BAB 16(b)

1311 Kata
Clarissa berjalan tergesa setengah berlari dengan Kenzo yang mengekor di belakangnya. Wanita berparas cantik itu segera mungkin ke rumah sakit setelah mendapat panggilan darurat dari rumah sakit. Kenzo yang belum mengerti keadaan apa yang sedang dihadapi Clarissa, hanya mengikutinya tanpa berkomentar. Yang Kenzo tahu, sepanjang perjalanan tadi Clarissa terlihat begitu cemas dan takut. Clarissa mempercepat langkahnya ketika melihat seorang dokter keluar dari ruang perawatan intensif. "Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Clarissa tak sabar ketika berada tepat di hadapan sang dokter. Dokter itu terlihat lesu dengan raut prihatin. "Dua kali serangan berturut-turut dalam dua hari terus terang membuat kami cemas. Kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk." Clarissa menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan ucapan dokter. Air matanya kembali jatuh tak tertahan. "Suami saya akan bertahan. Mas Aldi pasti akan sadar," ujar Clarissa meyakinkan dirinya sendiri. Dokter mendesah pelan kemudian menepuk pundak Clarissa yang tengah terisak. "Kita semua sudah tahu risikonya. Kami akan melakukan yang terbaik, tetapi Tuhanlah yang berkehendak." Setelah mengatakan hal yang paling Clarissa benci, dokter pergi meninggalkan Clarissa yang masih meratapi nasibnya. Hati Kenzo terasa sakit melihat Clarissa menangis seperti itu. Dia lantas mendekap Clarissa. "Seperti yang kamu katakan, semua akan baik-baik saja," ucap Kenzo untuk menghibur Clarissa meski dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia katakan. *** Ruang perawatan suami Clarissa sangat sepi. Yang terdengar hanya bunyi alat-alat penunjang kehidupan yang dipasang di sekujur tubuh suami Clarissa. Clarissa menggenggam jemari suaminya dengan tangis yang tertahan dengan harapan suami yang dicintainya itu kembali sadar. Hati Kenzo sakit melihat pemandangan itu. Cinta yang ditujukan Clarissa untuk suaminya begitu dalam dan besar. Kenzo berdiri di samping Clarissa kemudian mengusap bahu kanan perempuan yang sangat di cintainya itu. Kenzo tidak punya maksud lain. Lelaki itu hanya ingin sedikit menghibur Clarissa dan meyakinkan Clarissa jika dia akan selalu ada di sampingnya. "Aku sangat mencintainya," ujar Clarissa sembari menatap pilu wajah pucat suaminya. Kenzo menurunkan tangannya setelah mendengar ucapan lirih wanita yang dicintainya itu. Mendengar pengakuan cinta Clarissa membuat hatinya kembali merasa sakit. "Sejak pertama kali bertemu dengannya, hatiku telah tertawan dengan permainan biolanya." Clarissa mengenang pertemuan dengan suaminya dulu. Clarissa mencium jemari suaminya yang terasa hangat menandakan bahwa masih ada nyawa yang patut untuk diperjuangkan di sana. Kenzo menatap kosong pria yang terbaring di atas ranjang itu. Dia tidak tahu harus berbuat dan mengatakan apa. "Kami memutuskan menikah dua bulan setelah perkenalan kami. Kami sudah merasa cocok satu sama lain. Aku dan dia sama-sama sebatang kara. Kami pikir, kami akan hidup lebih bahagia setelah menikah nanti," ujar Clarissa dengan pandangan menerawang mengingat masa-masa bahagia mereka. "Namun, semua kebahagiaan yang kami harapkan hanya menjadi harapan." Suara Clarissa sedikit bergetar. Kenzo merasakannya lantas mengalihkan pandangannya kepada wanita rapuh di hadapannya itu. "Satu bulan setelah pernikahan kami, kami terlibat kecelakaan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena yang kutahu, aku sudah berada di rumah sakit dengan luka-luka yang tak seberapa." Clarissa mencoba menata emosinya. "Kabar selanjutnya yang kuterima membuat duniaku seakan runtuh seketika. Keadaan suamiku tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Meski berhasil selamat dari kecelakaan, benturan keras di kepala membuatnya tertidur lama. Semua orang menyuruhku menyerah, tetapi aku yakin jika suamiku akan bertahan. Aku tidak bisa meninggalkan cintaku begitu saja. Aku akan memperjuangkannya dengan sekuat tenaga." Kenzo menatap sendu Clarissa. Dia sama sekali tidak tahu jika wanita yang selama ini dia kenal sebagai sosok yang kuat dan periang, ternyata memendam beban dan kesedihan yang begitu mendalam. "Aku berusaha sekuat tenaga mempertahankan pria yang kucintai. Aku rela bekerja sampai tulang-tulangku rasanya hampir patah. Pernah suatu ketika pikiranku memaksa untuk menyerah saja. Namun, ..." Clarissa menjeda ucapannya sembari mengelus lembut pipi tirus suaminya. "setelah melihat wajah Mas Aldi yang terpejam, semua kenangan indah kami berputar bagai rol film. Saat itu, aku tersadar. Aku tidak boleh menyerah. Semua pasti akan baik-baik saja, kembali seperti semula." Kenzo tidak tahu harus berkata apa. Ia seperti tertampar dengan keras setelah mendengar cerita Clarissa. Dia tidak tahu jika di dunia ini ada cinta sebesar itu. Sekarang Kenzo merasa menjadi orang paling jahat ketika mengingat perlakuan kasarnya kepada Clarissa. "Maafkan aku." Pada akhirnya, hanya kata itu yang sanggup Kenzo keluarkan. Clarissa melepaskan tautan jemari dengan suaminya. Ia lantas menatap Kenzo yang sejak tadi berdiri tepat di belakangnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang terjadi hanya salah paham," ujar Clarissa lembut. "Aku tahu kamu adalah orang baik. Kamu berhak mendapatkan gadis yang baik dan mencintaimu dengan tulus." Kenzo menatap lurus manik hitam Clarissa. Sungguh Kenzo tidak dapat berkata-kata menghadapi kelembutan hati Clarissa itu. "Pulanglah, Ken," ujar Clarissa lembut. "Kamu sudah banyak membantu hari ini." "Maafkan aku." Clarissa tersenyum mendengar lagi kata maaf dari Kenzo. "Aku sudah memaafkanmu," jawab Clarissa menenangkan Kenzo. Dia tahu jika pikiran remaja itu tengah kalut mengetahui semua kenyataan ini. "Pulanglah. Mommy dan daddy-mu pasti cemas." Kenzo membuang napasnya asal. Di tahu jika sekarang sudah sangat terlambat dari waktu yang diberikan mommy­-nya. "Baiklah. Aku pulang." Clarissa tersenyum mendengar keputusan Kenzo. Remaja tanggung itu mendekat lantas mendaratkan sebuah kecupan singkat di puncak kepala Clarissa. "Jaga diri baik-baik," ucap Kenzo sebelum benar-benar meninggalkan Clarissa yang terkejut dengan sikap lembut Kenzo barusan. *** Kenzo berdiri sembari menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berani menatap mata daddy-nya yang terlihat marah di hadapannya. Suasana mansion mewah itu terasa dingin dan mencekam. Bahkan mommy dan adiknya tidak berani mendekat ketika sang kepala keluarga tengah diliputi amarah seperti sekarang. "Sudah berani melanggar aturan, berbuat onar, lalu apalagi? Kamu pikir ini jam berapa? Apa yang kamu lakukan hingga pulang selarut ini?" Sungguh Kenzo paling tidak suka jika daddy-nya itu marah. Meski dikenal sebagai seniman jenius yang ramah dan family man, daddy-nya akan bersikap tegas terhadap siapa saja yang melanggar aturan, termasuk kepada Kenzo. "Maaf." Hanya kata itu yang mampu Kenzo keluarkan tanpa berani menatap daddy-nya. "Angkat wajahmu, Kenzo William Adams!" Suara Daddy membuat semua yang mendengarnya bergidik ngeri. Kenzo tahu jika daddy-nya sudah memanggil dengan nama lengkap, berarti ia sangat marah. Mommy dan adiknya yang sejak tadi terdiam, mulai terisak. Kenzo mencoba mengangkat wajahnya meski hatinya diliputi ketakutan. "Daddy ...." Suara tamparan keras menggema di mansion keluarga Adams. Kenzo terkejut mendapat tamparan keras dari pria yang selama ini ia hormati. Meski Kenzo sering membuat masalah, daddy-nya tidak akan sampai mengayunkan tangannya. "Daddy merasa telah gagal mendidikmu." Suara daddy Kenzo terdengar pilu. Pria yang masih terlihat gagah di usianya yang tak muda lagi itu, terlihat menyedihkan. Wajahnya menyiratkan kelelahan dan kekecewaan yang mendalam. "Semua yang Daddy lakukan selama ini ternyata salah. Daddy tidak menyangka anak yang selama ini Daddy banggakan melakukan sesuatu yang memalukan." Kenzo tidak berani menjawab daddy-nya. Ia tahu arah pembicaraan ini. Selama ini daddy-nya selalu menyewa orang-orang kepercayaan untuk mengawasi semua anggota keluarganya. Kenzo menduga bahwa daddy-nya ini telah mendapat laporan tentang dirinya dan Clarissa. "Setelah ini, jangan harap kamu bisa bebas begitu saja," ujar Daddy. "Seharusnya Daddy mengirimmu malam ini ke luar negeri agar kamu bisa berpikir jernih. Namun, mommy-mu tidak menginginkan itu. Dia ingin kamu menyelesaikan sekolah di sini." Kenzo melirik mommy-nya yang kini tengah terisak dan berpelukan dengan adik semata wayangnya. Dia tidak tahu harus bersikap apa. "Setelah itu, Daddy akan benar-benar mengirimmu ke luar negeri," ujar Daddy tegas tanpa mau dibantah lagi. "Tapi, jika sekali lagi Daddy tahu kamu melakukan hal-hal memalukan lagi, daddy tidak akan segan-segan menyeretmu ke luar negeri dengan tangan Daddy sendiri." Setelah mengucapkan ancamannya, pria paruh baya itu meninggalkan Kenzo yang masih membeku di tempatnya. Kezia terlihat menuntun mommy-nya yang masih terisak memasuki kamar. Jika sudah seperti ini, Kenzo tidak akan bisa berbuat banyak. Daddy-nya adalah orang berkuasa yang sanggup melakukan apa saja. Terkadang, Kenzo sangat menyesal terlahir di keluarga ini. Beban berat sudah harus ia tanggung sejak kelahirannya. Nama besar sang daddy yang terkenal dengan kejeniusannya dalam seni membuat Kenzo tertekan. Hal itulah yang sering kali memaksa Kenzo berbuat seenaknya di sekolah. Dia butuh pelampiasan agar dapat bertahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN