Bab 18. Terbongkar Secepat Itu

1166 Kata

Reza terdiam seketika. Dia melirik Anton yang kini sedang menatap layar ponselnya. Saat tatapan keduanya bertemu, Anton menggeleng. Reza akhirnya mengembuskan napas kasar. Dia berdiri dari kursi kemudian menatap lurus ke arah hakim. Lelaki itu menelan ludah dan berdeham sebelum akhirnya angkat bicara. "Maaf, Yang Mulia. Saya juga tidak tahu. Semalam pengacara saya masih berkomunikasi dengan asisten pribadi saya. Dia mengatakan beberapa hal penting. Tapi, pagi ini mendadak tidak bisa dihubungi." "Saudara terdakwa, apakah Anda ingin melanjutkan persidangan tanpa kehadiran pengacara, atau menunggu hingga pengacara Anda hadir?" tanya Hakim sambil membetulkan letak kacamatanya. "Yang Mulia, saya tidak memiliki pembela cadangan atau pun advokat yang bisa dihubungi secara mendadak. Bolehkah p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN