“Kamu ingat apa pesanku?” Harist sekarang berada di airport bersama Aara, yang mengantarnya. “Fokus kerja dan keluarga, jangan mendekati atau mau didekati laki-laki siapapun itu.” Aara mengulangi pesan yang berulang kali disampaikan oleh Harist, sampai hapal diluar kepala. “Pinter ya.” Ucap Harist sembari menepuk lembut puncak kepala Aara, seperti sedang bersama anak bocah yang sedang merajuk dan berusaha mengambil hati om nya. “Kenapa sih pesannya harus itu terus?” tanya Aara setelah sekian lama diam dan menuruti laki-laki itu saja. Harist pun menjadi bingung apa yang akan menjadi jawabannya, karena jawaban yang pasti adalah dia tidak mau Aara jatuh hati pada orang lain dan meninggalkannya. “Karena akan mengganggu kerjamu, mengerti? Sudah, aku pergi. Jaga dirimu, driver ada didepan m

