BAB 11(a)

1140 Kata
Rara memijat bahunya perlahan karena nyerinya terasa semakin memburuk. Dua kali pertandingan dalam sehari sungguh membuatnya tersiksa. Akan tetapi, Rara akan menahan semua rasa sakitnya demi bisa bermain bersama Kenzo. Suara ketukan pintu membuat Rara menghentikan aktivitasnya. Dia meraih sebuah buku lantas menulis sesuatu seperti sedang mengerjakan soal. Rara melihat Laila masuk dengan membawa baskom merah muda. Laila meletakkan baskom itu di meja belajar Rara lantas membuang napasnya asal. “Buka bajunya,” ujar Laila datar. “Apaan sih? Ngapain coba buka baju. Ada-ada saja,” jawab Rara sembari mempertahankan sikap pura-pura tidak tahu. Laila terdengar kembali membuang napas. “Entah sudah berapa kali Laila membuang keberuntungan dengan membuang napas hari ini, tapi demi Kakak, Laila harus melakukan ini.” Tanpa peringatan sebelumnya, Laila memutar kursi belajar Rara kemudian membuka kancing baju tidur kakaknya. Laila kembali membuang napas beratnya setelah melihat warna biru keunguan di bahu kakaknya yang sudah terekspos. “Ini enggak seperti yang kamu kira, La,” ujar Rara gugup mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya. Tanpa mempedulikan penjelasan dari kakaknya, Laila mengambil handuk kecil yang sudah dia rendam air dingin di dalam baskom. Laila memeras handuk itu tanpa banyak bicara lantas meletakkannya dengan hati-hati di bahu kakaknya. “Masih sakit?” tanya Laila lembut. Terlihat dengan jelas kekhawatiran di wajahnya. Rara menatap adik satu-satunya itu dengan berkaca-kaca. “Sedikit,” cicitnya parau. “Sudah minum obat?” tanya Laila lagi. Rara menganggukkan kepalanya. Laila kembali membuang napasnya. Sebenarnya dia paling benci sikap kakak perempuannya yang selalu sok kuat itu. “Jika sakit seharusnya Kakak bilang. Tahu gini, tadi kita bisa ke dokter atau rumah sakit.” Rara menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu ke dokter segala. Besok juga sudah sembuh. Kakak baik-baik saja kok.” “Bahkan jika Kakak sekarat sekalipun, Kakak akan bilang baik-baik saja.” Kali ini Laila sedikit meninggikan suaranya. “Entah sudah berapa kali kami mengatakan kepada Kakak untuk tidak memaksakan diri. Kejadian setahun lalu selalu membuat kami mencemaskan Kakak. Laila benci kekeraskepalaan Kakak.” Mata Laila berkaca-kaca. Dia menatap tajam kakaknya yang kini tengah menundukkan kepalanya. Laila tahu sifat kakaknya yang selalu menyimpan masalahnya sendiri. “Maaf,” ujar Rara lirih. Laila mengusap kasar air mata di pipinya. “Sebaiknya Kakak istirahat. Maaf karena Laila sudah berkata kasar kepada Kakak.” Laila hendak meninggalkan kamar Rara ketika gadis bersurai panjang itu memanggilnya. “La,” panggil Rara menghentikan langkah Laila. “Mama...” “Mama belum tahu,” jawab Laila yang langsung membuat Rara lega. “Tapi jika besok bahu Kakak belum sembuh juga, Laila sendiri yang akan ngasih tahu Mama.” Laila kembali melangkahkan kakinya setelah memberi peringatan kepada kakak keras kepalanya itu. Rara menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup. Rara tahu jika Laila tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia sungguh cemas. Besok adalah pertandingan penting yang harus dia lakukan bersama Kenzo. Rara memegang bahu kirinya yang masih sedikit nyeri. “Meski harus patah sekalipun, aku tidak akan menyesal,” ujarnya lirih. Rara kembali merapikan piyamanya lantas membaringkan tubuhnya di kasur. Malan ini Rara berdoa sungguh-sungguh agar pertandingan besok berjalan lancar. “Tuhan, kali ini aku sungguh berharap. Aku hanya ingin melihat senyum tulus dari Kenzo.” Setelah mengucap permohonannya, Rara memejamkan mata sembari berharap esok akan lebih baik dari hari ini. *** Udara dingin begitu menusuk kulit. Musim penghujan yang sepertinya datang lebih cepat memperburuk keadaan Rara. Nyeri pada bahunya tak kunjung reda, ditambah dengan udara dingin yang semakin membuatnya mati rasa. Rara mencoba menenangkan diri untuk sedikit meredakan nyerinya. Hari ini adalah pertandingan penting bagi Rara. Dia tidak boleh melewatkannya begitu saja. Tidak seperti biasanya, Rara menerima tawaran Laila untuk ikut naik mobil. Sepanjang perjalanan Rara hanya diam sembari memejamkan matanya, konsentrasi dengan nyeri yang mulai berkurang. "Kakak sakit?" Rara membuka matanya lantas menegakkan posisi duduknya. Laila terlihat cemas dengan dahi mengernyit. Tatapan adiknya terasa mengintimidasi. Rara tentu saja masih ingat peringatan adik semata wayangnya itu semalam. Rara sedikit menyunggingkan senyum. "Kakak baik-baik saja, kok," jawab Rara berusaha mengabaikan rasa sakitnya. Laila tidak percaya begitu saja. Dia sudah mengira akan seperti ini. Sejak sarapan tadi, Laila sudah merasa Rara menghindarinya. “Seharusnya Kakak tidak usah memaksakan diri jika masih sakit,” ujar Laila. “Sebaiknya Laila meminta Mama menjemput Kakak saja.” “Jangan!” ujar Rara cepat sebelum Laila menggunakan ponselnya untuk menghubungi mamanya. “Kakak sudah baik-baik saja, kok. Beneran. Kalau tidak percaya, nanti datang saja nonton pertandingan kami.” Rara berusaha meyakinkan adiknya. Dia tentu saja tidak rela jika harus diseret pulang mamanya setelah dengan sekuat tenaga dia berusaha menyembuhkan diri. Membayangkannya saja Rara sudah bergidik. Laila terlihat tidak mau kalah. “Sebaiknya Kakak batalkan saja pertandingan kali ini. Laila yakin ada yang akan menggantikannya. Bahu Kakak jauh lebih penting daripada pertandingan konyol ini.” “Konyol?” ujar Rara tak terima. “Yang kamu maksud pertandingan konyol adalah pertandingan yang selama ini Kakak inginkan. Kakak sudah cukup menahan diri selama setahun untuk tidak bermain lagi. Namun, kali ini Kakak tidak bisa mundur begitu saja. Hanya basket yang bisa membuat Kakak menjadi diri sendiri. Kakak tidak bisa seperti kalian yang selalu menjadi nomor satu. Setidaknya basket bisa menjadikan Kakak nomor satu, kapten tim. Dengan cara apa pun Kakak tetap akan bertanding.” Rara sudah tidak bisa menahan emosinya. Perasaan tertekan yang selama ini dia simpan rapat-rapat akhirnya dikeluarkan juga. Rara tahu jika tidak seharusnya dia menumpahkan semua emosinya kepada Laila yang hanya terlalu cemas kepadanya. Namun, Rara tidak peduli dengan itu. “Kak ....” Laila berujar lirih dengan mata berkaca-kaca. Bukannya Laila tidak tahu jika selama ini kakaknya tertekan, hanya saja dia dan kekuarganya terlalu egois untuk mengabaikan semua itu. “Sudahlah,” ujar Rara berusaha mengakhiri perdebatan. “Maafkan Kakak karena berkata kasar. Kakak hanya berusaha mengatakan apa yang Kakak rasa selama ini. Sikap protektif kalian selalu membuat Kakak tertekan. Belum lagi cibiran orang-orang di luar sana yang selalu membandingkan kita. Apa salahnya jika Kakak menyukai basket? Apa salahnya jika Kakak hanya bisa menjadi nomor dua? Apa salahnya jika Kakak tidak bisa bermain alat musik? Apa salahnya jika kulit Kakak lebih gelap dari kalian? Apa salahnya jika ... jika ....” Rara tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat dan air mata tiba-tiba sudah membasahi kedua pipinya. Laila yang melihat itu ingin sekali merengkuh kakak perempuannya untuk menenangkan. Namun, dia sendiri justru ikut menitihkan air mata. Kata-kata kakaknya berhasil membuat hatinya bergejolak. Bukannya tidak tahu dengan semua keresahan dan pertanyaan Rara selama ini, keluarganya lebih memilih menutup mata, mengabaikan ucapan orang lain yang tidak tahu keadaan yang sebenarnya. “Kak ....” Rara mengusap kasar air matanya. “Sudahlah. Kakak baik-baik saja,” ujar Rara sembari menyunggingkan senyum terbaiknya. “Sudah sampai. Kakak turun dulu, ya.” Laila menatap kepergian kakaknya dengan sedikit tak rela. Dia hanya berdoa semoga hari ini berjalan dengan baik dan seperti yang kakaknya selalu ucapkan bahwa dia akan baik-baik saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN