BAB 16

1013 Kata
Kenzo melanggar aturan dari daddy-nya. Seharusnya dia berdiam diri di rumah, merenungi semua kesalahannya selama masa skorsing. Namun, bukan Kenzo namanya jika ia tidak melakukan apa-apa. Berdiam diri seperti itu di rumah bisa membuatnya gila. Meski daddy-nya sangat murka, lain halnya dengan mommy-nya. Kenzo tahu jika wanita yang telah melahirkannya itu tidak akan setega itu melihatnya terkurung di rumah. Dengan memanfaatkan rasa sayang sang mommy, Kenzo memohon untuk diizinkan keluar. Pada akhirnya, di sinilah ia sekarang. Di sebuah sekolah musik kecil di pinggiran kota. Berbeda sekali dengan sekolah seni yang dimiliki keluarganya, sekolah musik di hadapannya ini sangat sederhana. Bangunan tua satu lantai yang awalnya sebuah rumah peninggalan zaman kolonial, disulap menjadi sebuah sekolah musik. Di sana hanya ada beberapa ruang dengan fasilitas seadanya. Saat Kenzo memasuki sekolah itu, seorang resepsionis menyambutnya dengan senyumnya yang manis. "Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis yang Kenzo perkirakan berusia dua puluh tahunan itu bertanya dengan ramah. "Saya ingin bertemu Clarissa," jawab Kenzo. "Apakah sudah ada janji?" Kenzo menggelangkan kepala. Semua pesan yang ia kirimkan untuk Clarissa sama sekali tidak dibalas dan panggilannya juga tidak diangkat. Sejujurnya, Kenzo datang ke tempat ini hanya bermodalkan tekad. Jika kali ini Clarisa tetap menolaknya, Kenzo tidak tahu lagi akan melakukan apa. Resepsionis itu tersenyum dan nampak melirik jam dinding. "Sebentar lagi kelasnya selesai. Mohon tunggu sebentar, ya." Kenzo mengangguk lantas duduk di kursi yang disediakan dekat pintu masuk. Tak perlu menunggu lama, akhirnya Kenzo mendengar kegaduhan yang ditimbulkan beberapa anak ketika keluar dari kelasnya. Meski tidak sebanyak di sekolah seni milik keluarganya, keributan itu cukup berhasil membuat suasana menjadi ramai. Setelah dirasa sudah tidak ada anak-anak lagi, Kenzo bangkit dari duduknya lantas berjalan menuju lorong kelas yang telah kosong. Lelaki berkulit putih itu memasuki sebuah kelas yang telah kosong. Di sana hanya ada sebuah keyboard dan beberapa kursi. Sungguh sangat sederhana dan minimalis. Namun, bukan itu yang Kenzo perhatikan. Seorang wanita berambut panjang yang diikat rapi terlihat tengah sibuk membereskan beberapa partitur yang sedikit berantakan di atas keyboard. "Kamu terlalu keras bekerja," ujar Kenzo meski masih di ambang pintu untuk menunjukkan keberadaannya. Ia pun berjalan mendekati Clarissa dan berhenti tepat di hadapan wanita cantik itu. Clarissa tidak perlu mengangkat wajahnya untuk mengetahui siapa yang telah berani mengganggunya. Wanita itu sudah sangat hafal suara lelaki yang selama ini selalu bertindak sesukanya dan mencampuri segala urusannya. "Bukan urusan kamu," ucap Clarissa dingin dan tak acuh. Setelah selesai dengan partitur-partiturnya, Clarissa berniat keluar kelas. Namun, langkahnya tertahan oleh lengan kekar Kenzo. Clarissa tidak terima dengan sikap Kenzo. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan lelaki itu, tetapi percuma. Pemuda tujuh belas tahun itu jelas bukan tandingannya. "Jangan macam-macam, Ken. Aku tidak suka," ujar Clarissa dingin sembari menatap tajam lelaki di hadapannya itu. "Lepaskan!" Bukannya melakukan apa yang diminta Clarissa, Kenzo justru semakin menekan wanita itu. Tubuh Kenzo yang lebih besar dari Clarissa tentu bukan tandingannya. Kenzo berhasil mengkungkung Clarissa di sudut ruangan. Entah mendapat keberanian dari mana, lelaki bersurai kecokelatan itu mencium bibir wanita yang berstatus sebagai gurunya, melumatnya hingga tak memberikan kesempatan Clarissa untuk mengelak. Kenzo melakukannya dengan emosi. Akal sehat remaja itu seperti hilang entah kemana. Clarissa hampir saja kehabisan napas. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, wanita cantik itu mendorong Kenzo hingga berhasil melepaskan tautan bibirnya. Napas keduanya memburu dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh. Clarissa mengangkat tangan kanannya lantas mengayunkan ke wajah remaja belasan tahun di hadapannya itu. "Berani sekali kamu melakukan itu!" Clarissa tidak bisa menahan diri. Matanya berkaca-kaca dengan napas yang masih memburu. Wanita itu tidak pernah diperlakukan sekasar itu. Dia merasa dilecehkan. "Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam pikiran kamu. Bukankah aku sudah bilang untuk tidak mendekatiku dan mencampuri semua urusanku! Kenapa kamu tidak mengerti?" Clarissa menumpahkan seluruh emosinya. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia bendung lagi. "Aku mencintaimu. Bukankah sudah kukatakan?" ujar Kenzo tak kalah emosi hingga tanpa sadar meninggikan suaranya. "Aku tidak mencintaimu. Tidak bisa!" tolak Clarissa keras. Kenzo menatap Clarissa menuntut penjelasan. "Kenapa tidak bisa? Aku tahu semua tentangmu. Kita bisa memulainya dari awal!" Clarissa tersenyum sinis dengan deraian air mata yang masih deras jatuh dari kedua matanya. "Kamu tahu semua tentangku?" ujar wanita itu sinis, lantas menunjukkan jemari kirinya. Sebuah cincin emas melingkar di jari manis wanita itu. Kenzo menautkan alisnya. "Apa maksudmu?" "Aku sudah menikah, Ken. Seharusnya kamu tahu itu," ujar Clarissa tegas. Kenzo menggelengkan kepalanya tak percaya. "Bohong!" elaknya. "Kamu pasti sengaja melakukannya. Kamu sengaja memakai cincin itu untuk mengelabuiku, iya, kan?" Clarissa mengusap air matanya kasar. "Buat apa aku melakukannya? Aku sudah menikah setahun lalu dan aku sangat mencintai suamiku." "Lalu, apa arti musikmu yang sarat akan kesedihan itu? Kamu terluka, tidak bahagia." Kenzo mencoba menolak kenyataan yang sudah berada di depan matanya. "Tahu apa kamu tentang musikku?" ujar Clarissa sinis. "Aku mencintai suamiku." "Kamu tidak bahagia," sangkal Kenzo. "Tinggalkan suamimu dan datanglah kepadaku. Aku akan membuatmu lebih bahagia." Kenzo berhasil mendapatkan tamparan kedua dari Clarissa. Wanita berkulit pucat itu kembali berurai air mata. "Berani sekali kamu mengatakan itu! Aku membencimu, Kenzo Adams!" Kenzo menatap sendu wanita yang dicintainya itu. Hatinya terasa sakit melihat air mata wanita yang dicintainya. Hatinya lebih sakit ketika tahu air mata itu bukanlah untuknya. Cukup lama mereka terdiam, saling memandang dengan pikiran yang berkecamuk. Suara dering ponsel mengalihkan perhatian keduanya. Ponsel Clarissa yang digeletakkan begitu saja di atas meja di sudut ruangan bergetar dan meraung begitu keras. Wanita itu segera meraih ponselnya. Wajah Clarissa langsung memucat ketika membaca nama yang tertera di ponselnya. "Halo," ujar Clarissa dengan suara yang bergetar. Kenzo memperhatikan Clarissa dalam diam. Dia melihat wajah wanita yang dicintainya memucat, tubuhnya bergetar, dan air mata kembali membasahi pipi mulusnya. Wanita itu langsung jatuh terduduk dengan tangis yang kembali pecah setelah menerima panggilan di ponselnya. Kenzo mendekati Clarissa yang tengah tergugu dengan tangisnya lantas merengkuhnya ke dalam pelukan. Melihat wanita yang dicintainya menangis seperti itu, membuat hati Kenzo terasa sakit. Meski kenyataan pahit baru saja Kenzo terima, ia tidak membiarkan wanita yang telah lama mengisi hatinya itu rapuh tepat di hadapannya. "Bersandarlah kepadaku. Aku ada di sini," ujar Kenzo lirih sembari mengusap lembut kepala wanita terkasihnya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN