BAB 9

1003 Kata
Upacara dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia berjalan khidmat. Seluruh rangkaian acara seremonial telah dilalui dengan baik dan lancar. Kemeriahan yang dihadirkan begitu terasa karena di setiap sudut sekolah telah dipasangi umbul-umbul dan kata-kata pembakar semangat. Semua seolah dapat merasakan suka cita kemerdekaan yang memang dengan susah payah dapat diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan negeri ini. Kepala Sekolah mempersilakan penanggung jawab seluruh kegiatan HUT Kemerdekaan Indonesia untuk mengambil alih. Setelah kepala sekolah meninggalkan lapangan upacara, seorang siswa dengan tubuh gempal dan berkacamata menaiki podium. Dia adalah Harris, sang ketua OSIS. Suaranya yang tegas dan jelas membuat semua peserta upacara memperhatikannya dengan saksama. "Rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia akan kita mulai setelah upacara ini dibubarkan. Dimohon untuk seluruh ketua kelas mengambil undian yang telah disediakan." Seperti biasa, pengundian nomor urut pentas atau pertandingan dilakukan terbuka dengan disaksikan oleh seluruh penghuni sekolah. Ketua kelas mulai keluar dari barisannya masing-masing, menuju tempat yang telah diinstruksikan Harris. Terdengar keriuhan ketika Kenzo berjalan membelah lapangan. Pesona Kenzo memang sulit diabaikan begitu saja. Dia adalah putra pemilik yayasan dengan bakat seni yang luar biasa. Di usianya yang masih muda, Kenzo sering mendapatkan penghargaan di bidang seni. Tidak hanya itu saja, prestasi akademik dan olahraganya juga sangat mencolok. Meski statusnya adalah putra dari pemilik yayasan, Kenzo merupakan salah satu siswa jenius yang sering mengikuti kejuaraan dalam bidang Matematika. Kenzo tersenyum. Senyum tertulus dan termanis yang pernah Kenzo lakukan. Terkadang Rara merasa iri karena Kenzo tidak pernah tersenyum seperti itu ketika di dekatnya. "Andai saja senyum itu juga untukku, Ken," ujar Rara lirih. Rara membuang napasnya asal. Jantung Rasa mendetak kencang. Rara sama sekali tidak bisa mengontrol debaran jantungnya sendiri. Sebelumnya Rara tidak pernah mengalami hal ini. Meski Rara senyuman Kenzo itu bukan untuknya, tetap saja Rara tidak bisa menghentikan parade jantungnya. Rara terkejut ketika keriuhan semakin menjadi-jadi. Rara berusaha mencari tahu dengan sedikit berjinjit karena kebetulan dia baris di bagian belakang. Dahinya berkerut saat mendapati sosok yang beberapa hari terakhir ini terlalu peduli padanya, berjalan santai. Satria memasuki lapangan dengan santai. Ekspresinya tampak datar seperti tengah fokus dengan sesuatu. Harus Rara akui, Satria adalah sosok yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, yang menjadi pertanyaan di benak Rara adalah sejak kapan Satria menjadi idola sekolah hingga dia harus disambut sampai segitunya? Setahu Rara, Satria bukanlah ketua kelas. Lalu, apa yang dilakukannya di depan sana? "Kenapa ada Satria di sana?" tanya Rara entah kepada siapa. "Satria sekarang ketua kelas." Rara menoleh pada suara yang tiba-tiba membisiki telinganya. Namira sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman riang seperti biasa. "Ngapain lo di sini?" protes Rara kesal. “Kembali sana ke barisan lo.” Namira merangkul Rara sembari berlagak cemberut karena protes sahabatnya itu. "Sewot banget, sih. Gue kan sudah berbaik hati ngasih lo info penting.” "Siapa yang minta?" jawab Rara ketus, sedangkan Namira hanya mengangkat bahunya acuh. "Setelah ini, lo pasti bakal lebih terkejut lagi." Ucapan Namira kembali membuat dahi Rara berkerut. Memangnya apa yang bisa membuatnya lebih terkejut dari ini? Rara kembali mengarahkan pandangannya ke dapan. Di sana terlihat semua ketua kelas mulai mengambil undian yang telah disipakan. Entah mengapa, hari ini pikirannya penuh dengan Satria. Pria bersurai hitam itu terlihat konsentrasi dengan apa yang dilakukannya. Meski Rara masih kesal dengan Satria, Rara tidak bisa berpaling dari Satria begitu saja. Menjadi ketua kelas di kelas yang terkenal dengan biang onar sekolah cukup membuat Rara terkejut dengan status Satria sebagai siswa pindahan. Rara jadi semakin penasaran dengan Satria. Entah pesona apa yang dimiliki Satria, yang jelas sekarang dia telah berhasil membuat seluruh penghuni sekolah melihat ke arahnya. "Sudah gue duga sebelumnya." Namira berjengit kaget. "Lo hampir bikin gue jantungan," protes Namira kesal. "Lain kali beri kami isyarat kalau lo mau ngomong." Kira menatap Namira datar. Meski kadang terlihat bagai kucing dan tikus, hubungan Namira dan Kira sudah lebih dekat karena hobi dan kesukaan yang sama. "Pesona Satria memang terlalu kuat," ujar Kira yang sepertinya tidak menganggap protes Namira. "Pada akhirnya Kenzo mendapat saingan yang pantas." Rara kembali mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Kira. Saingan yang pantas? Lantas, selama ini Rara bukan saingan yang pantas buat Kenzo? "Lo jangan salah paham, Ra," ucap Kira seperti dapat membaca pikiran Rara. "Kenzo tetaplah seorang pria. Seorang pria akan merasa tertantang jika ada pria lain yang mengancam posisinya." "Satria sama sekali enggak ingin merebut posisi Kenzo. Lagi pula, Kenzo lebih segala-galanya dari Satria. Satria pasti sadar diri jika harus berhadapan dengan Kenzo, iya kan?" ucap Rara asal. Selama ini, itulah yang Rara yakini. Kenzo memang terlalu sempurna untuk dijadikan seorang saingan. Dasar Rara saja yang dulunya bebal. Sekarang, ia benar-benar menyesali pernah menantang Kenzo di depan umum. "Benarkah?" ujar Kira mengangkat alisnya. "Seberapa kenal lo sama Satria?" "Eh, gue—" "Ra! Undiannya sudah keluar." Teriakan antusias Namira menyelamatkan Rara. Terkadang Kira bisa begitu menyudutkannya hingga Rara kehabisan kata-kata. "Kita bakalan ketemu di babak semifinal jika berhasil melewati babak 1 dan 2." Rara memperhatikan papan besar yang di pasang di tengah lapangan. Ucapan Namira benar. Di babak ketiga, kelasnya akan berhadapan dengan kelas Namira jika berhasil lolos di babak sebelumnya. Rara tahu kemampuan Namira karena gadis itu juga anggota tim basket putri sekolah. "Memang kapten lo siapa, Nam?" tanya Rara tanpa mengalihkan perhatiannya dari diagram pertandingan. "Lo enggak bisa nebak, Ra?" sahut Kira yang kini mendapat perhatian penuh dari Rara. "Emang lo tahu?" tanya Rara penasaran. Kira tersenyum tipis. "Satria Arya Bima.” Rara menelan salivanya dengan susah payah karena tenggorokannya tiba-tiba kering. Rara pernah sekali melihat permainan Satria. Rara sama sekali tidak bisa menganggap Satria sebagai amatiran. Tekniknya sudah sekelas atlet. Pembawaan Satria yang tenang membuat Rara sedikit cemas. Satria berbalik. Sekilas, Rara menangkap mata Satria sedang menatapnya. Tatapan itu, belum pernah Rara lihat sebelumnya. Satria kini terlihat begitu suram, sangat kontras dengan Kenzo yang kini tengah bercanda dengan cengiran khasnya. Satria membuang wajahnya lantas berjalan menjauh. Tanpa Rara sadari, dia telah berlari. Dia tidak peduli dengan hiruk pikuk di sekitarnya. Yang dia lihat sekarang hanya punggung Satria yang tengah menjauh tanpa berbalik sedikit pun meski Rara memanggilnya dengan sekuat tenaga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN