Kenzo tidak kembali ke kelas setelah kejadian tadi siang. Rara sudah bisa menebak apa yang terjadi. Meski Kenzo adalah putra dari pemilik yayasan sekolah, dia tidak bisa melenggang begitu saja dari hukuman. Meski berkuasa, keluarga Kenzo tidak pernah memanfaatkan kekuasaannya untuk melanggar aturan.
Rara membuang napasnya asal. Dadanya sedikit sesak saat memikirkan Kenzo. Kejadian siang tadi begitu mengganggunya. Kenzo yang biasanya menahan untuk tidak main tangan, akhirnya tak bisa bertahan. Clarissa. Satu nama yang Rara yakini sebagai penyebab semua ini. Sebegitu cintanya Kenzo kepada guru musik itu hingga dia berani melanggar aturan berat? Benarkah sudah tidak ada kesempatan untuk Rara lagi? Memikirkan hal ini membuat dadanya semakin sesak.
Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit lalu, tetapi Rara enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia bahkan merebahkan kepalanya di meja dengan lengan kanan sebagai alas. Beberapa kali Rara mendesah pelan yang tak luput dari perhatian Kira.
"Lo enggak pulang, Ra?" tanya Kira cemas. Sejak tadi Kira mengamati tingkah aneh sahabatnya itu. Kira tahu Rara tidak akan mudah bercerita, meski hal itu akan membuatnya terganggu. Rara justru akan semakin menarik diri jika merasa dipaksa atau ditekan.
"Gue males," jawab Rara malas. "Lo pulang saja duluan."
Kira semakin cemas ketika Rara memejamkan matanya. "Lo sakit, Ra? Pulang bareng gue, ya?"
Rara menghela napas beratnya. "Gue di sini dulu, Ra. Gue akan pulang kalau ingin pulang."
Jika sudah seperti ini, Kira tidak akan memaksa Rara. Gadis berkacamata itu mengambil tasnya lantas menatap Rara sendu. "Gue balik dulu, Ra. Hubungi gue atau Namira kalau butuh sesuatu."
"Hmm," jawab Rara asal. Kira melihat Rara yang masih betah dengan posisinya, lantas melangkahkan kakinya keluar kelas.
Rara membuka matanya. Dia tahu, tidak sepantasnya bersikap dingin seperti tadi kepada Kira. Hanya saja, Rara sedang tidak ingin diganggu. Dia hanya ingin melindungi hatinya. Rara takut pertahannya akan runtuh jika harus berbagi dan mengungkapkan perasaannya kepada Kira.
"Rasanya sakit," ujar Rara lirih entah kepada siapa. "Sejak awal memang sudah salah. Seharusnya gue sadar diri. Lo b**o banget, Rara."
Bulir bening itu akhirnya jatuh membasahi pipi Rara. Rasa sakit itu kini tak tertahankan lagi. Rara akan menangis, sepuasnya, hingga sakit itu mereda. Setidaknya, di kelas ini Rara bisa bersembunyi ditemani sepi.
Pria itu menatap Rara dalam diam. Dia hanya berdiri sembari menatap bahu yang bergetar milik gadis bermata bulat itu. Melihat gadis itu menangis, membuat hatinya sakit. Tanpa bisa berbuat apa-apa, dia hanya terdiam sembari menatap sendu. Hingga dirasa tangis itu mulai mereda, dia berani mendekatkan diri untuk dapat menatap wajah gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikiran dan hatinya.
Satria menyejajarkan diri agar bisa melihat dengan jelas wajah Rara. Mata gadis itu terpejam dengan napas teratur, tertidur setelah lelah menangis. Bekas air mata masih sangat kentara membasahi wajah Rara, membuat hati Satria pilu.
"Jika mencintai sesakit itu, kenapa kamu tetap mempertahankannya? Apakah saya saja tidak cukup?" lirih Satria dengan menatap Rara sendu tanpa mengharap jawab. Pria itu lantas mendudukkan diri di depan Rara sembari merapikan anak rambut yang mulai menutupi wajah sembab itu.
"Tidurlah. Semoga semua akan terasa lebih baik setelah kamu memejamkan mata," ujar Satria lantas mengecup lembut pipi Rara yang basah, berusaha menyalurkan rasa nyaman dan aman kepada gadis pencuri hatinya itu. Rara tak nampak terganggu dengan kecupan singkat itu. Satria tersenyum tipis kemudian kembali menikmati menatap wajah cantik Rara yang tengah tertidur lelap.
***
Rara menggeliat kecil kemudian mengerjapkan mata untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk. Hari mulai gelap adalah hal pertama yang Rara sadari setelah kesadarannya sepenuhnya terkumpul.
Rara menegakkan punggungnya, sedikit menguap sembari melirik jam dinding.
"Setengah enam!" teriak Rara panik.
Saking paniknya, Rara berdiri mendadak dari posisinya. Sepertinya gadis bersurai panjang itu lupa jika lengan kirinya masih terikat dengan arm sling.
"Sial!" umpat Rara ketika rasa nyeri di bahunya datang. Rara kembali terduduk sembari memejamkan matanya berusaha menghalau nyeri yang tiba-tiba menyerang.
Setelah rasa nyerinya sedikit berkurang, Rara meraih ponsel di tasnya. "Sial!" Nampaknya hari ini memang bukan hari baik untuk Rara. Layar ponselnya berwarna hitam kerena kehabisan daya. Rara mengutuk kebodohannya kerena sering mengabaikan ponselnya. Sekarang benda itu jadi tidak berguna di saat penting seperti ini.
Sejak tadi Satria hanya memperhatikan kepanikan Rara tanpa ingin menyelanya. Sebenarnya Satria sudah sedikit cemas karena Rara tak kunjung bangun. Dia takut jika Rara sakit atau pingsan. Namun, kecemasannya sirna setelah melihat Rara terbangun dengan panik.
Satria mendekati Rara yang masih terduduk sembari menatap ponsel yang tergeletak di meja dengan kesal. Pria itu berdiri tepat di samping gadis itu, menyunggingkan senyumnya, lantas menawarkan bantuan.
"Saya akan mengantarmu pulang."
Rara sangat hafal suara itu meski tanpa melihat orangnya. "Sejak kapan kamu di sini?" ujar Rara acuh sembari membereskan kekacauan yang tadi buatnya. Kini Rara telah berdiri dengan tas yang tersampir di bahunya yang bebas, menatap pria yang masih setia berdiri dengan senyum terbaiknya.
"Biar saya yang bawa." Bukannya menjawab pertanyaan Rara, Satria justru meraih tas Rara kemudian berjalan mendahului gadis itu.
Rara mengekor Satria tanpa banyak berkomentar. Sekolah sudah sepi. Hanya tersisa satu dua siswa mengobrol di samping lapangan basket. Rara masih mengutuk kebodohannya karena tertidur di kelas sampai menjelang malam. Setelah ini dia pasti akan mendapat ceramah gratis dari orang rumah, terutama mamanya yang terlalu berlebihan.
Sebuah city car berwarna abu-abu berhenti di dekat lapangan basket yang merupakan lahan parkir untuk guru-guru dan tamu. Rara mengerutkan dahinya karena merasa mengenali mobil itu. Dugaan Rara tidak salah. Seorang pria berkulit putih dengan rambut hitam yang tertata rapi berjalan menghampiri Rara dan Satria. Rara membuang napas beratnya. Sepertinya kebebasan yang membahagiakan hanya akan bertahan selama sehari. Setelah itu hidup Rara kembali terpenjara.
"Apa yang terjadi? Ponselmu mati?"
Pria itu langsung memberondong Rara dengan pertanyaan dan kecemasan yang terlalu berlebihan menurutnya. Rara menghela napas sejenak lantas membalas tatapan cemas pria di hadapannya itu. "Tadi ketiduran, Kak. Ponsel Rara kehabisan daya."
Rara menjawab dengan malas. Rizky—kakak pertama Rara—tidak terlalu menunjukkan emosinya jika berhadapan dengan Rara. Tidak seperti Aidan, Rizky jauh lebih lembut dengan pembawaan tenang meski masih terlalu berlebihan menurut Rara.
"Temannya Rara?" tanya Rizky yang kini beralih menatap Satria yang sejak tadi terdiam di samping Rara.
Satria mengangguk kemudian mengulurkan tangannya. "Satria, Kak."
Rizky menerima uluran tangan Satria lantas tersenyum penuh arti kepada Satria. "Rizky, kakaknya Rara," ujar Rizky penuh penekanan dengan tatapan tajam meski masih mempertahankan senyum di bibirnya.
Satria menyadari hal itu. Sama seperti kakak Rara yang pernah ia temui sebelumnya, pria berlesung pipi di hadapannya ini juga terlihat kurang menyukai Satria. Namun, kakak Rara yang satu ini lebih bisa mengendalikan emosinya. Satria harus mengakui sikap dewasa pria di hadapannya ini.
"Kapan Kak Rizky pulang?" tanya Rara mengalihkan suasana canggung.
"Tadi siang," jawab Rizky singkat.
"Seharusnya Kakak enggak usah jemput Rara. Rara baru saja mau balik diantar Satria."
"Diantar? Dengan apa?" tanya Rizky dingin tetapi masih bisa mengendalikan dirinya.
"Motor, Kak," jawab Satria sopan.
Rahang Rizky terlihat mengeras, tatapannya tajam ke arah Satria tetapi masih bisa menahan diri untuk tetap tenang. "Motor? Seharusnya kamu tahu jika keadaan Rara masih belum memungkinkan. Motor terlalu berbahaya untuk Rara," tegur Rizky tanpa mengubah tatapan tajamnya.
Satria dan Rizky hanya saling berbalas tatapan. Satria tahu diri untuk tidak terlalu berkonfrontasi dengan Rizky. Dia tidak ingin membuat masalah terlalu dini dengan kakak dari gadis pujaannya.
"Sudahlah, Kak. Seharusnya kita berterima kasih karena Satria mau mengantar pulang. Kalau enggak, Rara terpaksa jalan kaki," ujar Rara menengahi. "Pulang sekarang, yuk. Pegel banget nih, kelamaan berdiri."
Rizky mengalihkan tatapannya kepada Rara. Ditatapnya gadis bersurai panjang itu dengan sendu. Melihat lengan berbalut arm sling itu, membuat hatinya sakit. Dia menyesal adiknya harus mengalami hal buruk seperti ini. Rizky mengusap lembut kepala Rara kemudian menganggukkan kepalanya. "Ayo pulang."
Rara tersenyum mendengar ajakan Rizky. Dia lalu menatap Satria sembari tersenyum. "Aku pulang bareng Kak Rizky, ya. Terima kasih atas semuanya," ujar Rara. "Mana tasku?"
"Biar saya saja," ujar Satria yang langsung memasukkan tas Rara ke dalam mobil Rizky. Satria juga membukakan pintu mobil untuk Rara yang langsung disambut dengan senyuman.
Satria masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mobil yang membawa Rara. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Satria melangkahkan kakinya menuju Ducati merah yang terparkir sendirian. Pria bersurai hitam itu menggeber motornya diiringi gerimis yang mulai turun perlahan.
***