Angin sepoi yang mulai terasa dingin itu, menemani Satria dan Rara dengan keheningan mereka. Sangat jelas terlihat bahwa Rara sedang tidak ingin diganggu karena itulah tujuannya datang ke tempat ini. Namun, entah kebetulan atau memang sedang sial, Rara justru bertemu dengan Satria, pria yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
"Bagaimana pertandinganmu tadi? Menang?" tanya Satria yang langsung membuyarkan lamunan Rara.
Rara menjawabnya dengan anggukan kepala. Satria tersenyum melihat sikap Rara. Satria paham jika Rara sedang tidak ingin membicarakan pertandingan atau Kenzo.
"Kami juga menang," ujar Satria meski tidak ditanya.. "Kalau tidak salah, jika kita dapat menang di babak selanjutnya, kita akan bertemu di semifinal."
Rara kembali menganggukkan kepalanya. Pandangannya lurus kepada sebuah taman bunga kecil yang kebetulan sedang bermekaran di hadapannya.
"Bagaimana dengan bahumu? Masih sakit?"
Rara bergeming saja. Dia tidak mau Satria tahu jika rasa nyeri itu kembali datang. Jujur saja, dia masih tidak bisa menatap mata Satria secara langsung.
Satria terdengar membuang napasnya asal melihat Rara yang hanya terdiam. "Saya mencemaskanmu," ujarnya cemas, tetapi tegas. "Saya hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu."
Rara memalingkan wajah, menatap Satria. Dilihatnya raut cemas yang kentara di wajah tampan itu. Mata yang biasanya lebar dan cerah itu, kini menatapnya sayu. Diperlakukan seperti itu, Rara sedikit kurang nyaman.
"Bukankah kamu bisa melihatnya sendiri. Aku baik-baik saja. Tidak usah berlebihan. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Tanpa sadar, Rara berbicara dengan ketus dan dingin. Biasanya Rara memang seperti ini dengan orang asing. Namun, entah mengapa, ia merasa Satria berbeda.
Satria menatap sendu kepada Rara, menghela napas panjang, lantas membuang pandangannya ke taman bunga kecil di hadapannya. Pandangan Satria menerawang. "Saya hanya tidak ingin kamu memaksakan diri hingga mencapai batasnya. Mundurlah jika lelah, saya yakin semua akan mengerti.”
Rara mengerutkan dahinya. “Tidak ada yang memaksakan diri. Aku melakukannya dengan senang hati. Dan jangan sok tahu dengan apa yang kurasakan. Ini tubuhku. Akulah yang paling tahu dengan tubuhku."
Rara menatap intens pria yang baru sebulan ini dikenalnya. Rasanya aneh bahwa orang yang baru mengenal kita, memperhatikan dan peduli sampai segitunya.
"Sebenarnya, ada satu hal yang cukup menggangguku," ujar Rara langsung. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu begitu peduli kepadaku?"
Satria tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rara. "Apakah membutuhkan suatu alasan untuk peduli kepada orang lain?"
"Tentu saja," jawab Rara yakin. "Karena kita tidak dalam hubungan yang mengharuskan kamu memberikan kepedulian itu kepadaku. Aku tidak terbiasa menerimanya. Aku tidak bisa."
"Kalau begitu, biasakan dirimu untuk menerimanya karena saya akan memberikannya."
"Kenapa?"
"Karena saya peduli."
Rara mengerutkan dahi, tetapi sedetik kemudian ia mengembuskan napas panjangnya. Terkadang, ia lupa kalau Satria memang tidak mudah terbuka.
Sejak saat Rara memergoki Satria di ruang musik, ia merasa Satria menyembunyikan sesuatu darinya. Musik yang dimainkan pria itu dan sikapnya yang misterius membuat Rara penasaran. Sikap dan emosinya yang terkadang sulit ditebak juga membuat Rara bingung. Seperti sekarang ini, Rara dibuat bingung dengan sikap Satria yang tiba-tiba terlalu perhatian kepadanya.
"Baru sebulan kita saling mengenal, kenapa kamu begitu mencemaskanku? Apakah kamu juga melakukan hal yang sama kepada yang lain?" tanya Rara penasaran.
Angin semilir menyibak rambut Satria yang memang sudah mulai panjang. Rara melihat Satria memejamkan matanya seakan menikmati setiap embusan angin yang membelai lembut kulitnya.
Satria tersenyum simpul. "Saya menyukai angin di awal musim penghujan," ujar Satria menerawang.
Rara mengerutkan dahinya, merasa salah dengar. "Apa hubungannya?"
"Harumnya sangat khas dan menenangkan,” lanjut Satria seolah tidak paham dengan kebingungan Rara.
Rara tahu jika Satria berusaha mengalihkan pembicaraan. Rara tidak ingin meneruskan masalah ini lagi. Dia pun melakukan hal yang sama, memejamkan mata dan menikmati setiap belaian lembut angin di awal musim penghujan. Rasanya lelah sekali. Rara baru menyadari jika tubuhnya memang butuh istirahat.
“Tolong jangan membuat saya melakukan sesuatu yang nantinya akan saya sesali. Jujurlah dengan dirimu sendiri.”
Rara membuka matanya lantas menatap pria di sampingnya dengan heran. “Maksud kamu apa?”
Satria menatap Rara sendu. "Saya tidak sebaik seperti yang kamu atau orang lain kira. Saya tidak tahu bisa menahannya lagi sampai kapan. Saya harap kamu tidak terlalu memaksakan diri.”
“Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Memaksakan diri? Aku sama sekali tidak merasa melakukan itu. Sebagai kapten tim basket putri, aku—"
"Mantan," potong Satria cepat
"Iya?" Rara mengerutkan dahi.
"Sebagai mantan kapten tim basket putri, kamu sama sekali tidak memiliki kewajiban melakukan sesuatu."
"Aku masih kapten tim basket sekolah ini karena belum ada reorganisasi." Rara merasa tidak terima dengan ucapan Satria barusan. Apa-apaan itu tadi? Tanpa diperjelas seperti itu, Rara sudah merasa kalau kontribusinya memang tidak besar untuk tim meski jabatannya adalah kapten.
Satria tersenyum maklum. "Saya mengerti."
Ucapan singkat Satria itu justru membuat Rara mengerutkan dahi. Satria mengalihkan pandangannya. Mata hitam sekelam malam malam itu kini beradu dengan manik cokelat tua. Satria menyunggingkan senyum lembutnya melihat wajah lucu Rara yang penasaran. Tangan kanannya mengusak rambut Rara yang langsung diikuti oleh dengkusan tak suka si empunya.
“Semakin dingin di sini. Sebaiknya kamu menghangatkan diri di kantin atau di kelas. Bisa juga kamu istirahat sebentar di ruang kesehatan. Lumayan bisa memulihkan tenaga sebelum pertandingan selanjutnya.”
“Terima kasih. Tapi aku masih ingin di sini,” jawab Rara kesal karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. Sudah cukup dia terlalu dimanjakan di rumah. Rara tidak mau ada yang melakukan itu juga di sekolah.
“Kalau begitu, berbaringlah di sini?” ujar Satria sembari menepuk pahanya. “Kamu butuh istirahat untuk memulihkan tenaga.”
“Kamu gila?” tolak Rara mentah-mentah. “Aku masih sayang tahun terakhirku di sini. Aku tidak mau lulus dengan menyisakan banyak skandal. Masalah dengan Kenzo saja belum selesai.”
Satria menangkap perubahan raut wajah Rara ketika membicarakan Kenzo. Hati Satria tidak tenang. Darahnya tiba-tiba mendidih entah kenapa. Kesalkah dia? Atau cemburu?
"Bisakah kamu tidak membicarakan Kenzo ketika bersama saya?” ujar Satria dingin.
Rara menyadari perubahan nada bicara Satria. “Maksud kamu apa?” tanya Rara hati-hati.
Bukannya menjawab pertanyaan Rara, Satria justru bangkit dari posisi duduknya. “Istirahatlah. Saya akan pergi jika kamu memang kurang nyaman dengan keberadaan saya.”
Satria melangkahkan kakinya menjauhi Rara tanpa berbalik, meninggalkan Rara dengan keterkejutannya. Satria tidak marah atau benci kepada Rara. Dia hanya tidak suka Rara membicarakan Kenzo seolah hidupnya hanya seputar pria populer itu. Satria lebih memilih pergi menenangkan hatinya daripada dia melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti.
***