Abla Bagian 2

1197 Kata
Yu Ri kembali ke mejanya usai pencarian panjang mencari cermin dan baru tersadar kalau dari tadi Yo Han menduduki tempat duduk kosong disebelahnya. Yo Han sejatinya tidak salah, dia tidak tahu dimana tempat duduknya. Kemarin dia hanya di beritahu berada di kelas dua- E. Yang kosong hanya bangku disebelah Yu Ri jadi dia mendaratkan bokongkya disitu. Baru saja Yu Ri ingin memperkarakan masalah itu dengan Yo Han, tiba-tiba Seo Joon angkat bicara. Dia menutup bukunya, memperbaiki letak kacamatanya. "Oh kalian sudah selesai memancing keributan? Orang seperti kalian hanya bisa berbuat seperti itu, tapi sok sekali mengkritik aku." Seo Joon menyunggingkan senyum merendahkan. Sadar dirinya yang disinggung, Yu Ri menarik napas kemudian menghembuskannya, dia berusaha untuk tidak terpancing. Yu Ri kembali duduk dan membersihkan wajahnya, melupakan persoalannya dengan Yo Han. Hidupnya ya hidupnya, tidak ada standar yg harus mengaturnya. Min Ju ringan saja mengangkat bahu tak peduli, dia lanjut membersihkan wajahnya yang sempat terhenti demi mendengar ucapan Seo Joon tadi. Suasana diruangan itu terasa memuakan sekali. Siswa lain saling berbisik membuat perhitungan mundur menunggu keributan terjadi. Hanya karena takut dimarahi guru dan dibilang ikut campur, mereka menahan diri untuk tidak bersorak, memanasi keadaan. "Kalian yang hanya tahu mengandalkan otot, bagaimana bisa mengatur kelas? Otak kalian mungkin sudah berkarat." Dia berpaling melihat kearah teman-teman sekelasnya seolah berkata, lihat apa yang kubilang mereka hanya sekumpulan preman onar yang bodoh. Na Hyun tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi, dari tadi tangannya terkepal di bawah meja. Tangan kirinya menggebrak kursi Seo Joon dengan kuat sehingga membuat Seo Joon terjungkal kedepan. Teman sekelasnya menjerit tertahan. Sebelum jatuh kelantai dadanya terbentur pinggiran meja, suaranya cukup keras. Seo Joon memegangi dadanya yang terbentur, dia meringgis menahan sakit. Na Hyun belum puas, dia memutar kebelakang menghampiri Seo Joon. Na Hyun mencengkram kerah baju Seo Joon, mengangkat Seo Joon dari lantai. Membuatnya kesulitan bernapas. Tatapan Na Hyum tidak mengendur sama sekali. Seo Joon bisa merasakan aura mengerikkan miliknya secara langsung dan dekat. Dia menarik tangannya kebelakang, hendak meninju. Hyeri yakin sekali Na Hyun akan meninjunya segera menghentikan pergerakan. Min Joo dan Ha Joon refleks berdiri. "Duduk! Kalian berempat duduk." Hyeri memukul meja, memekik dingin. Matanya menyorot tajam Na Hyun. Na Hyun melepaskan cengkraman baju Seo Joon dengan kasar. Wajahnya merah padam mengeras. Seo Joon terbatuk-batuk kecil akibat lehernya yang tercekik. "Mulutmu seperti wanita murahan." Hyeri berkata dingin, "Lain kali aku sendiri yang akan membungkam mulutmu." Hyeri tersenyum tipis. "Sampai kau lupa caranya berbicara." Seo Joon meremas dadanya, bukan karena ancaman, tapi benturan keras yang dia terima. Kerutan di keningnya cukup menggambarkan kesakitannya. Dia jatuh berlutut didepan Na Hyun sambil memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Teman sekelasnya berdiri terkejut melihat reaksi tiba-tiba dari Seo Joon. Wajahnya menghadap keatas berusaha mengambil udara yang banyak. Bibirnya menjadi pucat. Dia bernapas dengan keras. Napasnya hanya satu-satu. Na Hyun terdiam, tangannya yang tadinya terkepal berada disamping kedua sisi bajunya, mengendur perlahan. Dia tak bergerak, memandang saja Seo Joon yang sekarat di depan matanya. Ha Joon yang dari tadi diam saja memperhatikan keributan, sigap berdiri begitu Seo Joon ambruk. Dia mengira Na Hyun akan menolong, karena keberadaan Na Hyun yang paling dekat dengan Seo Joon. Tapi tidak, bahkan ekspresi Na Hyun datar sekali. Seolah itu bukan masalah besar. Min Joo segera menghampiri Seo Joon. Dia sempat menabrak bahu Na Hyun dari belakang. Min Joo menepuk-nepuk pelan pipi Seo Joon, mencoba mempertahankan kesadaran Seo Joon. Meskipun masih kesakitan dan kesal melihat Seo Joon tadi, Yu Ri dan Yo Han tetap mengkhawatirkan keadaan Seo Joon. Yu Ri yang hanya tahu make up dan sedang panik, memberikan sebuah pemijat pipi berbentuk penjepit gorengan dengan bulatan kecil diatasnya. "Itu tidak berguna bodoh! Untuk apa itu coba. Dia ini sedang sesak napas bukan karena pipinya kebesaran" Min Joo geleng-geleng melihat tingkah Yu Ri. Yu Ri menggaruk kepalanya yang tak gatal, menahan malu. Yo Han dan Ha Joon langsung bahu-membahu mengangkat Seo Joon. Meskipun kaki mereka berdua terluka, tapi menggendong Seo Joon bukan hal sulit. Teman-temas sekelas berbondong-bondong keluar mengikuti Ha Joon dan Yo Han ke ruang kesehatan. Mereka kepalang ingin tahu apa yang terjadi. Murid kelas lain yang melihat kericuhan dari luar jendela berbisik-bisik membuat argumen. Guru di kelas mereka masing-masing sampai memukul meja dengan penggaris, menyuruh diam. Di kelas tersisa tinggal empat orang; Na Hyun, Yu Ri, Hyeri dan Min Joo. Min Joo dan Yu Ri masih berdiri saling membisu. "Yu Ri, Min Joo, tolong tinggalkan kami berdua" pinta Hyeri. Min Joo dan Yu Ri mengangguk. Mereka segera keluar dari kelas. Min Joo yang penasaran apa yang terjadi, menguping didekat jendela yang berada di dekat bangku mereka. Yu Ri juga menimbrung diatas badan Min Joo yang menunduk. Lima menit lenggang. Hyeri dan Min Joo menepuk-nepuk kakinya, mulai pegal. Na Hyun masih berdiri diam, kepalanya tertunduk. Hyeri tidak bisa melihat ekspresinya. Apakah dia menunduk menyesal atau apalah. "Kau baik-baik saja?" tanya Hyeri. Seo Joon sudah diatasi dokter yang bertanggung jawab dan ahli dibidangnya. Tapi Na Hyun, posisinya yang tak berubah meyakinkan Hyeri kalau terjadi sesuatu padanya. Hyeri tidak tahu pasti. Min Joo makin mendekatkan telinganya ke jendela yang tertutup. Dia tak sengaja menginjak kaki Yu Ri yang berdiri dibelakangnya. Yu Ri menjitak kepala Min Joo sebagai pembalasan. "Kau baik-baik saja?" tanya Hyeri sekali lagi. Air mata Na Hyun tak terbendung lagi. Dia berjongkok menyembunyikan wajahnya yang menangis. Di luar sana Min Joo dan Yu Ri cukup kaget melihat Na Hyun mendadak menangis. Na Hyun tak tahu kenapa dia harus menangis. Lebih mudah menjawab kalau dia sedang baik-baik saja atau mengarang alasan lain. Tapi tidak, bibirnya tak kuat berucap, air matanya yang turun mengalir, menjawab pertanyaan. Hyeri berdiri dan beranjak. Tangannya terulur ragu-ragu mengelus rambut blonde Na Hyun. Air mata Na Hyun keluar semakin deras. Dadanya terasa sesak dia tidak tahu kenapa jika ditanya. Hyeri membiarkan Na Hyun menangis, jari-jarinya membelai lembut. "Aku kira mereka akan baku hantam. Padahal aku penasaran siapa yang paling kuat diantara mereka berdua", bisik Yu Ri pada Min Joo. Min Joo geleng-geleng karena pemikiran titisan setannya Yu Ri padahal dalam hati dia juga berpikir seperti itu. Na Hyun mengusap air matanya. Dia berusaha menegakkan kepalanya menoleh kesamping kiri, menatap Hyeri. Matanya sembap, dia baru menangis selama lima menit. Tapi bengkak matanya terlihat jelas. Na Hyun sepertinya sudah sering menangis. "Pergi sana!" Na Hyun menepis tangan Hyeri. Hyeri diam melihat tangannya yan ditepis tadi. "Terima kasih." Suaranya masih bergetar dan sesenggukan. Hyeri tersenyum lembut. Ini kali pertamanya tersenyum lembut. Entah sejak berapa lama. "Lain kali," Na Hyun mengusap wajahnya lagi dan berdiri. Hyeri ikut berdiri. "Aku pikir kau akan memarahiku tari. Lebih baik tadi kau memarahiku saja, dari pada bertanya kabarku." Hyeri tersenyum sekali lagi. "Aku memang ingin memaki-makimu tadi, tapi wajahmu jelek, kusut sekali. Aku tidak selera." Hyeri mengambil tisu dari atas meja Yu Ri. "Kau tahu, ketika seseorang bertanya padaku, apa aku baik-baik saja, aku akan mengepalkan tanganku kuat-kuat sampai kuku memutih agar tidak menangis" ujar Hyeri. Matanya memandang jauh keluar jendela, ke balik dedaunan pepohonan yang bergoyang ditiup angin. "Aku selalu berusaha terlihat kuat dan tak tersentuh. Tapi melihatmu menangis didepanku, membuat aku sadar, aku tak perlu selalu kuat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN