dikurung di rumah seharian dengan aktivitas yang terbatas. Apalagi Aidan yang telah didukung sepenuhnya oleh orang tuanya membatasi kegiatan dan membuat sejuta larangan, menjadikan hidup Rara serasa di penjara. Rara tahu jika semalam kakaknya itu harus kembali ke asrama karena ada ujian akhir. Dia rasa ini adalah kesempatan emas untuk bisa keluar dari segala siksaan batin yang dibuat kakaknya itu. Meski dengan berat dan diskusi yang alot, Rara akhirnya mendapat restu dari mamanya untuk bisa kembali bersekolah.
"Jangan melakukan sesuatu yang bodoh," pesan Mama serius ketika melihat Rara sudah duduk di meja makan lengkap dengan seragam dan tas sekolahnya.
Rara menghela napas berat. "Memangnya Rara mau melakukan apa? Rara hanya mau sekolah, bukan pergi perang. Mama berlebihan."
Mama menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu. Setelah beberapa hari lalu tergeletak tak berdaya di rumah sakit, kini sifat keras kepalanya kembali muncul. "Kamu pikir Mama tidak tahu isi kepalamu itu? Jangan mencoba mencari batas kemampuan tubuhmu. Bahumu tidak sekuat dulu lagi."
Rara mengabaikan petuah mamanya dengan terus menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Dia tentu sudah tahu batasan untuk tubuhnya. Gadis bersurai panjang itu benci jika terus diingatkan tentang kelemahannya.
"Pokoknya, Mama tidak mau mendengar kamu dekat-dekat dengan basket. Kesepakatan kita setahun lalu masih berlaku. Kemarin kamu telah melanggarnya hingga kami kecolongan. Jangan harap kali ini kamu bisa bebas."
"Tapi, Ma—"
"Mama sudah menyampaikan ke sekolah bahwa kamu mengundurkan diri dari tim basket," potong Mama cepat. "Mama tidak peduli jika kamu hanya sebagai ketua bayangan tanpa bertanding. Selagi kamu masih berada di tim basket, Mama tidak bisa tenang."
Rara meletakkan sendok makannya dengan kasar lantas menatap mamanya penuh protes. "Basket adalah hidup Rara, Ma. Bagaimana mungkin Rara bisa melepaskan basket begitu saja? Mama terlalu berlebihan. Kalian semua terlalu berlebihan. Rara juga memiliki mimpi dan keinginan. Kalian tidak bisa bersikap seenaknya. Ini hidup Rara. Rara sendiri yang akan memutuskannya."
"Mama tidak mau berdebat," ujar Mama berusaha tenang tidak terpancing emosi. "Mama dan Papa sudah memikirkan ini dengan baik. Semua ini kami lakukan demi kebaikanmu."
"Kebaikan yang mana, Ma? Papa bahkan tidak ada di sini untuk membicarakan semua ini dengan Rara. Mama dan Papa tidak bisa mengambil keputusan seenaknya. Rara sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan sendiri."
Rara meninggalkan meja makan dengan marah. Dia langsung menyambar tasnya tanpa menghiraukan mamanya dan Laila yang hanya diam mendengarkan perdebatan sejak tadi.
***
Tanpa Rara sadari, langkah kaki telah membawanya ke lapangan basket. Rara mendudukkan dirinya di bangku pinggir lapangan. Lapangan masih sepi dengan genangan kecil di sekitar lapangan akibat hujan semalam.
Rara mendesah pelan, mencoba menghilangkan kekesalannya pagi ini. Bagi Rara, basket adalah segalanya. Basket sudah menjadi bagian hidup Rara. Sejak pindah ke sekolah ini lima tahun lalu, Rara sudah jatuh cinta dengan olah raga itu.
"Seharusnya gue enggak pindah ke sini," ujar Rara lirih. Pandangannya menerawang pada ring basket. "Rasanya jauh lebih sulit daripada di-bully. Mereka memang terlalu berlebihan."
"Ngapain melamun di sini?"
Rara sangat hafal suara berat itu. Kesadarannya mulai terkumpul lantas memastikan pendengarannya tadi tidak salah. Lelaki berwajah aristokrat itu kini tengah memandangnya. Tubuhnya yang tinggi, berdiri menjulang di hadapannya. Sungguh tidak akan ada yang mengelak kesempuranaan ciptaan Tuhan yang satu ini. Kenzo memang sangat menawan dilihat dari sudut mana pun.
"Eh, siapa yang melamun? Lo salah lihat mungkin?" sanggah Rara salah tingkah.
Rara semakin salah tingkah ketika Kenzo duduk di sebelahnya. Tubuh Rara mulai panas dingin karena mereka memang belum pernah sedekat ini tanpa saling melempar u*****n.
"Gimana kabar lo? Bahu lo sudah baikan?"
Rara mengerjapkan matanya tak percaya. Kenzo William Adams yang dia kenal sebagai lelaki angkuh sejagad raya kini berkata dengan sopan dan halus kepadanya, membuat Rara mulai meragukan pendengarannya.
Merasa tidak mendapat jawaban, Kenzo melihat Rara dengan cemas. "Lo sakit, Ra? Seharusnya lo istirahat di rumah saja. Wajah lo terlihat merah. Lo demam?"
Rara menggelengkan kepalanya cepat, menolak ucapan Kenzo. "Gue baik-baik saja kok. Gue hanya istirahat sebentar di sini sebelum jalan lagi ke kelas. Lo kan tahu kalau kelas kita jauh di ujung. Pegel banget kalau harus sekali jalan dengan keadaan gue yang seperti ini," jawab Rara gugup setengah mati. Wajahnya memerah bukan karena demam, tetapi karena Kenzo menatapnya begitu lekat. Rara benar-benar akan mati berdiri jika Kenzo terus berada di dekatnya seperti ini.
Kenzo menatap Rara, meneliti setiap incinya. Pandangannya terpaku pada arm sling di bahu kiri gadis itu. Kenzo mendesah pelan. Rasa bersalah kembali merayapi hatinya. Dia menyesal kemarin memaksa Rara bermain. Dia lupa dengan batasan Rara. Seharusnya dia tidak terbawa emosi seperti kemarin.
"Maaf."
Rara mengerutkan dahinya ketika mendengar kata maaf dari Kenzo. "Maaf? Untuk apa?"
"Karena gue lo seperti ini," ujar Kenzo lirih.
Rara menggelengkan kepalanya. "Lo salah paham. Semua terjadi karena sudah takdir," elak Rara. "Sudahlah, Ken. Gue baik-baik saja kok. Enggak usah merasa bersalah. Lagipula, saat itu gue tahu konsekuensinya saat menerima tawaran bertanding."
Rara tersenyum sepenuh hati untuk meyakinkan Kenzo, meski sebenarnya Rara tersenyum untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja.
"Lima menit lagi bel. Sebaiknya kita ke kelas," ujar Rara masih dengan senyum manisnya. Saat Rara hendak meraih tasnya, tangan Kenzo jauh lebih cepat mengambilnya.
"Biar gue saja," ujar Kenzo singkat lantas berjalan mendahului Rara yang masih terpaku dengan kejadian langka itu.
Rara menyunggingkan senyumnya setelah sepenuhnya tersadar dari keterkejutan. Mungkin Rara sudah berlebihan hari ini, tetapi Rara tetap boleh berharap, kan? Mendapatkan hati Kenzo bisa menjadi sebuah keberuntungan di antara ketidakberuntungannya selama ini. Bolehkah?
***
Rara disambut bagai pahlawan ketika memasuki kelas. Dia sangat terharu sekaligus senang bisa kembali bersama teman-teman kelasnya. Meski terkadang teman-temannya itu sedikit menyebalkan, kebersamaan selama hampir tiga tahun di jenjang Sekolah Menengah Atas telah berhasil menutupi semua itu.
"Gue seneng banget lo kembali sekolah." Gian adalah orang pertama yang menyalaminya. Rara membalas sapaan Gian dengan senyuman terbaiknya. "Kami sudah kangen berat sama lo. Terutama si Riko. Setiap hari dia uring-uringan ketika masuk kelas."
Riko menyikut Gian. Rara bersumpah melihat wajah Riko memerah karena malu saat Gian mengatakan itu. Meski Rara tidak mau berspekulasi dengan ucapan Gian barusan, Rara tetap menghargai semua bentuk kasih sayang dari teman-temannya untuk dirinya.
"Terima kasih untuk semua perhatian kalian," jawab Rara dengan mata berkaca-kaca kepada semua teman-teman yang mengerubunginya. "Berkat doa dan kasih sayang kalian, gue bisa sembuh dengan cepat."
"Sekali lagi kalian buat Rara nangis, gue bakal buat perhitungan kepada kalian semua," ancam Kira tajam sembari menarik Rara ke dalam pelukannya.
"Issh, lo kok ngatur-ngatur sih? Suka-suka kita dong," ucap Gian tak terima.
Rara melepaskan diri dari pelukan Kira lantas melemparkan senyum kepada semua yang ada di sana. Meski pandangannya kini telah berkabut karena air mata, tetapi Rara berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa dia senang dengan perhatian yang diberikan mereka.
"Terima kasih untuk semua," ujar Rara. "Ini yang selalu buat gue rindu sekolah. Asal kalian tahu, gue bisa mati kebosanan jika lebih lama tinggal di rumah sakit."
"Salah lo sendiri, enggak ngebolehin kita nengok. Udah gitu, kakak lo yang super galak itu ngelarang kita masuk. Padahal kita sudah sampai di depan kamar rawat lo," ujar Gian kesal yang sepertinya mewakili kekesalan teman sekelasnya yang juga mendapat penolakan yang sama ketika berniat menengok Rara.
Rara meringis merasa bersalah. "Gue butuh banyak istirahat. Jadi, memang enggak bisa diganggu," jawab Rara.
"Tapi Namira sama Satria bisa nengok lo," protes Kira tak terima. "Jika saja hari itu gue enggak ada jadwal les, gue bisa datang bareng mereka."
"Lo kok pilih kasih, Ra," protes Riko tak terima.
Rara merasa tenggorokannya mendadak kering. "Eh, enggak kok. Cuma setelah gue ditengok, gue merasa kelelahan. Makanya untuk sementara memang enggak boleh ditengok."
Rara merasakan ekspresi Kenzo berubah. Nama Satria memang terlalu sensitif diucapkan di kelas ini setelah beberapa kejadian yang melibatkan Satria dan Kenzo.
Teman-teman sekelas Rara nampaknya menerima penjelasan Rara. Berbeda dengan yang lain, Kenzo malah terlihat lebih waspada seakan menuntut penjelasan lebih kepada Rara. Rara tidak mau bencana besar terjadi di hari pertamanya kembali ke sekolah.
***