Rara menatap bangku kosong milik Kenzo. Akibat ulahnya kemarin, Kenzo berhasil mendapatkan skorsing selama tiga hari. Sebuah prestasi buruk bagi siswa kelas XII yang akan mengikuti ujian. Rara tidak cemas dengan nilai Kenzo. Tidak ada yang meragukan kecerdasan kapten tim basket putra itu. Yang Rara cemaskan adalah keadaan Kenzo. Skorsing seperti itu justru akan membuat Kenzo semakin tidak bisa mengandalikan diri. Rara tahu jika Kenzo sangat tidak suka dibatasi atau dikekang.
Rara mendudukkan diri di bangkunya. Sudah pasti dalam tiga hari ke depan, bangku di belakangnya akan kehilangan penghuni. Membayangkan itu saja membuat hati Rara berdenyut sakit.
"Kemarin lo balik jam berapa, Ra?" pertanyaan Kira membuyarkan lamunan Rara.
Rara menatap teman sebangku yang sedari tidak ia sadari keberadaannya. "Setengah enam," jawab Rara ringan sembari mengeluarkan beberapa buku untuk pelajaran pertama.
Kira terdengar menghela napas kasar. "Seharusnya kalau lo enggak enak badan, bilang sama gue. Gue sampai cemas kemarin ninggalin lo. Udah gitu, gue diteror keluarga lo yang nanyain keberadaan lo. Gue kan jadi merasa bersalah."
Rara malas mendengar ocehan sahabatnya itu. Sahabat yang biasanya pendiam itu akan mengoceh tanpa henti jika sedang cemas atau tertekan.
"Kata Kak Rizky, semalam lo demam. Seharusnya hari ini lo istirahat saja di rumah," lanjut Kira yang sekarang terdengar seperti ceramah keluarganya sebelum ia memaksa untuk berangkat sekolah.
Rara membuang napasnya asal. Sudah sejak tadi pagi Rara mendapat ceramah gratis oleh mamanya di rumah. Kakak pertamanya yang entah bagaimana bisa pulang meski bukan waktunya liburan menambah kuliah pagi Rara. Tatapan cemas Laila membuat paginya tidak bersemangat. Sekarang ditambah ocehan Kira di kelas benar-benar membuat kuping Rara panas. Mereka terlalu berlebihan. Rara tidak demam, dia bisa merasakan tubuhnya sendiri. Semalam mungkin dia demam, tetapi pagi ini dia merasa baik-baik saja.
"Dengar ya, Kira." Rara menatap Kira jengah kemudian menekan setiap kata yang dia ucapkan agar sahabatnya itu mengerti. "Gue baik-baik saja. Gue sama sekali enggak demam. Untuk masalah kemarin, gue cuma ketiduran di kelas dan kebetulan ponsel gue mati. Jadi, berhenti mencemaskan gue."
"Tapi gue benar-benar cemas, Ra." Kira melirihkan suaranya yang terdengar tercekat.
Meski kesal setengah mati, Rara berusaha mengerti posisi Kira. Gadis berkacamata itu memang terlalu perasa. Ditambah dengan teror yang dia terima kemarin dari keluarga Rara pasti membuatnya semakin tertekan.
Rara menepuk pundak Kira kemudian menyunggingkan senyum terbaiknya. "Terima kasih karena sudah mau jadi sahabat gue," ujar Rara. "Gue bertanggung jawab sepenuhnya terhadap diri gue. Jika terjadi sesuatu, bukan salah siapa-siapa. Mengerti?"
Kira menganggukkan kepalanya. Rara senang setidaknya sahabatnya yang satu itu mudah untuk dibujuk dan diberi pengertian. Lain halnya jika yang di hadapannya sekarang adalah Namira. Gadis itu sama keras kepalanya dengan Rara. Akan sulit untuk memberi pengertian atau nasihat.
***
Kelas seni musik hari ini ditiadakan karena guru seni musiknya tidak masuk. Sebagai ganti ketidakhadiran gurunya, kelas Rara mendapatkan tugas menulis makalah tentang komposer terkenal Ludwig van Beethoven. Tidak ada yang mengerjakan makalah di kelas. Mereka sepakat mengumpulkan makalah itu besok agar bisa dikerjakan di rumah dengan lebih baik dan rapi. Jika semua telah sepakat, Kira sebagai wakil ketua kelas pengganti Kenzo yang tidak hadir menerima kesepakatan kelas itu.
Rara sedikit lega dengan tugas ini. Setidaknya dia bisa menghindari Miss Clarissa untuk sementara dan mencari alasan untuk tidak bermain piano di sekolah.
"Gue nanti mau ke toko buku buat nyari referensi. Lo mau ikut?" ujar Rara kepada Kira yang terlihat tengah membereskan bukunya.
"Yaah ... gue ada les, Ra," jawab Kira menyesal. "Atau gue bolos saja, ya?"
"Jangan!" tolak Rara keras. "Gue minta Namira saja."
"Hah, ya sudah. Maaf banget ya, Ra."
Rara tidak tega melihat wajah menyesal Kira. Gadis berkacamata itu pasti juga ingin ikut tetapi dia tidak bisa membolos. Rara tahu seberapa besar tuntutan yang diberikan orang tua Kira agar prestasi akademiknya selalu berada di atas. Rara paham apa yang dirasakan Kira. Meski orang tua dan keluarganya tidak pernah menuntut apapun, Rara merasa harus mempertanggungjawabkan segala fasilitas yang diberikan orang tuanya hingga dia bisa seperti ini.
Rara tidak mau membuat malu keluarga. Kedua kakaknya adalah lulusan terbaik. Meski almamater mereka berbeda, tetap saja prestasi mereka tidak bisa diragukan. Tahun ini adalah giliran Rara untuk membuktikan. Namun, perjuangan Rara kali ini tidak mudah. Ada seorang Kenzo Adams yang selama ini menjadi tembok penghalang terbesarnya untuk meraih semua itu.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Kira dan Rara berpisah di dekat lapangan basket karena jemputan Kira sudah datang. Rara menunggu Namira untuk menemaninya ke toko buku. Rara sudah mengirim pesan kepada sahabatnya itu dan gadis berparas latin itu bisa menemaninya.
Rara mendudukkan diri di bangku dekat lapangan yang agak teduh. Dia melihat beberapa siswa bermain basket sembari sesekali tersenyum melihat interaksi itu. Rara rindu memegang bola jingga itu. Namun, janji tetap janji. Meski rasanya sakit, Rara berusaha menepati janjinya.
Rara mengalihkan pandangannya ketika merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya. Rara menyunggingkan senyum ketika mendapati Satria telah duduk dengan menyandarkan punggungnya.
"Namira tidak bisa datang," ujar Satria yang langsung membuat Rara mengerutkan dahinya. "Dia ada rapat mendadak. Katanya tidak bisa ditinggalkan."
"Basket?"
Satria menganggukkan kepala dan Rara langung mendesah pelan. Tubuhnya langsung lemas. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya dengan baik sehingga Satria menyadari hal itu.
"Mau ke mana?" tanya Satria.
"Toko buku," jawab Rara singkat.
"Mencari apa?"
"Referensi makalah musik," ujar Rara tak bersemangat. "Aku benar-benar buta soal musik."
"Internet?"
Rara menggelengkan kepalanya. "Teman-temanku pasti sudah memakai referensi dari internet. Aku tidak bisa mengandalkan internet jika ingin mendapatkan nilai baik. Kenzo jauh lebih pandai soal ini."
Satria menatap gadis di sampingnya yang tengah menekuk wajah. "Saya bisa membantumu," ujar Satria.
"Eh, tidak usah," tolak Rara cepat.
Satria menarik tangan Rara, mengabaikan protes gadis itu. Satria mengajak Rara menuju parkiran mobil. Di sana ada city car mewah berwarna merah keluaran terbaru yang terparkir mencolok di antara mobil-mobil lain. Satria dan Rara kini menuju mobil itu yang membuat gadis bersurai panjang itu mengerutkan dahi.
Satria membukakan pintu untuk Rara. "Silakan masuk," ujar Satria kepada Rara.
Rara bergeming. Sepertinya dia masih bingung dengan hal ini. Satria tersenyum maklum. Memang baru kali ini Satria membawa mobil ke sekolah. Tadi pagi bundanya juga keheranan karena Satria memanaskan mobil yang jarang sekali dia pakai itu.
"Saya sedang malas memakai motor." Satria menjelaskan dengan singkat disertai gestur yang menyuruh Rara untuk memasuki mobilnya. Meski masih bimbang, Rara akhirnya memasuki mobil itu dan pasrah mengikuti Satria ke mana pun.
***