Kenzo memasuki rumahnya dengan wajah memerah. Remaja tujuh belas tahun itu pun terus saja berjalan dan mengabaikan sapaan mommy-nya. Kenzo hendak langsung melangkahkan kakinya ke lantai dua, saat suara tegas sang daddy menghentikan langkahnya.
"Memangnya kamu mau ke mana, Kenzo William Adams?"
"Kamar," jawab Kenzo singkat.
"Sopan sekali membuang muka saat orang tua mengajak bicara. Belajar dari siapa?"
Kenzo berbalik tepat di depan tangga. Ia tahu jika daddy-nya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Meski terkesan suka bercanda dan bermain-main, daddy-nya adalah orang paling tegas yang pernah ia kenal. Karena sedang tidak ingin memperpanjang masalah dan menambah kemarahan sang ayah, Kenzo akhirnya berkata, "Ken lelah, Dad .... Bisakah kita bicarakan nanti saja?"
Satu-satunya wanita yang ada di sana pun bereaksi dengan mendekati ayah Kenzo. Disentuhnya lengan sang suami dengan lembut, lantas tersenyum untuk meredakan emosi pria di sampingnya.
"Kita akan bicara setelah makan malam," ujar wanita bersurai hitam itu lembut. Senyum hangat tak pernah pudar dari bibirnya. "Biarkan Kenzo istirahat. Dia juga butuh menenangkan pikirannya. Aku tidak ingin ada banyak teriakan di rumah."
Luna adalah istri dan ibu yang sempurna. Sifat mandiri dan lembutnya, sanggup menyentuh kebekuan dan kekerasan hati seorang Sean William Adams—ayah Kenzo. Setelah mendengar ucapan lembut istrinya, Sean terlihat mengembuskan napas panjang, seolah menenangkan pikirannya. Pria itu tahu jika tadi ia memang sudah terbawa emosi. Seharusnya ia bisa lebih menahan diri jika menghadapi putranya yang sangat keras kepala itu. Walau bagaimana pun, sifat Kenzo sekarang ini, sedikit banyak akibat dari didikannya.
"Masuklah ke kamar dan renungkan kesalahanmu," ujar Sean kepada Kenzo. "Kita akan membicarakan ini setelah makan malam."
Tanpa menjawab ucapan daddy-nya, Kenzo langsung menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Pemuda itu sudah sangat kesal saat tahu kelakuan guru olahraganya tadi. Dan kekesalannya semakin bertambah saat daddy-nya datang, tetapi justru menyalahkannya. Kenzo tidak terima. Harga dirinya tidak mengizinkannya untuk mengakui perbuatan salahnya. Bagi Kenzo, apa yang dilakukannya tadi sudah benar. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menganggu Calista, wanita yang sangat dicintainya.
***
"Seharusnya kamu tidak seemosional begitu kepada Kenzo. Kamu tahu sendiri jika Kenzo sedikit tertekan dengan pameran perdananya. Masalah seperti ini seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan."
Sean menatap istrinya tak percaya. "Dibesar-besarkan? Anakmu memukul gurunya di sekolah. Bagaimana bisa aku tutup mata dengan itu? Bukankah dulu kamu melarangku menggunakan kekuasaan dan privillage untuk mengatasi masalah Kenzo? Sekali-kali, anak itu memang butuh dihukum dengan tegas."
Luna kembali tersenyum lembut. "Jangan lupakan kalau Kenzo adalah putra dari seorang seniman jenius Sean William Adams. Kamu tahu bagaimana rasanya menanggung sebuah harapan besar dari orang-orang? kenzo bahkan baru tujuh belas tahun. Dia tidak berubah gila saja, aku sudah sangat bersyukur." Luna meraih kedua tangan Sean, mengusapnya dengan lembut. "Dulu kamu memiliki Kak Adrian yang bisa menanggung semua kewajibanmu saat kamu memilih mengejar mimpimu. Sedangkan Kenzo tidak memiliki hal itu. Anak itu berusaha keras melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Kenzo baru tujuh belas tahun, Sean ..... Aku mengingatkan ini jika kamu memang lupa."
Luna kembali menyunggingkan senyum, lantas melepaskan tangannya dari Sean, dan berbalik menjauhi pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Meski Kenzo memang sering berbuat masalah, selama ini Luna selalu bisa berkepala dingin. Putra kesayangannya itu memang berbeda. Hidup di lingkungan seniman, membuatnya tidak bebas. Meski Kenzo mewarisi bakat mommy dan daddy-nya, ia tidak bisa hidup dengan tenang. Luna tahu jika putranya itu memiliki mimpi lain. Namun, Kenzo cukup pintar menyembunyikannya dan Luna pun tak berani bertanya sampai putranya itu mau terbuka.
***
Luna menghela napas dalam sebelum mengetuk pintu kamar Kenzo. Setelah tiga kali mengetuk, Luna langsung membuka pintu kamar putranya yang memang tidak pernah dikunci itu meski tidak mendapat tanggapan dari Kenzo. Wanita bersurai panjang itu tersenyum melihat Kenzo yang tengah duduk di sofa balkon kamarnya sembari mengenakan headphone. Ia pun mendekati putranya itu. Setelah menepuk pelan bahu Kenzo untuk memberitahu kedatangannya, Luna meletakkan segelas jus alpukat kesukaan Kenzo di meja balkon.
"Dengerin lagu apa?" tanya Luna basa-basi sesaat setelah duduk di samping Kenzo. "Mommy buatkan jus alpukat kesukaan kamu. Kebetulan tadi Aunty Silla datang membawa banyak alpukat segar."
Kenzo melepas headphone-nya kemudian menegakkan posisi duduk. "Seharusnya Mom tidak perlu repot-repot. Ken akan ambil sendiri di dapur kalau haus." Meski berkata seperti itu, Kenzo tetap saja menyambar jus alpukat buatan mommy-nya dan meminumnya sampai tandas.
Luna tersenyum lembut. Matanya terlihat sendu. "Kamu pasti lelah. Biar Mommy saja yang melayanimu. Seperti saat kecil dulu."
"Mom ...." Kenzo membalas tatapan sang ibu. Remaja itu tidak buta. Ia bisa melihat jelas kesedihan di mata wanita cantik yang berstatus sebagai ibunya itu. Hati kecil Kenzo sedikit tergelitik, malu dan bersalah dengan sikap arogannya selama ini. "Maaf karena telah membuat Mommy sedih."
Luna menggelengkan kepala, tersenyum lembut, tetapi butiran air mata itu tak bisa berbohong. Wanita itu segera menghapus air matanya dan kembali tersenyum dengan matanya.
"Kenapa meminta maaf? Mommy tahu kalau Kenzo William Adams tidak akan melakukan sesuatu tanpa sebab. Putra Mommy selalu berpihak kepada kebenaran. Mommy yakin, Ken pasti punya alasan melakukan itu. Iya, kan?"
Kenzo menundukkan kepala. Tangannya saling meremas. "Daddy berubah," ujarnya parau. "Jika hanya dimarahi di depan orang banyak, Ken akan terima. Tapi, tamparan tadi...."
Luna membelalakkan matanya, terkejut dengan pengakuan sang putra. "Daddy menamparmu? Di sekolah?"
Kenzo mengangguk, tetapi masih belum berani mengangkat wajah. "Rasanya Ken ingin keluar saja dari rumah ini. Menyandang nama besar seorang Sean Adams ternyata berat. Ken ingin menyerah, Mom ...."
"Oh, Sayang ...." Luna bangkir dari posisi duduknya, kemudian memeluk sang putra. Ia bisa merasakan tubuh Kenzo bergetar. Hati Luna terasa berdesir mendengar isakan sang putra yang sudah lama tak ia dengar. Kenzo selalu menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik. Namun, sekarang remaja itu menangis. Mungkin, ia memang sudah lelah dengan semua ini.
"Maaf karena kami terlalu menekanmu. Kami bersalah karena tidak peka dengan beban berat yang harus kamu rasakan. Jika memang Ken tidak sanggup, lepaskan saja. Kejar cita-cita dan keinginan Ken. Biar Mommy yang akan menjelaskan kepada Daddy."
Kenzo menggeleng ribut. Remaja itu melepaskan pelukan sang ibu, lantas menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Jangan lakukan itu, Mom. Ken tidak mau Mommy dan Daddy bertengkar. Kali ini ... kali ini saja biarkan Ken seperti ini. Setelah ini, Ken janji akan lebih kuat."
"Ken ...."
"Promise me, Mom .... please ....."
Melihat kesungguhan di kedua mata Kenzo, akhirnya Luna mengalah juga. Wanita cantik itu menganggukkan kepalanya. "Tapi, Ken harus janji untuk tidak memaksakan diri. Mommy tidak bisa jika melihat anak-anak Mommy bersedih seperti ini."
Kenzo mengangguk, kemudian menyunggingkan senyum manis kepada sang ibu.
"Kemungkinan besar, Daddy akan memberimu hukuman selama masa skorsing. Mommy mohon, jangan membantahnya. Daddy-mu sedang ada masalah dengan galeri dan Presidio. Mungkin ini yang menyebabkan emosi Daddy sedikit berlebihan."
"Ken mengerti, Mom. Mommy tenang saja. Ken tidak akan membantah dan menantang Daddy secara langsung."
***