BAB 12

1978 Kata
Rara terbangun dengan napas terengah-engah dan tubuh yang basah oleh keringat. Mimpinya kali ini terasa begitu nyata. Akhir-akhir ini dia memang sering bermimpi hal yang sama. Seorang wanita cantik dengan gaun putih membisikkan sesuatu. Rara seakan mengerti maksud wanita itu kemudian meringkuk di dalam lemari ruang baca yang nampak asing tanpa mengeluarkan suara. Wanita itu kemudian membuka pintu dan suara tembakan yang mengganggu tiba-tiba terdengar bersama dengan suara petir yang menyambar. Rara tidak pernah menceritakan mimpinya ini kepada siapa pun. Dia tidak mau orang tua dan keluarganya cemas. Rara hanya mengira semua ini terjadi karena kesukaannya menonton film tentang detektif. Namun, Rara masih penasaran dengan wanita yang ada di dalam mimpinya itu. Wajahnya begitu asing tetapi Rara merasa jika wanita itu sangat dekat dengannya. "Kakak sudah bangun?" Suara Laila menyadarkan Rara dari lamunannya. Dia baru menyadari jika dia tidak sedang berada di kamarnya. Rara melihat ke sekelilingnya dan melihat kedua orang tuanya tengah tertidur pulas di sofa bersama. Di samping tempat tidurnya, ada Aidan yang juga terlelap dengan menelungkupkan kepalanya. "Kakak di rumah sakit," ujar Laila yang paham dengan kebingungan Rara. "Kemarin Kakak tiba-tiba pingsan di lapangan dan langsung di bawa ke sini." "Berapa lama ...." Rara berusaha bertanya kepada Laila meski tenggorokannya sedikit tercekat. "Dua hari Kakak tertidur. Kami sangat cemas karena Kakak enggak kunjung bangun. Kak Aidan langsung pulang setelah Mama telepon," jawab Laila dengan mata berkaca-kaca. Rara melihat Aidan sekali lagi. Dia sangat menyayangi kakaknya itu. Ingin sekali Rara membelai kepala sang kakak, tetapi rasa sakit itu tiba-tiba kembali muncul ketika dia berusaha menggerakkan lengannya. Aidan yang semula tertidur pulas pun terbangun karena gerakan Rara. "Ra ..." Aidan langsung menegakkan tubuhnya setelah merasa ada pergerakan dari adiknya. "Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Kakak panggilkan dokter, ya?" Melihat kecemasan dari kakak yang paling disayanginya, Rara tidak bisa menahan air mata. "Kenapa menangis? Sakit sekali, ya?" tanya Aidan sembari mencoba merengkuh Rara ke dalam pelukannya tanpa menambah rasa sakit di bahu adiknya. Rara menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan agar kakaknya tidak cemas. "Maaf," ujar Rara lirih. "Kenapa minta maaf, hm? Enggak ada yang salah di sini," ujar Aidan lembut. Rara mulai terisak. "Maaf karena selalu merepotkan kalian. Seharusnya Rara enggak memaksakan diri. Rara bersalah karena malah menjadi beban kalian. Maaf ...." Hati Aidan berdesir mendengar tangisan adiknya. Rara sangat jarang menangis. Mendengar adiknya meminta maaf sambil menangis, membuat hatinya sakit. "Enggak ada yang merasa terbebani di sini. Kita adalah keluarga. Keluarga akan selalu ada di saat paling membutuhkan," hibur Aidan meski air matanya juga tidak bisa berhenti mengalir dari kedua matanya. "Ada apa? Rara sudah bangun?" ujar Mama yang tiba-tiba terbangun karena sedikit keributan dan suara tangis Rara. Wanita paruh baya itu terlihat cemas melihat putra keduanya tengah memeluk Rara yang menangis. "Kakak baru bangun, Ma. Sepertinya masih syok karena tiba-tiba bangun di rumah sakit," ujar Laila menenangkan. Memang Laila sangat bisa diandalkan di saat seperti ini. Mama terlihat menghela napas lega. "Syukurlah ... kalau begitu, Mama panggil dokter dulu." "Enggak usah, Ma," ujar Aidan menahan langkah mamanya sembari membaringkan Rara agar bisa tidur dengan posisi nyaman. "Besok pagi saja. Lagian, Rara sudah kembali tertidur. Sepertinya dia kelelahan karena menangis." Mama melihat putri kesayangannya yang tengah memejamkan mata. Meski di wajahnya masih terlihat jelas bekas air mata, tetapi Mama yakin putrinya itu sudah terlelap. "Sebaiknya kalian juga beristirahat. Mama tidak ingin ada yang sakit lagi," ujar Mama memperingatkan Laila dan Aidan. Laila yang pada dasarnya anak penurut, langsung merebahkan diri di sofa panjang dekat papanya. Lain halnya dengan Aidan yang masih berusaha bernegosiasi. "Tapi, siapa yang jaga Rara? Mama sama Laila saja yang istirahat. Biar Aidan di sini," bantah Aidan yang langsung mendapat tatapan tajam wanita berlesung pipi di sampingnya. "Mama tidak sedang berjualan, Aidan," ujar Mama tegas. "Tidak ada tawar-menawar." Aidan masih ingin membantah ucapan mamanya, tetapi dia urungkan niatnya itu setelah mendapat tatapan tajam dari wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. Pada akhirnya Aidan mengalah lantas beranjak dari posisinya setelah mengecup sebentar kening Rara. *** "Rara ... gue kangen banget sama lo!" Teriakan Namira begitu memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Aidan yang ada di kamar Rara pun nampaknya sedikit terganggu, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun. Meski terkadang Aidan memaksakan kehendak sesuka hati, Rara sangat menghargai sikap kakaknya yang satu itu. Aidan tidak pernah mencampuri urusan Rara dengan teman-temannya. Kakaknya itu hanya duduk di sofa dengan membaca majalah penerbangan kesukaannya sembari sesekali melirik tajam kepada teman berisik Rara. "Jangan coba-coba meluk gue!" tangkal Rara sebelum Namira melancarkan serangan berikutnya yaitu pelukan maut ala ular piton. "Bahu gue belum cukup kuat nahan pelukan lo. Kalau lo pengen gue cepat sembuh, lebih baik lo jaga jarak dari gue!" Meski Namira terlihat kecewa dan ingin melancarkan protesnya, gadis berwajah latin itu menurut saja larangan Rara kepadanya. Rara hanya tersenyum melihat raut wajah kecewa Namira yang menurutnya sangat lucu itu. "Lo ke sini sama siapa?" tanya Rara mengalihkan kekecewaan Namira. "Sendirian?" Namira menggelengkan kepalanya. Nampaknya gadis itu sudah melupakan kekecewaannya tadi. Namira mendudukkan dirinya di kursi dekat Rara. "Tadi gue berniat bareng Laila, tapi kebetulan ada Satria yang menawarkan diri buat nganter gue." "Satria?" Rara mengerutkan dahinya. Dia juga merasa kini Aidan menatapnya tajam meski sejak tadi pura-pura tidak tertarik dengan obrolannya dan Namira. Kakaknya itu mulai tertarik ketika Namira menyebutkan nama Satria. "Iya," jawab Namira sembari menganggukkan kepalanya. "Tadi sih katanya mau beli sesuatu dulu." Entah kenapa Rara merasa darahnya mendesir ketika nama Satria disebutkan. Meski Satria belum ada di sini, Rara sudah gugup setengah mati. Suara ketukan pintu tiba-tiba membuat Rara semakin gugup. Sosok pria tegap berambut cokelat memasuki kamar Rara dengan sebuket bunga krisan yang cantik. Rara sedikit mengerutkan dahinya melihat penampilan Satria saat ini. "Kamu mengecat rambut?" tanya Rara penasaran. Satria menganggukkan kepalanya. "Kenapa? Saya aneh, ya?" "Tidak kok," jawab Rara gugup. "Kamu terlihat berbeda saja." Wajah Rara memerah. Sebentar lagi pasti akan semerah tomat jika Rara tidak mengalihkan pandangannya. "Enggak usah merendah, deh," ujar Namira menyela. "Asal lo tahu ya, Ra. Tadi tuh, Satria bikin gempar satu sekolah." "Eh, iya kah? Jadi kangen sekolah," ujar Rara sendu. Namira mengutuk mulutnya yang sembarangan bicara sehingga membuat Rara sedih. Namira melirik Satria sekilas seolah meminta pertolongan. Satria yang paham maksud Namira lantas berjalan mendekat ranjang Rara. "Maaf, baru bisa datang hari ini." Satria mengucapkan dengan senyum mengembang dari bibirnya. "Semoga kamu suka bunga krisan. Saya tidak tahu bunga apa yang kamu suka. Jadi, saya hanya memilihnya asal." Satria menyerahkan buket bunganya kepada Rara yang dibalas dengan gumaman terima kasih. Suara berat Satria membuat Rara berkeringat dingin, sedikit melupakan kesedihannya karena tidak bisa sekolah. Suara Satria memang selalu bisa menenangkan Rara meski gadis itu tak menyadarinya. "Seharusnya kamu tidak usah repot-repot seperti ini," ujar Rara basa-basi. "Aku sudah baikan, kok. Mungkin besok sudah boleh pulang." Aidan langsung memberi Rara tatapan tajam setelah Rara mengucapkan kata pulang. Sudah sejak kemarin Rara memang meminta untuk pulang saja. Namun, keinginannya itu ditolak mentah-mentah oleh dokter dan keluarganya. Terutama Aidan. Dia adalah orang yang paling mendukung keputusan dokter. Semua perkataan dokter dia lakukan dengan sebaik-baiknya. Bahkan ketika Rara mulai memberontak pun, Aidan bisa dengan sigap membujuk Rara untuk melakukan saran dokter. Perhatian Aidan itu justru membuatnya tak bisa berkutik tetapi sedikit membuat orang tuanya lega dan tenang. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Rara gugup karena tatapan tajam kakaknya itu kini beralih kepada Satria. Meski Satria terlihat sangat tenang, Rara takut jika teman yang baru dikenalnya beberapa minggu itu salah paham. Terkadang Rara memang mengutuk sikap berlebihan kakaknya yang satu itu. Aidan selalu curiga dan khawatir berlebihan jika Rara dekat dengan orang baru, terutama yang berjenis kelamin laki-laki. "Ra, gue boleh pinjem ini ya," ujar Rara yang entah sejak kapan sudah menjamah tumpukan komik di nakas samping ranjangnya. Rara bersyukur karena Namira memecah keheningan yang memuakkan itu. Kepolosan Namira sangat bisa diandalkan untuk situasi seperti ini. Sahabat Rara itu tertarik dengan tumpukan komik yang ada di sudut sofa. "Itu milik Laila," jawab Rara berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Kalau mau, pinjam saja. Nanti gue bilang ke Laila." Setelah mendapat izin dari Rara, Namira lantas mengambil beberapa komik dari tumpukan itu kemudian menyamankan diri duduk di sofa sebelah Aidan. Hening lagi. Semua seperti sibuk dengan pikirannya masing-masing. Rara membuang pandangannya ke jendela, tetapi Satria menatap Rara meski gadis itu mengacuhkannya. Aidan menatap Satria layaknya memindai untuk bisa menghakimi pria itu, sedangkan Namira sibuk dengan komik-komik di tangannya. "Kamu temannya Rara?" Aidan akhirnya memecah keheningan dengan pertanyaan yang langsung membuat Satria dan Rara gugup. Kakak kedua Rara itu kini telah berdiri di samping ranjang Rara sembari menyilangkan kedua tangannya di dada "Iya, Kak," jawab Satria jelas meski agak ragu. "Sejak kapan? Karena semua teman Rara kukenal dan kamu bukan salah satu di antaranya." Aidan sudah seperti jaksa jika seperti ini. Lelaki berkulit putih itu menatap Satria tajam seolah belum puas dengan kata-kata tajam dan dingin yang diucapkannya. Satria mencoba menyembunyikan kegugupannya. Dia bersikap setenang mungkin. Satria tahu jika kakak lelaki Rara ini kurang begitu suka dengannya. "Dia murid pindahan, Kak." Rara mengucapkannya lantang sehingga semua mata kini tertuju kepadanya. Bahkan Namira yang sejak tadi fokus dengan komik pun ikut mengalihkan perhatiannya. "Kami baru kenal beberapa minggu dan lumayan akrab." Bukannya puas dengan jawaban Rara, Aidan seperti lebih gencar mencecar Satria dengan pertanyaan-pertanyaan lain. "Kalian sekelas?" tanya Aidan tanpa menghilangkan tatapan tajam dan wajah datarnya. "Satria sekelas sama Namira," jawab Rara sembari menggigit bibir bawahnya karena takut dengan ekspresi Aidan yang menakutkan itu. Aidan seperti menjadi orang lain ketika Rara dekat seorang laki-laki. Berbeda dengan Laila yang bisa bebas berteman dengan siapa saja, keluarganya seperti membatasi pergaulan Rara. Meski Rara sangat populer di sekolah, teman dekatnya bisa dihitung dengan jari. Aidan sedikit menyipitkan matanya, melanjutkan penginterogasian kepada Satria. "Lalu, bagaimana kalian bisa saling mengenal?" "Rara sering ketemu Satria secara diam-diam di ruang musik." Kali ini Namira menjawab dengan santai tanpa sadar situasi yang mulai memanas di sini. Rasanya Rara ingin mencekik sahabatnya yang tengah tersenyum lebar itu. Terkadang kepolosan Namira sedikit membuat otaknya tercecer. Aidan menaikkan alisnya tetapi mempertahankan wajah datarnya. "Ruang musik? Bukankah di sana sangat sepi?" "Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan," ujar Rara cepat sebelum semuanya menjadi runyam. "Memangnya kamu tahu apa yang kakak pikirkan?" tanya Aidan yang lebih seperti retorika. Aidan sangat serius. Rara sangat hafal sifat kakaknya yang satu itu. "Kalian belum menjawab pertanyaan kakak," tuntut Aidan. "Apa yang kalian lakukan di ruang musik?" "Bermain musik," jawab Rara cepat karena gugup. "Satria sangat pintar bermain piano. Kakak kan tahu sendiri kalau Rara payah dalam bermusik, jadi..." "Jangan bilang dirimu payah!" Suara lantang Satria membuatnya menjadi pusat perhatian sekarang. Aidan mengerutkan dahinya, memandang Satria dan Rara bergantian. Suasana canggung mulai terasa. Sama halnya seperti semua yang ada di ruangan itu, Satria pun terkejut dengan suara lantangnya barusan. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Satria merasa seolah hatinya memberontak ketika Rara menilai dirinya buruk. Sama halnya ketika Kenzo berteriak kepada Rara tempo dulu. Entah apa yang terjadi di hatinya, tiba-tiba saja dia sangat ingin membela dan melindungi Rara. "Saya mau pulang," ujar Satria seketika lantas berbalik menatap Namira yang masih duduk di sofa. "Kamu bisa pulang sendiri, kan?" Namira hanya menganggukkan kepalanya kaku menjawab pertanyaan Satria. Satria kini menatap Rara. "Semoga cepat pulih. Maaf tidak bisa berlama-lama karena saya baru ingat sudah ada janji. Permisi." Satria keluar begitu saja sebelum Rara sempat menyampaikan sesuatu. Rara jadi merasa bersalah kepada Satria karena sikap tidak sopan kakaknya tadi. "Apa? Kakak salah lagi?" ujar Aidan tak tahu malu setelah mendapat tatapan tajam dari Rara. Napas Rara memburu melihat wajah tak bersalah kakaknya. Rara menatap kakaknya tajam dengan mata memerah. "Kakak nyebelin!" ujar Rara lantas menarik selimutnya kesal untuk menutupi air mata yang tiba-tiba jatuh. Aidan tidak tahu jika Rara akan seemosional ini. Dia melirik ke arah Namira yang juga sama terkejutnya. Namira hanya mengangkat kedua bahunya lantas kembali menekuni komik di tangannya. Aidan membuang napasnya asal, mengusap rambut adiknya sebentar, kemudian mendudukkan diri di kursi dekat ranjang Rara. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN