BAB 11(b)

1370 Kata
Rara menghenyakkan tubuhnya di bangku taman belakang ruang musik. Dia harus menenangkan diri sebelum bertanding. Dia tidak mau emosinya yang masih labil ini akan mempengaruhi pertandingan hari ini. Suara dentingan piano sayup-sayup terdengar membuat hati Rara sedikit tenang. Rara mengenal musik ini. Musik yang sangat menenangkan seperti ini hanya bisa dimainkan oleh satu orang, Satria. Kali ini Rara hanya ingin menikmati permainan indah Satria tanpa ingin menginterupsinya. Suara dentingan piano telah hilang digantikan gemersik dedaunan yang ditiup angin sepoi. Rara sudah menata kembali hatinya. Hari ini adalah pertandingan pentingnya bersama Kenzo. Tinggal selangkah lagi menuju final. Setidaknya kali ini Rara harus bertahan sampai akhir. "Sepertinya kamu sudah siap bertanding hari ini." Rara tersenyum lantas menegakkan posisi duduknya. Suara Satria begitu berat dan menenangkan. "Aku selalu menantikan pertandingan ini,” jawab Rara. “Aku sudah siap.” “Benarkah?” Nada suara Satria tiba-tiba berubah datar dan dingin. “Tapi kenapa saya tidak percaya dengan kata-kata kamu? Mata sembab? Kamu sedang tidak dalam kondisi siap bertanding. Saya yang nanti akan menjadi lawan kamu.” Rara menatap Satria tajam. “Aku tidak peduli seberapa kuatnya dirimu, aku hanya ingin bertanding. Itu saja." "Saya akan mengalahkan kamu,” ujar Satria dingin. “Saya akan mengalahkanmu. Semakin cepat saya menang, akan semakin baik." Satria berbalik lantas pergi begitu saja. Rara masih tidak mengerti dengan sikap Satria. Suasana hatinya sama sekali tidak bisa ditebak. Terkadang dia menjadi pria yang perhatian dan hangat tetapi sejurus kemudian dia menjadi pria dingin dengan aura menyeramkan. Mungkin yang dikatakan Kira memang benar. Rara tidak sepenuhnya mengenal Satria. *** Rara memasuki lapangan yang sudah penuh dengan suara riuh penonton. Rara yakin pertandingan kali ini akan melebihi pertandingan final. Perhatian seluruh sekolah seakan tertuju pada pertandingan kali ini. Mereka yang datang tidak hanya ingin menyaksikan Kenzo saja. Mereka juga ingin melihat permainan mengesankan yang ditunjukkan Satria. Meski hanya kabar angin, Rara mendengar bahwa dua pertandingan Satria kemarin dimenangkan dengan begitu mudah dan dengan skor besar. "Lo hampir telat," kata Kenzo dengan mata tajamnya seperti biasa. "Belum mulai, kan?" jawab Rara tak kalah sengit. "Kita belum mulai dan gue enggak mau nanti ada perang dunia di lapangan." Farros berusaha menengahi aura tidak baik di antara musuh bebuyutan itu. Walau Farros tidak meragukan kemampuan Kenzo, tetapi Farros juga tidak bisa menampik kehebatan Satria. Menurut beberapa temannya yang kemarin menyaksikan pertandingan kelas Satria, permainan siswa baru itu memang tidak bisa dianggap remeh. Teknik dan taktik yang dia mainkan bersama Ojan dan Namira membuat permainan tim kelas mereka seperti berada pada level berbeda. "Kalian berdua apaan, sih?" Kira terlihat sedikit marah dari pinggir lapangan. "Jangan bawa masalah kalian ke lapangan. Seharusnya kalian lebih paham hal ini. Kami tidak peduli kalian menang atau kalah. Namun, jika nanti kalah sekalipun, setidaknya ada kebanggaan yang bisa kalian persembahkan untuk kami." Rara memandang wajah teman sekelasnya satu per satu. Mereka semua ada di sana untuk memberikan dukungan. Dia harus memberikan permainan terbaiknya demi mereka. Bukan itu saja, di sampingnya sekarang berdiri Kenzo Adams. Kenzo yang selama ini menjadi rivalnya, kini bermain satu tim dengannya. Ini adalah kesempatan terakhir yang tidak akan bisa Rara dapatkan kembali karena setelah ini dia tidak bisa memastikan apakah lengannya masih bisa digunakan lagi atau tidak. Pertandingan segera dimulai. Rara melihat Namira, Satria, dan Ojan memasuki lapangan. Seharusnya Rara bisa dengan mudah mengatasi permainan Namira, hanya saja ada Satria. Rara sama sekali buta dengan kemampuan Satria dalam bermain basket. Sedangkan Ojan, Rara sudah tahu gaya permainan sahabat Kenzo itu karena mereka berada dalam klub yang sama. Rara membuang napas beratnya, berusaha konsentrasi dengan permainan yang akan dilakukannya. Matanya bertemu dengan mata Satria. Mata itu begitu tajam dengan intimidasi yang lebih kuat dari yang biasa Kenzo lakukan. Rara masih belum mengerti dengan ucapan Satria kepadanya. Namun Rara bisa pastikan bahwa semua ucapan Satria itu tidak main-main. Peluit panjang tanda pertandingan dimulai telah dibunyikan. Operan satu dua antara kenzo dan Farros sangat sempurna dan akhirnya poin pertama berhasil dibuat Kenzo. Suasana menjadi sedikit tegang ketika kenzo dengan sengaja menyenggol bahu Satria ketika melewatinya. Semua yang melihat kejadian itu seperti menahan napas, menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Di luar dugaan, Satria sama sekali tidak menanggapi provokasi Kenzo. Dia hanya berjalan begitu saja menuju Rara yang masih berdiri kaku di lapangan. "Kamu masih ingin bertanding?" tanya Satria yang langsung membuat Rara salah tingkah karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian. "Apa, sih, maksud pertanyaanmu itu?" jawab Rara gugup. "Pertandingan belum berakhir, tentu saja aku masih ingin bertanding." "Kamu akan berhenti jika pertandingan ini selesai?" Rara menelan salivanya dengan susah payah kemudian menganggukkan kepalanya ragu. Satria memang terkadang bisa lebih menyeramkan daripada Kenzo. "Baiklah," jawab Satria. "Pertandingan akan berakhir dengan cepat." Rara kembali menelan salivanya dengan susah payah. Ucapan Satria begitu menakutkan. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Satria. Ucapannya itu seperti mengandung makna ganda. Pertandingan cepat berakhir hanya jika dia menang dengan cepat atau dia kalah dengan cepat. untuk opsi pertama, Rara tidak yakin Satria bisa menang dengan mudah. Lawan Satria kali ini adalah Kenzo. Dia sama sekali tidak punya kesempatan. Untuk opsi kedua, Rara juga tidak yakin. Satria adalah pria dengan harga diri yang tinggi. Tidak mungkin dia mengalah begitu saja dalam pertandingan sepenting ini. "Ra, sebaiknya lo bersiap," ujar Farros. "Sepertinya mereka sudah mulai panas." Rara mengerti maksud Farros. Rara juga melihatnya sendiri. Tim Satria mulai konsentrasi. Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya. Pertandingan kembali dimulai dengan operan pendek Namira kepada Satria. Satria bisa dengan mudah melewati Kenzo dan Farros kemudian balas mencetak poin. pertandingan belum berjalan lebih dari sepuluh detik dan Satria sudah menyarangkan bola dengan begitu mudahnya ke dalam ring. Satria, sebenarnya sekuat apa dia dalam basket? Pertandingan kembali dimulai dengan bola berada di tangan Kenzo. Tanpa menemui kesulitan yang berarti, Satria merebutnya lantas mencetak tiga poin dari jarak yang lumayan jauh. Sama halnya Rara, Kenzo juga terkejut dengan kemampuan yang ditunjukkan Satria. Di babak pertama ini, tim Rara tertinggal cukup jauh dari Satria dengan selisih 12 poin. "Dia bermain seperti orang kesetanan. Yang bikin gue penasaran adalah apa yang Satria lakukan hingga bisa membuat permainan Ojan dan Namira berkembang sejauh itu? Gue kenal mereka. Mereka tidak mungkin bisa berkembang terlalu pesat dalam waktu sesingkat ini." komentar Farros sembari mengusap keringatnya. "Gue rasa Satria ingin pertandingan ini cepat selesai. Aaaargh, pertandingan ini buat gue frustrasi.” Rara membenarkan dalam hati ucapan Farros. Rara juga sudah merasakannya sejak tadi. Satria menjadi sosok yang berbeda ketika di lapangan. Melihat tim lawan yang kelewat bersemangat itu, jujur membuat Rara sedikit cemas. Rara tahu jika Kenzo juga memikirkan hal ini. Daripada kami, mungkin Kenzo yang paling terkejut di sini. Baru pertama kali Kenzo mendapat lawan yang sepadan. Kenzo terlihat sangat berkonsentrasi. Dalam hati Rara sangat senang melihatnya. Melihat Kenzo yang seperti ini adalah impiannya seumur hidup. “Sebaiknya kita tidak terpengaruh dengan permainan cepat mereka,” ujar Kenzo serius. “Mereka membuat tenaga kita cepat terkuras. Terutama kalian berdua.” Kenzo menatap Rara dan Farros yang terlihat sangat kepayahan. Kedua rekan setimnya itu terlihat terlalu lelah dengan keringat yang sudah membasahi seragam mereka. Pandangan Kenzo lalu beralih kepada tim saingan di seberang lapangan. Satria terlihat santai sambil sesekali tersenyum menanggapi ujaran teman-temannya. Nampak sekali pemuda itu tidak sedikit pun merasa kepayahan. Hal ini justru membuat semangat Kenzo semakin memburu untuk bisa segera mengalahkan siswa baru itu. "Lo masih kuat, kan?" kali ini Kenzo mengalahkan perhatiannya kepada Rara. Wajah Kenzo terlihat serius. Rara hanya mengangguk malu menjawab pertanyaan Kenzo. Bagi Rara, ini adalah pertama kalinya Kenzo bersikap sangat perhatian kepadanya. "Gue akan sekuat tenaga menghadang pergerakan Satria," lanjut Kenzo. "Kalian fokus saja dengan bolanya." Kali ini Rara akan lebih fokus lagi. Bermain bersama Kenzo adalah impiannya seumur hidup. Dia tidak akan menyia-nyiakannya. Meski harus kehilangan bahunya, Rara tidak akan menyerah begitu saja. Pertandingan kembali dilanjutkan tanpa ada perubahan di masing-masing tim. Satria masih menguasai jalannya pertandingan. Tembakannya sangat akurat dan staminanya begitu kuat. Rara sudah sangat kepayahan. Meski tugasnya hanya menjaga Namira, tetapi hal itu terasa sangat berat dengan bahunya yang mulai kram lagi. Rara berusaha sekuat tenaga menahan sakit pada bahunya. Namun, semuanya seperti tidak berguna ketika gelombang nyeri yang begitu menusuk tiba-tiba datang. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya. Rara tidak bisa berkonsentrasi. Pandangannya mulai kabur dan suara terakhir yang Rara dengar adalah teriakan Satria yang memanggil namanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN