Bab 6. Tak Perlu Dijelaskan

1172 Kata
Livia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia melepas kacamata dan meletakkan benda tersebut ke atas meja. Tak lupa perempuan tersebut mengukir senyum miring di bibir tipisnya. "Bahkan ketika kamu selingkuh dengan sekretarismu itu, aku tidak meminta penjelasan apa pun darimu, Mas. Ya, aku tidak meminta penjelasan dan tidak perlu tahu alasannya, karena memang aku tidak bersalah." Livia berusaha mengatur emosinya agar tetap tenang saat berhadapan dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu. Arya bungkam seketika. Matanya terbelalak karena tidak menyangka ternyata Livia sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Nadira. Arya mengusap wajah kasar kemudian menelan ludah sebelum akhirnya menatap kembali sang istri. Livia enggan mencurahkan emosi berlebih. Dia tidak mau kalah dengan perasaannya yang hancur. Rencananya untuk membuat kehidupan Arya dan Nadira porak-poranda harus terwujud. Perempuan tersebut membuka laci meja kerjanya kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam sana. Dia menggeser amplop maju sehingga kini ada di depan Arya. Lelaki itu pun mengerutkan dahi. "Ini surat gugatan cerai. Aku ingin kita pisah, Mas!" Livia tersenyum tipis sambil menatap sang suami. "Ah, untuk masalah harta gono gini, sebelumnya kita ada perjanjian pranikah bukan? Aku masih menyimpan dokumen itu. Entah denganmu masih menyimpannya atau tidak." Livia tersenyum kecut sambil menatap Arya yang terlihat marah. "Kita sepakat untuk memisahkan harta masing-masing. Selain itu, aku ingin menuntutmu ke pengadilan agama dengan tudingan tidak menafkahiku selama pernikahan." "Apa katamu? Aku selalu memberimu uang setiap bulan!" teriak Arya dengan d**a kembang kempis. "Ah, itu uang belanja. Apa yang kamu berikan hanya cukup untuk biaya keperluan rumah. Aku membeli kebutuhan pribadiku menggunakan uangku sendiri." Livia mengucapkan semua kalimat itu setenang mungkin. "Lalu, rumah itu! Aku yang beli! Aku juga mencicil mobil yang kamu jual tanpa izin." "Apa kamu lupa? Rumah dan mobil atas namaku! Kamu dulu membelinya untuk mahar pernikahan kita! Sudahlah! Kamu sudah salah berurusan denganku! Kamu tahu di mana pintu keluar? Aku sedang banyak pekerjaan silakan keluar!" usir Livia. "Via, kamu keterlaluan! Aku akan menuntutmu!" teriak Arya emosi. "Menuntut untuk apa? Aku melakukan semua ini sudah sesuai dengan hukum. Banyak bukti yang akan menyudutkanmu jika bertindak lebih jauh dari ini!" Rahang Livia mengeras ketika melihat Arya bersikeras hendak mengajukan banding mengenai harta gino-gini mereka. Akan tetapi, Livia yakin Arya tidak akan melakukan hal lebih jauh. Dia tidak memiliki kekuatan hukum seperti Livia. Terlebih memang lelaki itu akan semakin tersudut jika nekat melakukan gugatan. Mau tidak mau Arya pun keluar dari ruangan Livia. Lelaki tersebut membanting pintu kasar sehingga menimbulkan gema dalam ruangan sang istri. Begitu pintu kembali tertutup rapat, kekuatan Livia seakan menguap ke udara. Bahu Livia merosot dengan punggung yang kini bersandar pada kepala kursi. Perempuan tersebut mendongak berharap agar air matanya tidak jatuh. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. "Masuk!" seru Livia sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Pintu pun terbuka dan seorang pria tampan masuk ke ruangan Livia. Lelaki tersebut membawa sebuah map dan langsung disodorkan kepada Livia. Perempuan tersebut tersenyum lebar, lantas membuka map berwarna merah muda tersebut. "Terima kasih, Farel." Farel menarik kursi dan duduk di depan meja kerja Livia. Lelaki tersebut bertopang dagu sambil menatap sahabat sekaligus rekan kerja seprofesinya itu. Livia tampak serius ketika meneliti semua berkas yang diberikan oleh Farel. "Kenapa? Sepertinya serius sekali." Farel kini berpindah posisi. Lelaki itu melipat lengan di depan d**a dan langsung menyandarkan punggung pada kepala kursi. Livia masih tidak menjawab. Akan tetapi, gerakannya dalam membolak-balik dokumen berhenti setelah membaca beberapa halaman. Farel kini mencondongkan tubuhnya ke arah Livia. Lelaki itu menggerakkan telapak tangan di depan wajah sang sahabat yang masih termangu menatap berkas di hadapannya. "Livia, are you okay?" tanya Farel. "R-Rel, kamu yakin data yang dikumpulkan ini valid?" tanya Livia dengan mata tak lepas dari selembar dukomen yang kini dia pisahkan dari dalam map. "Tentu! Aku mengumpulkannya hanya dalam waktu semalam! Padahal aku mengumpulkan data penting dari seorang Reza Cakrabumi. Bukankah aku orang yang sangat hebat!" seru Farel sambil mendongak dan tersenyum jemawa. "Rel, terima kasih!" Mendadak Livia tersenyum lebar sambil memegang tangan Farel. Kali ini Farel yang melongo. Tiba-tiba Livia beranjak dari kursi dan meraih tas yang tergeletak di atas meja. Dia buru-buru untuk keluar dari kantor. "Via, mau ke mana?" tanya Farel setengah berteriak. "Aku mau ketemu Sandra! Titip kantor sebentar!" pesan Livia sambil melambaikan tangan. Perempuan tersebut langsung menghubungi Sandra yang merupakan putri tunggal dari pemilik perusahaan kosmetik nomor satu di Indonesia. Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe yang ada di sekitar kantor firma milik ibu Livia. Alunan musik populer tahun ini menyapa pendengaran Livia ketika dia memasuki bangun berdesain minimalis modern itu. Aroma semerbak kopi langsung membuat hati dan pikiran Livia menjadi sedikit lebih tenang. Dia menuju meja kasir dan memesan dua gelas minuman serta dua porsi camilan. Setelah membayar pesanannya, Livia berjalan ke meja yang ada di paling pinggir dari bangunan tersebut. Kali ini pesanannya datang lebih dahulu dibandingkan dengan sang sahabat. Selang sepuluh menih, pintu kafe terbuka sehingga menampilkan sesosok perempuan berpenampilan modis, sehingga menyita perhatian seluruh karyawan serta pengunjung tempat itu. "Sini!" seru Livia sambil mengangkat tangannya. Sandra pun berjalan dengan cepat menghampiri sang sahabat. Dia menarik kursi dan mendaratkan tubuh rampingnya ke atas benda tersebut. Setelah itu Sandra melepaskan kacamata hitam yang membingkai mata indah dengan lensa alami berwarna kebiruan. "Ada apa, Via? Kau tahu, aku membatalkan janji temu dengan produser demi bisa menemuimu!" Sandra menyipitkan mata seraya mengerucutkan bibir. "Maaf, Beb. Tapi aku ingin minta tolong sama kamu!" Livia menggenggam jemari sang sahabat sambil menatapnya serius. "Apa, nih? Tumben serius banget!" cibir Sandra. "Pacarmu kerja di kantor induk Cakra Grup, 'kan?" "Iya, Anton bahkan asisten pribadi Pak Reza. Gimana?" Sandra menggunakan sebelah tangannya untuk mengangkat gelas kopi dan menyesap cairan itu perlahan. "Bagus! Aku mau minta tolong kamu hubungi dia dan tanya lagi di mana. Aku tunggu sekarang!" seru Livia. "Hey, Nona Muda! Kamu tuh ...." "Ayolah, San. Please ...." Livia memohon kepada sang sahabat sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. "Oke," jawab Sandra singkat, kemudian mulai merogoh ponsel dari dalam saku blazer-nya. Livia menunggu kabar dari Sandra dengan jantung berdegup begitu kencang. Perempuan itu terus menggoyangkan kaki ke atas dan bawah ketika mendengar percakapan telepon sang sahabat yang terdengar basa-basi. Livia menyenggol lengan Sandra untuk memberi kode agar perempuan itu segera menanyakan apa yang dia minta. "Ah, Tonton Sayang. Kamu lagi di mana?" tanya Livia sambil memutar bola matanya. Suasana hening sejenak karena Sandra menunggu jawaban dari sang kekasih. Ketika Anton memberi tahu Livia kalau dia sedang ada di rumah Reza, Sandra langsung meneruskan jawaban itu kepada Livia. "Tolong tanyakan jadwal Pak Reza hari ini, San." Sandra langsung melemparkan tatapan tajam kepada sang sahabat. Namun, Livia bersikukuh untuk meminta sahabatnya mendesak sang kekasih. Sandra memutar bola mata lagi dan mulai menanyakan apa yang ingin diketahui oleh Livia. "Ah, baiklah, terima kasih, Sayang. Love you ...." Sandra mengakhiri sambungan telepon lalu meletakkan ponselnya secara kasar ke atas meja. "Hampir saja Anton salah paham! Kamu sebenarnya kenapa, sih, Via? Tumben banget nanyain soal Pak Reza! Jangan cari masalah sama beliau!" Livia mencondongkan tubuh ke arah Livia sambil menatap tajam perempuan yang duduk berseberangan dengannya itu. "Ah, i-itu ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN