Bab1. Pertemuan Pertama
"Vi, tadi aku lihat suami kamu selingkuh. Dia gandengan tangan sama cewek lain pas jam makan siang."
Perkataan itu tak membuat Livia langsung percaya begitu saja, terlebih selama ini suaminya sama sekali tak menunjukan keanehan atau gerak-gerik perselingkuhan.
"Ada bukti fotonya nggak? Kalo nggak ada, aku nggak percaya!"
Perempuan yang biasa dipanggil Livia itu pun memutuskan sambungan teleponnya begitu saja saat Sandra–sahabatnya tak bisa memberikan bukti yang dia minta. Livia kembali melanjutkan aktivitas kerjanya. Membuka satu persatu berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Dia mulai meneliti kasus klien yang membutuhkan pembelaannya di depan hukum. Ya, Livia Hutomo adalah seorang pengacara yang bekerja untuk sebuah firma hukum nomor satu di kota Jakarta.
Saat membaca semua laporan dan mempelajarinya, tiba-tiba rasa kantuk menyerang Livia. Perempuan berusia 30 tahun itu menguap lebar kemudian melepaskan kacamata yang menggantung pada pangkal hidungnya. Dia mencoba untuk mengambil gelas berisi kopi yang ada di sampingnya.
Akan tetapi, tanpa sengaja Livia menyenggol bingkai foto berisi potret pernikahannya dengan Arya. Bingkai itu langsung terjun dan mendarat keras ke atas lantai. Hal itu membuat suasana ruang kerjanya yang hening mendadak riuh dengan gema benda pecah.
"Astaga!" seru Livia sambil beranjak dari kursi putarnya.
Livia bergegas menghampiri bingkai yang kini sudah berserakan di atas lantai. Perempuan itu berniat untuk mengambil foto pernikahannya. Akan tetapi, tanpa sengaja ujung jarinya tergores dengan pecahan kaca.
"Aduh!" teriak Livia sambil meringis menahan sakit.
Livia akhirnya masuk ke toilet dan membasuh lukanya menggunakan air mengalir. Dia lantas bergegas mengobatinya dengan obat merah dan dibalut menggunakan kain kasa. Setelah itu, dia kembali mengambil foto yang masih tergeletak di atas lantai dengan hati-hati.
"Sayang, aku yakin kamu orang yang baik dan setia. Kamu sangat menyayangiku. Kita bersama sejak sama-sama ada di bawah. Kamu tidak macam-macam dan cukup dengan seluruh cinta yang aku berikan." Livia terus menatap potret bahagianya ketika menikah demgan Arya.
Livia meletakkan fotonya ke atas meja. Lalu dia memanggil petugas kebersihan melalui telepon kabel. Tak lama kemudian seorang petugas kebersihan masuk dan membersihkan pecahan kaca yang masih berserakan.
Livia memindahkan foto pernikahan ke dalam laci kemudian melirik kalender yang ada di mejanya. Sebuah tanda berbentuk hati melingkari angka 14 pada bulan ini. Livia terdiam sejenak, kemudian terbelalak seketika.
"Ya Tuhan! Aku lupa! Hari ini ulang tahun pernikahanku yang ke-5!" seru Livia sembari melebarkan pupil mata dan menutup mulutnya yang menganga menggunakan telapak tangan.
Perempuan cantik itu langsung tersenyum tipis. Dia pun segera mengetikkan pesan untuk dikirim kepada Arya. Dia meminta sang suami untuk pulang cepat.
Namun, setelah menunggu selama 15 menit tidak ada balasan dari Arya. Livia menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar melalui mulut. Dia memutuskan untuk menelepon Arya, tetapi juga tidak diangkat.
"Mungkin dia sedang sibuk. Dia sekarang manager di perusahaannya, pekerjaan Mas Arya otomatis akan bertambah banyak." Livia tersenyum tipis kemudian meletakkan kembali ponselnya.
Perempuan itu pun melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat drama bingkai foto yang jatuh. Ketika sudah dalam mode serius, Livia tidak bisa diganggu sama sekali. Dia akan mencurahkan seluruh pikirannya kepada pekerjaan yang ada di depan mata.
Bahkan Livia baru sadar ketika alarm jam kerja berakhir berbunyi. Perempuan itu langsung merapikan semua berkas dan mematikan laptopnya. Setelah itu, Livia bergegas untuk berkemas.
"Sore, Bu," sapa salah seorang bawahan Livia ketika dia keluar dari kantornya.
"Sore, kalian segera pulang setelah pekerjaan selesai. Jangan terlalu banyak lembur! Nanti aku harus membayar lebih untuk upah kalian! Bisa-bisa aku rugi kalau terus begini!" ujar Livia sambil terkekeh.
Sontak semua yang ada di ruangan itu ikut tertawa. Livia melambaikan tangan dan keluar dari kantor lebih dulu. Dia berencana untuk membuatkan makan malam spesial.
Livia akhirnya memutuskan untuk mampir ke toko kue dan pasar swalayan untuk berbelanja bahan makanan. Setelah membeli semua yang dia butuhkan, Livia langsung pulang. Sesampainya di rumah, perempuan tersebut langsung memasak bahan makanan menjadi masakan kesukaan sang suami.
"Baiklah, semoga Mas Arya suka!" seru Livia sambil menatap puas hasil masakannya yang masih ada di atas wajan dan panci.
Setelah selesai menyiapkan makanan kesukaan Arya, Livia mandi dan bersiap. Aroma wangi menguar di seluruh ruangan setelah Livia keluar dari kamar mandi. Dia bergegas untuk mengganti kimono handuknya dengan gaun berwarna merah yang dibelikan oleh Arya beberapa hari yang lalu.
Setelah selesai mengeringkan rambut, Livia mengoleskan riasan pada wajah secukupnya. Dia tidak begitu suka berdandan terlalu tebal dengan warna mencolok. Terlebih kulitnya sudah bersih dan cerah, sehingga sedikit pulasan make up sudah membuat perempuan tersebut semakin cantik.
Setelah siap, Livia kembali mengintip ponsel yang sejak tadi dibiarkan tergeletak di meja rias. Namun, tanda pesannya dibalas oleh Arya tidak ada. Bahkan panggilannya masih diabaikan oleh sang suami.
"Kamu kenapa, sih, Mas?" Livia mulai khawatir karena tidak biasanya Arya bersikap demikian.
Livia melihat status online sang suami dan mendapati aplikasi pesannya itu baru saja aktif satu menit yang lalu. Livia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung menelepon Arya berharap panggilannya kali ini diangkat oleh sang suami.
"Halo, Mas!" seru Livia setelah berhasil menghubungi Arya.
Rasa lega luar biasa kini memenuhi d**a perempuan tersebut. Dia langsung menanyakan keberadaan Arya. Lelaki itu mengaku sedang meeting dadakan dengan pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
"Mas Arya selesai jam berapa?" tanya Livia sambil tersenyum tipis.
"Mungkin setengah jam lagi," jawab Arya melalui sambungan telepon.
"Oh, baiklah! Kalau begitu hati-hati di jalan, Mas. Aku tunggu kamu di rumah. Love you ...."
Panggilan terputus sepihak sebelum Livia mendapatkan balasan ungkapan cintanya kepada Arya. Livia tersenyum kecut. Namun, entah mengapa perempuan itu merasa ingin sekali memberikan kejutan secara langsung kepada Arya.
"Aku akan datang ke sana! Sekalian aku jemput, deh! Tadi pagi Mas Arya juga aku antar karena mobilnya masuk bengkel!" gumam Livia.
Perempuan itu langsung menyambar tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Tak lupa Livia juga melapisi lagi tubuhnya dengan sebuah jaket rajut untuk menyamarkan gaun seksi yang kini membalut tubuhnya. Langkah lebarnya mengayun cepat menuju garasi.
Hanya dalam waktu dua puluh menit, Livia akhirnya sampai di kantor sang suami. Suasana gedung itu sudah sepi hanya menyisakan satpam di pintu masuk. Livia mengerutkan dahi karena tidak menemukan seorang karyawan pun ada di sana selain petugas keamanan.
"Pak, apakah Pak Arya masih ada di dalam?" tanya Livia kepada Parno, satpam yang masih ada di meja resepsionis.
"Oh, sejak sore tadi Pak Arya masih belum turun, Bu. Bu Nadira juga."
"Nadira?" tanya Livia sambil menautkan kedua alisnya.
"Ah, Bu Nadira itu sekretaris baru Pak Arya. Baru sekitar satu bulan bekerja membantu Pak Arya di kantor."
Ada firasat buruk yang kini menghantui pikiran Livia. Namun, lagi-lagi perempuan tersebut menepisnya. Dia masih yakin kalau hubungan keduanya tidak lebih dari sekedar teman kerja.
Setelah diizinkan bertemu suaminya, Livia langsung mengisi buku tamu dan bergegas menuju lift. Dia berjalan sambil menatap ponsel tanpa memperhatikan jalan. Baru beberapa langkah berjalan, Livia merasa tubuhnya menumbuk sesuatu yang lumayan keras.
Tubuh mungil Livia hampir saja terpelanting. Akan tetapi, seseorang berhasil menangkap lengannya sehingga Livia tidak jadi tersungkur ke atas lantai. Livia terbelalak ketika mengetahui siapa yang kini ada di hadapannya.