Aara lagi-lagi terbangun, kini bukan karena dering ponsel. Melainkan suara ketukan pintu yang sangat nyaring. “Mbaaaaak, bangun.” Terdengar Aya memanggilnya, mencoba membangunkan Aara yang entah mulai bisa tidur di jam berapa. “Iyaa iya.” Aara masih terduduk, mengumpulkan nyawanya dahulu sebelum keluar dari kamar. “Tumbenan juga sih, Aya udah bangun jam segini.” Ucapnya sembari mengucek matanya yang masih buram karena belek. Tapi Aara kembali dikejutkan karena jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Waktunya Cuma satu jam untuk bersiap-siap, dia belum membersihkan rumah, mencuci baju juga. Dengan buru-buru dia keluar kamar, tapi sebelum itu Aara ingat dengan ponselnya, dia mencari-cari dimana terakhir menaruh benda tersebut. Sampai pada akhirnya dia menemukannya dibawah ranjang, sepertin

