Rara tidak bisa menolak ketika Kira memaksa pergi ke kantin ketika istirahat. Sebenarnya Rara masih malas keluar kelas. Apalagi dengan bahu kirinya yang masih sakit sehingga membatasi geraknya.
Seperti hari-hari biasa, kantin sangat ramai dengan siswa-siswa yang ingin memulihkan tenaga setelah berperang dengan berbagai macam pelajaran. Rara mendesah pelan ketika tak mendapati tempat kosong di kantin yang memang penuh sesak itu.
"Duh, rame banget. Gue balik ke kelas, ya," keluh Rara.
Kira menarik lengan Rara ketika gadis itu hendak melangkahkan kakinya pergi dari kantin. "Nanggung banget, Ra. Gue laper. Emang lo tega ninggalin gue sendirian di kantin?"
Rara menghela napas lelah. Jika Kira sudah mengeluarkan jurus merajuk seperti anak kucing minta diberi makan, Rara tidak akan tega menolaknya.
"Sebaiknya cepet cari tempat duduk. Bahu gue pegel nih. Kelamaan berdiri," ujar Rara sembari mengedarkan pandangannya mencari tempat yang kosong. Rara melihat Farros hanya duduk berdua dengan Ojan yang masih menyisakan dua kursi kosong, tetapi Rara sedang malas mencari masalah. Dia tidak mau hari pertamanya sekolah setelah sekian lama absen rusak karena harus adu mulut dengan Ojan. Sejak awal, Rara memang tidak terlalu suka dengan teman Kenzo yang satu itu.
Ketika Rara dan Kira sibuk mencari tempat duduk, mereka dikejutkan dengan kedatangan Namira yang tiba-tiba menarik lengan Rara yang bebas. Tanpa bisa menolak, Rara hanya bisa pasrah mengikuti Namira.
"Lo berdua tunggu di sini saja. Biar gue yang pesen makanan," ujar Namira setelah berhasil mendudukkan Rara di salah satu kursi kosong.
"Gue ikut lo, Nam," ujar Kira yang kini telah menyusul Namira.
Rara pun kembali pasrah ditinggal kedua sahabatnya itu. Jika saja bahunya tidak sakit, dia mana mau dilayani seperti ini. Rara mendesah kesal. "Enggak guna."
"Jangan menyesali apa pun. Anggap saja kamu beruntung memiliki teman seperti mereka."
Rara sedikit terperanjat ketika mendengar suara Satria di dekatnya. Dia benar-benar tidak menyadari kehadiran pria itu di sana. Seperti biasa, Satria tersenyum lembut kepadanya.
Rara mengerutkan dahinya ketika melihat sesuatu yang berbeda dengan pria bergaris wajah keras itu. "Kamu mewarnai rambut lagi?"
Satria meringis malu. "Saya terpaksa melakukannya."
"Pak Burhan mengancam akan mengecatnya dengan warna pelangi," jawab Namira yang tiba-tiba sudah datang dengan satu nampan penuh berisi makanan. Kira juga menyusul di belakangnya dengan membawa hal yang sama.
"Apa boleh buat? Saya tidak bisa melakukannya di sekolah ini," ujar Satria santai sembari mengambil semangkuk bakso di hadapan Namira.
"Emang di sekolah lo yang dulu, boleh mewarnai rambut?" tanya Namira penasaran.
"Boleh," jawab Satria tanpa ragu. "Saya sering mewarnai rambut. Terakhir kali warna hijau neon."
"Serius?" tanya Kira tak percaya.
Satria menganggukkan kepalanya. "Saya memang tidak mendapat masalah di sekolah. Tetapi saya mendapatkan beberapa pukulan rotan di rumah."
Rara, Namira, dan Kira nampak terkejut dengan ucapan Satria. Rara sampai tidak jadi memasukkan bakso yang sudah disendok ke mulutnya.
"Kamu dipukul?" tanya Rara memastikan. Dia hanya tidak percaya orang sebaik dan selembut Satria bisa kena pukul ayahnya. Papanya saja tidak pernah memukul atau membentak meski Rara dan saudara-saudaranya sering membuat masalah.
Satria menganggukkan kepalanya ringan seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sangat biasa untuk dibicarakan. Namun, Satria akhirnya sadar jika ucapannya justru membuat cemas ketiga gadis itu.
"Anak laki-laki biasa dipukul ayahnya jika nakal. Tidak usah terlalu cemas," ujar Satria berusaha mencairkan suasana yang mendadak kaku. "Lagi pula, sekolah di sini sangat menyenangkan. Saya tidak akan berbuat sesuatu yang membuat saya dikeluarkan dari sini."
Rara menatap Satria serius. "Dikeluarkan?"
"Hmm," jawab Satria ringan. "Saya sudah tiga kali pindah sekolah dalam setahun."
Satu lagi fakta yang membuat Rara merasa tertampar. Selama ini dia memang tidak tahu apa-apa tentang Satria. Pria dihadapannya itu seperti sebuah misteri.
"Kenapa?" tanya Rara lagi. Namira dan Kira hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa berniat mencampurinya.
"Melanggar aturan, bolos sekolah, memukul guru. Pokoknya hal-hal seperti itu. Saya tidak tertarik dengan sekolah. Terlalu membosankan," jawab Satria enteng lantas memakan suapan terakhir baksonya.
"Tapi kamu terlihat berbeda," ujar Rara tak percaya. "Kamu sedang mengarang cerita, ya?"
"Buat apa saya melakukannya? Lagi pula, sekolah atau tidak, tidak akan berpengaruh kepada saya. Saya hanya tidak tega mendengar Ibu yang terus memohon agar saya menyelesaikan pendidikan."
Rara semakin tidak mengerti. Semakin Satria bercerita, Rara semakin tidak tahu harus bagaimana. "Sebenci itukah kamu dengan sekolah?"
"Entahlah," jawab Satria. Kali ini pandangannya menerawang entah kemana. "Saya hanya tidak mendapatkan alasan untuk tetap terkurung di penjara yang mengatasnamakan sekolah. Tetapi—"
Satria tiba-tiba manatap Rara. Entah mengapa Satria bisa begitu terbuka kepada orang yang baru saja dia kenal. Satria seperti keluar dari sifatnya setelah mengenal gadis bersurai panjang di hadapannya ini. Mata itu, hidung itu, bibir itu telah berhasil menyihirnya.
"Tetapi sekarang saya memiliki alasan untuk bertahan di sini," ujar Satria tanpa melepaskan tatapannya dari Rara.
Rara sedikit salah tingkah. Sedangkan Namira dan Kira hanya bisa terdiam mendengar semuanya.
Semua terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Keterbukaan Satria masih membuat mereka terkejut hingga harus membutuhkan waktu untuk memikirkannya.
Perhatian Rara tiba-tiba teralihkan ketika melihat Farros berlari keluar kantin. Kasak-kusuk mulai terdengar dan sedikit menganggu.
"Kenzo memukul Pak Jan," ujar Kira setelah membaca pesan di grup obrolan kelas.
Rara langsung meninggalkan kantin setelah mendengar ucapan Kira. Meski Kenzo adalah pria yang arogan dan sombong, dia tidak pernah sekali pun memukul orang. Pikiran Rara semakin kalut ketika melihat kerumunan di depan kantor kepala sekolah.
Rara bisa mendengar teriakan dan sumpah serapah Kenzo dari tempatnya berdiri sekarang. Rara perlahan mendekati ruang kepala sekolah. Jantungnya berpacu dengan kencang. Rara bisa merasakan kemarahan Kenzo.
"Saya tidak mau meminta maaf kepada b******n ini!"
Teriak Kenzo dengan mata yang berkilat tajam. Rara bisa begitu jelas melihat kemarahan dari matanya itu. Rara masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. Selain Kenzo dan kepala sekolah, di sana ada wali kelasnya, Pak Jan, dan Miss Clarissa yang menundukkan kepalanya dengan mata sembab. Rara mencoba mencari benang merah dari apa yang dilihatnya. Mungkinkah amarah Kenzo karena Miss Clarissa? Apa yang terjadi hingga membuat Kenzo semarah itu?
"Sebaiknya turunkan dulu emosimu, Nak!" suara lembut sang kepala sekolah mencoba menenangkan situasi. "Masalah ini tidak akan selesai jika dihadapi dengan emosi."
"Saya tidak terima diperlakukan seperti ini!" Kali ini giliran Pak Jan angkat bicara. "Anak ini harus ditindak tegas. Reputasi sekolah bisa rusak karena kelakuannya."
"b******n! Beraninya bicara seperti itu!" Emosi Kenzo kembali membara. Rara bergidik ngeri menyaksikan semua itu. Kenzo terlihat seperti seekor singa yang siap menerjang mangsanya tanpa ampun. Hampir saja Kenzo melayangkan tinjunya kepada Pak Jan yang sudah terlihat babak belur itu tetapi berhasil dicegah Pak Kasturi.
"Bapak sudah memanggil ayahmu," ujar Pak Kasturi.
"Bagus kalau begitu," jawab Kenzo ponggah. "Sekalian saya akan meminta Daddy memecat b******n ini."
***