Rara menyandarkan kepalanya di bahu mamanya. Sudah hampir tengah malam, tetapi ia tidak berani beranjak dari zona nyaman ruang keluarga di rumahnya. Pikiran Rara kacau. Ia tidak mau ditinggal sendiri. Yang ia butuhkan saat ini adalah dukungan penuh dari keluarganya. Keluarga yang ia yakini selama empat belas tahun ini. "Kakak temani istirahat di kamar, ya?" Aidan yang duduk di samping Rara berusaha membujuk gadis itu. Sejak pulang tadi dengan keadaan yang berantakan, Rara memang tidak mau lepas dari mamanya. Rara masih bergeming hingga mamanya juga ikut turun tangan membujuk anak gadisnya. "Mama juga akan menamani Rara di kamar," ujar Mama lembut. "Pindah ke kamar, ya." Rara menggelengkan kepalanya. "Biarkan seperti ini," ujarnya lirih. "Sebentar saja." Mama menatap Papa penuh arti. W

