"Kemana aja lo?!"
Rara menundukkan kepalanya. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membantah atau melawan Kenzo. Pikirannya sudah tidak fokus ke pertandingan. Sikap cuek Satria justru membuatnya lebih tidak nyaman daripada sikap posesifnya. Tatapan datar dan dingin yang diberikan Satria jauh lebih membuatnya takut daripada kemarahan Kenzo seperti saat ini.
"Lo enggak apa-apa kan, Ra?" tanya Riko cemas karena sejak tadi melihat Rara diam saja. "Kalau lo sakit, enggak usah tanding saja."
"Enggak usah berlebihan. Rara baik-baik saja," jawab Kenzo datar dengan tatapan tajamnya. "Dia harus main hari ini!"
"Lo enggak usah sok ngatur-ngatur, Ken!" Riko terlihat tidak bisa menahan diri lagi. Semua yang ada di sana terkejut. Baru kali ini Riko begitu perhatian dan membela Rara.
"Lo kenapa sih, Ko?" tanya Farros heran.
Riko tidak menjawab pertanyaan Farros. Dia hanya pergi begitu saja dengan amarah yang sangat terlihat dari wajahnya. Semua yang ada di sana juga dibuat heran dengan sikap Riko. Hari ini Riko seperti out of the character. Benar kata Kenzo, sikap Riko terlalu berlebihan.
Rara tidak terlalu mengambil pusing dengan keributan di sekitarnya. Pandangannya sedari tadi tertuju pada sosok Satria yang tengah berdiri di seberang lapangan. Satria yang awalnya berbincang dengan temannya, kini balas menatap Rara. Pandangan mereka bertemu. Satria seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya dia mengurungkan niat. Satria tersenyum kepada Rara. Senyum tulus seperti biasanya lantas berbalik dan pergi meninggalkan lapangan.
Rara bergeming. Pikirannya seolah melayang mencari jawaban yang tepat. Satria tersenyum. Pria bersurai hitam itu menarik bibirnya. Sungguh semua ketakutan Rara tiba-tiba hilang begitu saja setelah melihat senyum tulus itu.
"Seluruh pemain silakan bersiap!"
Suara pengatur pertandingan mengalihkan seluruh perhatian semua yang ada di sana, termasuk Rara. Pengatur pertandingan yang adalah pengurus OSIS kelas XI menjelaskan bahwa pertandingan basket kali ini menggunakan sistem gugur. Untuk mempercepat dan mempermudah alur pertandingan, panitia menggunakan dua lapangan basket.
"Untuk babak pertama dan kedua dilaksanakan di dua tempat yaitu di lapangan indoor dan outdoor," jelas pengatur pertandingan. "Babak pertama dan kedua akan dilaksanakan hari ini kemudian dilanjutkan besok untuk babak semifinal. Sedangkan untuk babak final, akan dilaksanakan pada hari ketiga."
Penjelasan panitia sangat mudah untuk dipahami. Rara mengerti kenapa Satria keluar dari lapangan indoor. Tim kelasnya kebagian lapangan luar sebagai tempat untuk bertanding pada babak pertama dan kedua.
Rara ingin bicara dengan Satria. Setidaknya ada hal yang harus diluruskan. Meski Rara sedikit tenang dengan perubahan sikap Satria, Rara harus meluruskan semuanya karena dia sama sekali tidak mau kehilangan teman sebaik Satria. Ya, harus Rara akui, Satria kini telah memiliki tempat khusus di hatinya. Rara merasa Satria adalah teman yang baik dan dapat mengerti dirinya.
"Lo siap tanding kan, Ra?" pertanyaan Kira membuyarkan lamunan Rara. Rara pun menghilangkan hasratnya untuk menyusul Satria setelah melihat banyak mata menatapnya dengan cemas. Rara tersenyum lembut lantas menganggukkan kepala dengan mantap. Dia harus konsentrasi dalam pertandingan. Urusannya dengan Satria bisa menunggu nanti.
"Gue siap," jawab Rara sembari tersenyum untuk meyakinkan semua yang ada di sana.
"Ra, buruan!" Kenzo memanggilnya dari tengah lapangan. Tampaknya seluruh pemain sudah bersiap. Rara pun segera datang menghampiri Kenzo dan Farros.
Kenzo sangat berbeda ketika akan bertanding. Rambutnya yang memang sudah agak kepanjangan, ditahan menggunakan headband biru tua yang membuat para gadis berteriak histeris.
Tidak butuh persiapan lama, pertandingan pun dimulai. Lawan Rara kali ini adalah kelas X IPS 2. Dari cara mereka bermain, Rara sudah bisa menebak jika mereka bukan pemain basket. Tim Rara menguasai pertandingan dengan mudah. Satu demi satu, bola berhasil disarangkan pada ring lawan.
Rara menikmati pertandingan ini, akan tetapi hal itu sedikit terusik oleh sekelompok penggemar fanatik Kenzo. Setiap Kenzo menguasai bola atau berhasil mencetak angka, penonton berteriak-teriak. Rara sangat terganggu dengan teriakan alay penonton itu. Mereka seperti berlomba mendapat perhatian dari Kenzo. Yang membuat Rara semakin kesal adalah respon Kenzo yang menurutnya sedikit norak.
Rara berusaha untuk mengabaikan sikap Kenzo yang menyebalkan itu. Harus Rara akui, dia sedikit cemburu. Kenzo tidak pernah bersikap santai ketika bersamanya. Seharusnya Rara sadar diri bahwa Kenzo hanya menganggapnya sebagai saingan, tidak lebih.
Rara tidak bisa fokus di akhir pertandingan. Dia tidak menyadari ada lawan yang datang dari depan lantas menabraknya hingga terjatuh. Kenzo meminta waktu kepada wasit.
"Lo mikir apa?!" bentak Kenzo dengan napas terengah. "Seharusnya lo bisa menghindar dengan mudah!"
Hati Rara sakit mendengar teriakan Kenzo. Rara hanya ingin Kenzo mengerti dengan apa yang sedang dirasakannya, bukan malah membentaknya.
"Sudahlah, Ken," ujar Farros menengahi. "Lo enggak apa-apa kan, Ra?"
"Gue baik-baik saja," jawab Rara datar.
"Lo bisa berdiri?" tanya Farros lagi.
Rara menganggukkan kepalanya lantas berdiri. Tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Nyeri di bahu kiri Rara mulai terasa. Benturan tadi ternyata membuat cedera bahunya kambuh lagi. Namun, Rara berusaha menahannya. Pertandingan tinggal sebentar lagi. Dia bertekad akan bertahan sampai akhir.
Lima detik terakhir dan Kenzo berhasil mendapat tiga poin dari lemparannya. Pertandingan selesai. Tim Kenzo menang telak. Dengan hasil ini mereka harus bertanding di babak kedua hari ini juga. Babak kedua dilaksanakan agak siang, jadi Rara punya waktu untuk mengurangi rasa nyeri di bahunya.
Setelah pertandingan usai, Kenzo berlari menuju lokasi lomba musikalisasi puisi. Rara ingin sekali mengikuti Kenzo, tetapi dia mengurungkan niatnya. Pemulihan diri lebih penting. Masih ada waktu sebelum babak kedua dimulai.
Rara berjalan menuju tempat kesukaannya untuk menyendiri. Taman depan ruang musik begitu sepi. Rara duduk bersandar pada sebuah pohon besar di tengah taman. Rara segera merogoh tas sekolah bawaannya. Sebotol air minum dan sekotak obat penahan rasa sakit dia keluarkan. Rara meminum satu obat penghilang nyeri lantas memejamkan matanya.
Rara merasakan rasa nyeri di bahunya perlahan menghilang. Rara mengutuki kebodohannya hari ini. Karena rasa cemburu yang tidak pada tempatnya, dia mengalami nasib sial seperti ini. Seharusnya dia menikmati permainannya bersama Kenzo. Sepanjang permainan Kenzo telah bersikap baik dan profesional.
Rara melirik arlojinya. Sekarang Kenzo pasti sedang memainkan sebuah lagu romantis. Rara ingin sekali melihat pertunjukan Kenzo, akan tetapi Rara tidak akan sanggup mendengar teriakan dari penggemar Kenzo yang sibuk mencari perhatian.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Suara bariton nan lembut itu sangat Rara kenali. Rara lantas membuka matanya dan tersenyum lembut.
"Menikmati kesunyian," jawab Rara. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Satria duduk di samping Rara dan bersandar pada pohon yang sama. "Mencari kamu."
Rara tersenyum. Satria memang seperti itu. Dia selalu bersikap manis.
"Kamu selalu tahu di mana bisa menemukanku."
"Saya tahu," jawab Satria. "Saya juga tahu kamu tidak akan melihat pertunjukan Kenzo."
Rara tidak menjawab. Dia tidak ingin moodnya rusak karena membicarakan Kenzo. Kelihatannya Satria paham jika Rara tidak ingin membicarakan masalah Kenzo sekarang.
***