BAB 17

1020 Kata
Satria tidak peduli dengan tatapan sinis dan aneh dari penghuni kelas unggulan itu. Lagi pula, dia sama sekali tidak punya masalah dengan mereka kecuali saat pertandingan basket dulu. Kelas yang dihuni oleh dua puluh delapan peringkat teratas sekolah itu berhasil dikalahkan kelas Satria dengan skor telak. Tak ayal hal tersebut menjadikan hubungan kelas unggulan ini dan kelas Satria menjadi canggung. Namun, bukan itu yang Satria pikirkan saat ini. Tujuannya sekarang adalah memastikan keadaan Rara karena ia tidak bisa menemukan gadis itu sejak tadi. Satria mulai resah ketika melirik arlojinya. Lima menit lagi bel masuk berbunyi, tetapi gadis yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang. Satria mungkin tidak akan secemas ini jika Rara memberi kabar sebelumnya. Sejak semalam, gadis bersurai panjang itu tidak membalas semua pesan Satria. Bahkan semua panggilan yang Satria lakukan hanya dijawab oleh operator. Hal itu cukup membuat Satria frustrasi. Pikiran-pikiran buruk mengusai otaknya, takut terjadi sesuatu setelah kejadian kemarin. "Tunggu," ujar Satria ketika melihat Kira memasuki kelas. Gadis berkacamata itu lantas menghentikan langkahnya dan menatap Satria datar. "Bisa kita bicara sebentar?" Kira mendengkus pelan. Pria di hadapannya ini memang selalu sopan. Namun, terkadang Kira tidak menyukai sifatnya yang satu ini, pemaksa dan tidak sabaran. "Jika lo nanya gue soal Rara, gue enggak tahu," ujar Kira sebelum Satria mengajukan pertanyaannya. "Kata kakaknya, hari ini Rara enggak masuk. Tadi dia titip surat izin ke gue di depan." Satria menautkan alisnya. Wajahnya terlihat cemas. "Tidak masuk? Kenapa?" "Katanya sih, sakit," jawab Kira malas. "Sakit? Sakit apa? Dia di rumah?" Semakin lama Kira jengah juga mendengar rentetan pertanyaan Satria. "Dengar ya. Gue sama sekali enggak tahu. Sejak semalam Rara sama sekali enggak balas pesan gue dan hari ini gue dapat kabar kalau Rara sakit," ujar Kira mencoba menjelaskan sembari menjaga hatinya agar tidak terpancing emosi. "Lagian, kenapa lo peduli banget sama Rara? Dia juga bukan teman sekelas lo, kan?" Kira menatap lurus pria tinggi di hadapannya itu. Sahabat Rara itu tahu jika Satria tidak hanya menganggap Rara sebagai teman biasa. Mengetahui semua itu justru membuat Kira cemas. Kira tidak pernah menyangka jika hubungan yang dijalin Rara akan serumit ini. "Saya peduli sebagai temannya," jawab Satria tenang seolah tidak terpancing dengan intimidasi dari Kira. "Terima kasih atas informasinya. Saya permisi." Satria pergi begitu saja. Pikirannya sedikit kalut. Dia merasa bersalah karena Rara tidak masuk hari ini. Kejadian kemarin pasti mempengaruhi Rara. Satria mengutuk ketidakberdayaannya ketika berhadapan dengan kakak Rara. Dia merasa menjadi pecundang. Satria melangkahkan kakinya menuju ruang musik. Pikirannya sudah kalut. Di saat seperti ini, Satria tidak mungkin kembali ke kelas. Dia lebih memilih menenangkan diri di ruang musik yang sepi. Satria memasuki ruang musik lantas duduk di depan piano. Tanpa berpikir lagi, ia membuka penutup tuts lalu memainkannya dengan penuh kemarahan. Satria meluapkan semua amarah dalam permainannya. Pikiran dan hatinya dipenuhi dengan bayangan Rara. Senyum Rara, tawa Rara, dan tangis Rara berkelebat begitu saja dalam ingatannya. Rasanya sudah lama Satria tidak bermain seperti ini; kecepatan jarinya luar biasa, matanya menyalang sarat amarah, dan keringat membasahi tubuhnya. Dia menumpahkan seluruh perasaan sesak di dadanya, rasa bersalah, kehilangan, serta ketidakberdayaan melindungi satu-satunya gadis yang amat dicintainya. Napas Satria terengah-engah dengan peluh membanjiri seluruh tubuh ketika mengakhiri permainan pianonya. Meski hatinya masih terasa sesak, tetapi dengan bermain musik seperti tadi membuatnya sedikit lega. Suara tepuk tangan membuat Satria mengalihkan pandangannya. Seorang wanita cantik berkulit pucat terlihat berjalan mengarah kepadanya. Satria mengenali wanita itu. Dia lantas menutup piano di hadapannya. Satria sedikit membungkuk di hadapan wanita yang berstatus sebagai guru musiknya di sekolah. "Maaf atas kelancangan saya karena menggunakan ruang musik tanpa izin," ujar Satria sopan. Clarissa tersenyum. "Seharusnya aku mengenalimu sejak awal. Permainan seperti itu, tidak semua orang bisa." Satria mengernyit bingung. "Maksud Anda apa?" Clarissa tersenyum, lantas mendekati Satria. "Permainan pianomu menunjukkan di mana posisimu. Level permainanmu tadi setingkat dengan pianis profesional," ujar Clarissa menerangkan. "Betapa bodohnya aku baru menyadarinya sekarang." "Saya rasa Anda salah orang. Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya." Satria segera melangkahkan kakinya, berusaha menghindari percakapan yang ia sangat tahu ke mana arahnya. "Satria Arya Bima." Clarissa menyebutkan nama lengkap Satria hingga membuat remaja tanggung itu menghentikan langkahnya. "Nama itu tidak asing bagiku," ujar Clarissa yang kini kembali berhadapan dengan Satria. "Sepuluh tahun lalu—ketika usiaku lima belas tahun—aku berduet dengan seorang anak kecil berusia tujuh tahun." Satria mengepalkan kedua tangannya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Clarissa menyadari jika siswa di hadapannya ini tengah tegang, wajahnya terlihat memucat. Wanita berambut kecokelatan itu merasa Satria tidak begitu nyaman ketika ia menyinggung soal ini. "Jujur, melihat permainan anak itu, semangatku bermain piano langsung memuncak. Anak dengan label jenius, baru saja lahir. Aku bisa merasakannya ketika berada di atas panggung." Clarissa menjeda ucapannya lantas menatap Satria yang bergeming di tempatnya. "Namun, entah karena sebab apa, permainan indah anak tujuh tahun yang banyak mendapat pujian dari kritikus seni itu, tiba-tiba menghilang. Tidak ada orang yang bisa menemukannya. Anak itu mendadak hilang dengan semua kemisteriusannya. Aku tidak mengenalnya. Semua orang tidak mengenalnya. Namun, sebuah catatan show case menyebutkan namanya." Satria menahan napasnya. Kepalan tangannya semakin erat hingga kuku-kukunya memutih. Satria ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga tetapi entah kenapa, kakinya terasa kaku. "Satria Arya Bima, seorang musisi cilik jenius yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Semua orang mencari keberadaannya hingga membuat dunia seni gempar," ujar Clarissa. "Sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, aku bertemu dengannya. Anak kecil yang dulu begitu polos, kini telah tumbuh menjadi remaja yang tampan. Meski fisiknya berubah, permainannya tidak pernah berubah. Anak itu adalah kamu." Satria mencoba menenangkan diri. "Anda salah mengenali orang, Miss," ujar Satria yang berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Clarissa menggelengkan kepalanya. Senyum manis tercetak jelas di bibir merah mudanya. "Aku tidak pernah salah mengenali orang. Satu-satunya Satria Arya Bima yang memiliki permainan setingkat pianis profesional hanya dirimu." "Itu bukan saya," sangkal Satria. "Maaf, saya harus masuk kelas." "Kamu tidak bisa lari dari takdir," ucap Clarissa sedikit lantang hingga membuat Satria menghentikan langkahnya meski tidak berbalik. "Tolong jangan lari dan bersembunyi lagi." Satria kembali melangkahkan kaki setelah Clarissa menyelesaikan kalimatnya. Pikiran remaja itu tengah kacau. Dia tidak bisa kembali. Pada akhirnya ia menggeber motornya, meninggalkan sekolah yang baru saja memulai jam pelajaran pertama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN