"Apa maksud kamu, Via?" Arya menautkan kedua alisnya kemudian melepaskan tubuh Livia dari pelukan.
Livia mengendus tubuh Arya kemudian menarik tangan sang suami. Dia terus mengendus pergelangan tangan Arya layaknya kucing yang sedang mencium aroma ikan asin. Tiba-tiba Arya menarik lengannya dari genggaman tangan Livia.
"Kamu tuh kenapa, sih, Via?"
"Aku kenapa? Mas Arya tuh, yang kenapa!" Livia balik kanan kemudian masuk ke kamar mandi.
"Apa parfum Dira menempel di tubuhku, ya?" Arya pun mengendus pergelangan tangan serta kemejanya.
Livia yang sudah masuk ke kamar mandi, langsung melepas pakaian dan verdiri tepat di bawah shower. Dia menyalakan benda itu sehingga kini air mengguyur tubuhnya. Kaki perempuan itu kembali lemas.
Punggung Livia menempel pada dinding kamar mandi, kemudian merosot ke bawah. Dia meringkuk di bawah guyuran air dingin. Ketika membayangkan bagaimana Arya menyentuh Dira dan dirinya dengan tangan yang sama, sontak Livia merasa tubuhnya ikut kotor.
Livia menggosok bagian tubuh yang tadi disentuh oleh sang suami. Dia terus menggosok tubuhnya menggunakan spons mandi hingga perih. Tangis yang bercampur dengan air mata terus mengalir membasahi wajah perempuan tersebut.
"Akan kupastikan kalian mengalami sakit yang berkali lipat dari apa yang aku alami sekarang! Aku akan membuat hidup kalian seperti di neraka!" teriak Livia di antara isak tangis.
Selesai mandi, Livia langsung berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Ketika dia keluar dari ruangan itu, Arya sedang berbaring di atas ranjang sambil bersandar pada kepala ranjang. Lelaki tersebut menatap layar ponsel, tetapi saat menyadari kehadiran Livia, dia menepuk ranjang kosong di sampingnya.
"Aku mau ke ruang kerja. Banyak kasus masuk di firma." Livia menggantungkan handuk kemudian keluar dari kamar.
Malam itu Livia tidur di sofa yang ada di ruang kerja. Ketika terbangun, tulangnya terasa patah semua. Semua bagian tubuhnya terasa nyeri.
Ketika sedang meregangkan otot, terdengar ketukan pada permukaan pintu. Livia memang sengaja mengunci diri di ruang kerja karena enggan bertemu dengan Arya. Perempuan tersebut akhirnya membukakan pintu.
Akan tetapi, tanpa diduga mertuanya menerobos masuk. Tidak hanya sampai di sana, Dela mendorong bahu Livia dan mendaratkan sebuah tamparan ke pipi perempuan tersebut. Ketika Livia kembali menatap sang ibu mertua, mata Dela melotot sehingga uratnya terlihat begitu jelas.
"Istri kurang ajar!" teriak Dela sambil menunjuk wajah Livia.
Livia tersenyum kecut. Rasa panas yang kini mendera pipinya tak seberapa sakitnya dengan tuduhan yang dilontarkan oleh sang mertua. Livia memilih untuk diam dan tetap bersabar karena ingin melihat drama apa yang akan dilakukan oleh Dela.
Dari sekian tahun pernikahan Livia dengan Arya, baru kali ini Dela bersikap kasar kepadanya. Biasanya sang mertua selalu bermulut manis dan membawa banyak makanan kesukaan untuknya setiap berkunjung ke rumah. Tak lama kemudian Dela melempar sebuah amplop besar kepada Livia.
"Kamu menyembunyikan fakta kalau mandul dari keluargaku? Dasar! Tahu gitu aku nggak akan izinkan Arya nikah sama perempuan mandul sepertimu! Arya itu putraku satu-satunya! Kalau tetap sama kamu, maka garis keturunan kami akan putus! Pantas saja kalian menikah sudah lima tahun, tapi belum memiliki anak!" seru Dela dengan d**a kembang kempis.
"Saya mandul, Ma? Sejak kapan ...." Belum selesai Livia mengucapkan kalimatnya, Dela kembali membentak perempuan tersebut.
"Aku mau kamu cerai sama Arya!"
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Dela balik kanan dan keluar ruang kerja Livia sambil membanting pintu. Setelah sang mertua keluar dari sana, Livia tersenyum kecut. Dia menatap amplop yang kini tergeletak di atas lantai.
Saat membuka amplop tersebut, Livia mengerutkan dahi. Dia langsung menghubungi rumah sakit yang membuat laporan hasil pemeriksaan sel ovarium itu. Setelah mengetahui faktanya, Livia hanya bisa tersenyum kecut.
"Licik," gumam Livia sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
Berdasarkan informasi dari pihak rumah sakit, mereka mengatakan kalau tidak pernah mengeluarkan hasil tes tersebut. Bahkan pihak rumah sakit mengatakan kalau hasil tes yang Livia dan Arya lakukan beberapa waktu lalu mengeluarkan hasil yang sangat bagus. Livia tercengang menyaksikan usaha mertuanya yang ingin memisahkan dia dan Arya setelah ada Nadira.
Perempuan itu berjalan ke arah jendela, kemudian membuka lebar gorden serta kacanya. Udara segar pagi hari langsung menerobos masuk dan membelai rambut indah Livia. Dia memejamkan mata sambil menghirup oksigen untuk memenuhi paru-paru.
Ranting pohon bergoyang sehingga membuat dedauan bergesekan satu sama lain dan menimbulkan bunyi riuh karena tiupan angin semilir. Hari ini Livia semakin yakin untuk berpisah dengan Arya. Dia langsung meminta bawahannya untuk mengurus surat gugatan cerai kepada Arya.
Di sisi lain, Arya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun, dia lupa kalau mobilnya masih ada di bengkel untuk perawatan bulanan. Lelaki itu akhirnya membuka pintu ruang kerja Livia.
"Kamu belum bersiap?" tanya Arya sambil mengerutkan dahi.
"Aku tidak bekerja hari ini." Livia balik kanan, lalu menatap Arya yang kini berdiri di ambang pintu.
"Ah, kebtulan. Kunci mobil mana? Aku pakai dulu sampai mobilku selesai diservis." Kali ini Arya menengadahkan tangan untuk meminta kunci mobil Livia.
"Aku tidak bekerja, bukan berarti mobilnya tidak aku pakai, Mas." Livia tersenyum miring kemudian berjalan ke arah meja kerjanya.
"Memangnya kamu mau ke mana? Terus, aku berangkat kerja gimana? Bisa telat!" Kali ini nada bicara Arya sedikit lebih tinggi.
"Bisa pesan gojek. Naik aja motor, biar satset! Malah lebih cepat sampai 'kan daripada naik mobil?" Livia terkekeh sambil menatap layar laptopnya.
"Enak saja! Aku ini manajer keuangan perusahaan besar! Kerja naik gojek? Mau ditaruh amna mukaku, Via?"
"Terserah! Tapi aku tidak akan meminjamkan mobilku!" Livia kembali beranjak dari kursi putar.
Perempuan tersebut berjalan melewati sang suami sambil menabrak bahu Arya. Arya terus mengomel dan berteriak, tetapi Livia memilih untuk mengabaikan suaminya itu. Ketika Arya terus mengikuti sang istri sambil bicara dengan mulut besarnya, Livia masuk kemudian mengunci pintu kamar.
"Livia!" teriak Arya sambil menggedor pintu kamar.
"Berisik sekali, Ya?" Dela menyusul sang putra sambil menggigit apel yang dia genggam.
"Ini, Ma! Livia belagu banget! Kayak kesurupan! Dari semalam sikapnya aneh banget!"
"Bagus, dong! Kamu bisa pisah sama dia lebih cepat terus nikah sama ...." Dela tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sang putra membekap mulutnya.
"Sssttt!" Arya menempelkan jari telunjuknya pada bibir.
Mereka pun akhirnya turun ke ruang tamu dan membiarkan Livia tetap dalam kamarnya. Sementara itu Livia sudah siap dengan rencana awal yang pasti akan membuat sang suami terkejut usai pulang kerja.
***
Hari berlalu begitu cepat, Arya memutuskan untuk bersantai sebelum pulang ke rumah. Dia dan Dira bermesraan seperti biasa sebelum akhirnya perempuan tersebut mengantarnya pulang. Kali ini Dira duduk di pangkuan Arya dengan lengan yang melingkar pada leher lelaki itu.
"Jadi, kapan kamu cerai sama istrimu, Mas?" tanya Dira dengan nada manjanya yang menggoda.
"Segera! Tunggu sebentar lagi. Aku sedang mengurus sesuatu." Arya tersenyum simpul sambil membelai pipi mulus gadis di pangkuannya itu.
Arya menatap manik mata Dira penuh hasrat. Dia bersiap untuk mendaratkan kecupan pada bibir sang kekasih. Akan tetapi, sebuah panggilan merusak momen romantis yang hendak Arya ciptakan.
"Apa!" teriak Arya setelah berbicara dengan seseorang di ujung telepon.