Dokter yang saat ini bertugas diruang kesehatan lekas berlari begitu pintunya keras digedor-gedor, tak sabaran. Ha Joon dan Yo Han menyerobot masuk dengan Seo Joon dibopongan mereka. Dia terus menerus memegangi dadanya yang semakin sakit jika bergerak sedikit saja.
Yo Han mengangkat dan membopong bagian atas tubuh Seo Joon. Sementara Ha Joon memegangi kedua kaki Seo Joon. Yo Han beberapa kali meneriaki Ha Joon yang terus-menerus mengangkat pebih rendah dari Yo Han. Hal itu membuat Yo Han keberatan. Meski ceking, Seo Joon ternyata lebih berat dari yang terlihat. Berat dosa, pikir Ha Joon.
Pintu langsung ditutup begitu melihat gerembolan siswa sekelas mereka berdiri didepan ruangan dengan wajah penasaran setengah hidup. Beliau malah mengancam akan menyuntik siapapun yang berani-berani menerobos masuk dengan suntik rabies hewan. Gerombolan anak terpaksa mengangguk patuh, menunggu, menempelkan telinga berharap mendengar sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan gosip.
Dokter itu perempuan, masih muda kira-kira berumur 25, dia segera memakai jas putih sewarna putih gading dengan dua kantong, dimana salah satu kantongnya terisi sebuah stetoskop, membalut kemeja bunga berwarna pink dijahit mengikuti lekuk tubuhnya.
"Taruh dia diatas sini" Dokter Jang — begitu nama yang tersemat di jasnya, menunjuk kearah salah satu bangsal kosong terdekat. Bangsal itu dilapisi seprai biru dengan selimut bunga-bunga sakura berwarna merah muda cerah. Bantalnya yang kelihatan empuk bergambar seorang bayi gempal memegang sebuah panah, cupid. Ha Joon tebak Seo Joon tidak akan menyukai bangsalnya.
"Letakkan dia pelan-pelan" Perintah Dokter Jang. Terlambat, kedua orang bodoh ini tidak tahu cara meletakan seorang pasien yang sedang sekarat. Secara tidak sadar, mereka melempaskan begitu saja pegangangan pada tubuh Seo Joon diatas bangsal, seolah membuang sampah di tong sampah. Ha Joon menutup mulut dengan tangan, menegeluarkan kata "Ups."
Badan Seo Joon terpelanting tidak terlalu keras, tapi cukup membuat keningnya semakin mengerut sembari memegangi dadanya. Bangsal berderak sebentar menahan bobot Seo Joon.
Dokter Jang memelototi mereka yang dibalas cengiran. Dokter Jang memasang stetoskopnya yang terbelah ke telinga, bagian yang datar meraba-raba dadanya. Dokter Jang berkonsentrasi memcoba mendengar paru-paru Seo Joon. Buku kuku Seo Joon memutih menahan sakitnya, dia mengerang kesakitan.
Yo Han belum lama mengenal Seo Joon, dia baru bertemu setengah jam yang lalu. Dan sampai Seo Joon membangkitkan amarah Na Hyun, dan disinilah Yo Han membopong dan menemani dia yang sedang di periksa. Takdir memang terkesan lucu. Meskipun saat ini bayangan Seo Joon dibenak Yo Han adalah menyebalkan, tetap saja dia tidak tega melihatnya merintih kesakitan. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan makian pedas. Dia tahu rasa sakit itu, apalagi seseorang yang dikenalnya juga pergi sambil memegangi dadanya.
Sekelabat pemikiran itu tiba-tiba menghantui Yo Han. Wajah memelas yang pucat dan tangan yang berusaha mengagapai-gapai Yo Han, rintihannya putus asa memanggil nama Yo Han, meminta pertolongan. Kenangan itu berputar-putar di kepala dan perut Yo Han. Seolah disanalah kenangan itu berada.
"Santai saja bung, b****g kau tidak akan disuntik" ujar Ha Joon memegang bahu Yo Han yang hampir terjungkal kebelakang. Yo Han mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mencoba memikirkan hal yang indah. Ayo Yo Han pikirkanlah hal-hal yang indah, gumamnya dalam hati. Sekelabat ingatan dia dikejar-kejar oleh gerombolan orang pemarah dengan badan dua kali lebih besar dari serta kenyataan kalau dia bisa saja bakal mati jika tidak ditolong oleh Na Hyun dan yang lainnya, yang menyeruak keluar. Bagus pemikiran yang indah sekali, cibirnya.
"Ada yang tidak beres dengan paru-parunya. Caranya bernapas tidak biasa" Yo Han dan Ha Joon melongo-longo mendengar ucapan Dokter Jang. Dokter Jang memutar mata, tak guna menjelaskan dengan mereka berdua.
"Kau tolong panggilkan ambulan segera!"
"Baik Dok" Ha Joon mengangguk patuh sementara Dokter Jang memasang alat bantu pernapasan dengan tabung yang memang berdiri disitu jika diperlukan. Yo Han mengamati gerak-gerik tangan Dokter Jang yang lincah memasang alat itu. Yo Han pernah melihat tabung seperti itu di dalam mobil dilapisi warna merah. Dia sesekali menggetok kepala musuhnya dengan benda itu jika berada didekatnya.
Tapi mungkin pikirnya, fungsi tabung yang itu berbeda dengan yang ini. Seo Joon setidaknya sedikit lebih tenang begitu menghirup oksigen bantu.
"Ehm.. Dok, saya tidak hafal nomor ambulan Dok, Nomor ambulan berapa Dok?" "Nomor bapakmu saja" ujar Dokter Jang asal tanpa beradu pandang dengan Ha Joon. Ha Joon mengangguk patuh, Yo Han menahan mulutnya untuk tidak menyeburkan tawa melihat kebodohan Ha Joon. Ha Joon serius, dia mengetik lalu menghapus, mengetik lagi lalu menghapusnya lagi, tidak yakin dengan ingatannya. Matanya melirik Dokter Jang yang selesai memberi bantuan pertama pada Seo Joon. "Saya juga tidak hafal nomor bapak saya Dok" ada sebersit rasa malu yang timbul.
"Nomor orang tua sendiri lupa, bagaimana mau mengahafal nomor ambulan?" Dokter Jang menatapnya jengah. Tatapannya beralih pada Yo Han. Yo Han langsung menyerocos " Oh, aku hafal nomor ambulan banyak negara. Ada Jepang, China, Thailand, Indonesia" ujarnya dengan bangga. Dokter Jang mengangkat satu alis, menunggu.
"Yah tidak Korea Dok, tapi saya hap—" Dokter Jang mengeluarkan puh pelan, berlalu menuju meja kerja, mengabaikan Yo Han yang masih melakukan pembelaan dan terus-menerus mengatakan kalau dia lebih baik dari Ha Joon.
Ha Joon tidak terima, dia menjabarkan kebaikannya yang menurutnya jauh lebih baik dari Yo Han. Ingin rasanya dia menyihir kedua orang itu menjadi tikus, meletakkannya di gorong-gorong parit sekolah.
Dokter Jang menekan nomor satu cukup lama, nada sambung dengan cepat digantikan dengan sebuah suara.
"Bawakan satu ambulan kemari. Ha? Iya sepertinya paru-parunya mengalami kebocoran. Oke baik" Dokter Jang menekan kembali tombol-tombol usai sambungan tadi diputus, membentuk sebuah nomor telepon. Cukup lama, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Pasien siswa umur tujuh belas tahun" jelas Dokter Jang tanpa basa-basi. Dokter diseberang sana menyimak, tampaknya sudah terbiasa dengan kebiasan Dokter Jang.
"CT Scan apa bodoh! Kau kira sekolah ini punya alat seperti itu." Dokter Jang mengumpat.
"Iya aku tidak salah, paru-parunya berisik. Jika tidak kanker, berarti paru-parunya bocor."
"Aku tidak tahu, aku belum menanyai mereka. Di d**a pasien ini tidak ada lebam biru. Sediakan saja alat yang sudah kubilang. Bersiap juga untuk operasi jika dibutuhkan, kau ingat, tiap pasien sekolah ini punya prioritas" Suara diseberang sana berdeham menanggapi.
Dokter Jang mengintip dari Jendela memastikan ambulan sudah datang. Tak sampai lima menit mobil ambulan berwarna hitam mengilap telah parkir di depan pintu. Mobil itu salah satu fasilitas mewah milik sekolah. Dokter Jang pernah mengusulkan agar mobil mewah itu diganti dengan mobil ambulan biasa saja, tapi sekolah tidak mendengarkan. Empat orang petugas dari rumah sakit berhamburan keluar sambil membawa alat berbentuk persegi panjang untuk mengangkut pasien.
Dokter Jang segera mengambil tabung, bersiap-siap membantu. Dia menyuruh Ha Joon dan Yo Han membantu mendorong bangsal keluar halaman sekolah daripada bertengkar tidak jelas.
Murid-murid yang penasaran masih berdiri didepan pintu. Mereka memberi jalan pada bangsal Seo Joon. Dibelakang mereka mengikuti sambil berceloteh menyampaikan spekulasi masing-masing. Dokter Jang hampir-hampir berpikir kalau dia perlu belajar meramu obat yang bisa mengubah manusia kepo menjadi tikus got.