Bala Bantuan 2

1010 Kata
"Semua, mundur!" teriak salah satu anak buah berbadan besar yang merupakan pimpinan serangan mereka. Tak peduli seberapa banyak atau terlatih mereka, s*****a api itu bukan pilihan yang bagus untuk dilawan. Seperti anak ayam yang diuber, anak-anak buah itu lari terbirit-b***t, setengah dari mereka terpincang-pincang terluka dalam perkelahian, menyelamatkan diri. Pertemanan geng mereka patut diacungi jempol. Anak buah yang masih sanggup berlari normal menggandeng, membantu kawannya yang terluka, bukan malah meninggalkan. Jalanan menuju gedung sekolah yang beberapa menit lalu tempat pertumpahan darah, mendadak lenggang. Salah satu pemimpin yang menembakkan peluru ke langit-langit maju mendekati mereka. Dia tersenyum tidak menyenangkan. Pasukan berpistol di belakangnya diam berdiri dibelakang menunggu perintah. Mereka menurunkan acungan pistol begitu pimpinan mereka mengangkat tangan. Yo Han, Min Joo, Yu Ri, Ha Joon dengan sigap mendekati Na Hyun dan Hyeri yang diam mematung. Yu Ri menyadari tangan Na Hyun terkepal kuat. Urat-urat pembuluh darahnya terlihat menonjol dikulit putih kepalan Na Hyun. Insting Yu Ri membuatnya spontan memasang kuda-kuda. "Nona Na Hyun, Papamu mengirim kami untuk mengatasi masalah anak nakalnya yang sepertinya kewalahan bermain dengan tikus-tikus got" Lagi-lagi dia tersenyum. Senyum jijik melihat wajah Na Hyun yang babak belur. "Ah, melihat lukamu begini" Pimpinan berpakaian itu memegang ujung dagu Na Hyun, menggerakannya ke kiri dan ke kanan. "Jangan pernah bermimpi menghancurkan aku" gumamnya pelan penuh tekanan. Bibirnya menyungging senyum sinis. Na Hyun menepis tangan pria itu menatapnya penuh kebencian. "Ini tidak ada urusannya sama sekali dengan pria tua itu!" Mata Na Hyun terkunci pada tatapan pria itu. Mereka berdua saling beradu menatap tajam. "Pria tua itu siapa?" bisik Ha Joon pada Yu Ri disebelahnya, tak tahan untuk tidak bertanya. Yu Ri mengangkat bahu menanggapi. Matanya tidak lepas dari pria itu juga. Jika tiba-tiba terjadi sesuatu, dia bisa segera melarikan diri - eh menyelamatkan Na Hyun maksudnya. "Pria tua itu tentu saja yang rambutnya putih" jawab Min Joo yang mendengar pertanyaan Ha Joon. Ha Joon mengerutkan keningnya berpikir. "Tapi waktu sekolah menengah pertama ,aku mewarnai rambutku warna putih ada hijau tuanya sedikit" sanggah Ha Joon mengingat wsrna rambutnya sewaktu masih SMP. "Loh buktinya rambut kakek aku warna putih kok!" Min Joo tak mau kalah dari Ha Joon. Perdebatan bodoh itu segera dihentikan Hyeri dengan menatap tajam mereka berdua. Pria itu menyipitkan matanya, menatap penuh intimidasi Ha Joon dan Min Joo. Sepertinya, senyum sinis, menghina sudah menjadi kebiasaan pria itu. "Ya ya ya," dia mengangguk-angguk berjalan kebelakang, kembali kemobilnya tanpa melepas pandangan dari Na Hyun dan kawanan. "Tikus cocok bermain dengan tikus lain di got" katanya memasang kembali kacamata hitam yang terselip dibalik saku jasnya. Dia memandang sekilas kearah gedung sekolah, ratusan siswa yang melihat kedatangan mereka terlihat bersorak senang. Suara riuh rendah terdengar hingga keluar. Pasukan berbaju hitam kompak langsung masuk begitu pimpinan mereka masuk kembali ke mobil. Mobil-mobil hitam mengilap yang dilengkapi lapisan anti peluru dengan kencang meninggalkan mereka tanpa suara. Menyisakan Na Hyun dengan marah padam. Na Hyun meninggalkan mereka terlebih dahulu. Kakinya melangkah keujung jalan bukan kearah sekolah. Hyeri membiarkan Na Hyun pergi, dia kembali ke sekolah. Saat mengambil ancang-ancang memanjat pagar, pintu pelapis pagar turun. Pagar utama terbuka disusul keluarnya kepala sekolah mereka. Hyeri mundur. "Mau kemana kamu Na Hyun!" teriakannya menggelegar memecah kebisuan. Demi mendengar teriakan wanita paruh baya itu, Na Hyun berbalik, kembali ke sekolah dengan wajah masam ditambah lebam biru disekujur tubuh. "Si muka kuda ini selalu menyebalkan sekali," gerutu Na Hyun. Teman-temannya berlima sudah masuk lebih dulu. Disuruh menunggu di kantor kepala sekolah. Kepala sekolah kembali masuk begitu memastikan Na Hyun berada dibelakangnya. Pagar kembali tertutup, Pak satpam tersenyum tipis menyemangati Na Hyun. Setelah kekacauan yang timbul tadi, semua guru menghimbau seluruh siswanya masuk kembali ke kelas masing-masing. Murid-murid yang masih berdiri di koridor ngeri menatap wajah Na Hyun dan kawan-kawan secara dekat begitu melewati koridor menuju kantor sekolah. Mereka memilih mengabaikan tatapan orang lain. Begitu sampai di kantor, kepala sekolah dan Pak Kim sudah menunggu. Direktur yayasan juga terlihat duduk manis menyesap kopi. Tak biasanya. "Memalukan sekolah!" Kepala sekolah membanting penuh emosi buku catatan siswa. Pak Kim terkejut. Tapi mereka berenam sepertinya sudah terbiasa dengan situasi ini. Mereka kerap kali dianggap sampah masyarakat, tidak berguna. Mereka kerap kali dipandang hina, disinggung senyum sinis. Dipandang perusak. Orang-orang berpikir mereka hanya anak muda yang sibuk mencari ketenaran dan perhatian. Tidak bermasa depan. Padahal mereka hanya enam remaja yang kesepian, buta arah. Tak seperti remaja lainnya yang bisa tertawa, berkumpul bersama sahabatnya, saling mengobrol hal remeh seperti artis kesukaan, cowok atau cewek media sosial yang sedang trend. Keenam remaja ini justru tenggelam di heningnya malam. Di bawah lipatan tangan, tertunduk binggung harus bertanya kepada siapa lagi perihal alasan mereka dilahirkan. Sibuk berkelahi membangun tameng untuk hal-hal menyakitkan. Mensugesti diri mereka untuk tetap kuat. "Kamu Yo Han! Kau tahu kenapa saya mau menerima kamu bersekolah disini? Tapi apa yang kamu lakukan? Membawa preman- preman dan mengacau di hari pertamamu" Kepala sekolah berteriak-teriak marah menghadap Yo Han. Yo Han spontan menutup telinganya mengurangi masuknya polusi udara. Pak Kim hanya bisa diam menyaksikan anak didiknya diteriaki dihari pertama dia mengajar. "Jika ayahmu tidak datang, mereka bisa jadi masuk merangsek merusak sekolah ini!" Kali ini dia bergeser ke kiri menunjuk-nunjuk didepan wajah Na Hyun. Perasaan Na Hyun semakin buruk. Dia muak sekali setiap kali disangkut pautkan dengan ayahnya. "Toh ini sekolah punyaku kok. Kenapa anda repot?" Na Hyun sinis meremeh kepala sekolah yang seketika terdiam dengan wajah merah padam. "Hei hei hei, jangan lupa Na Hyun. Saya dan lima belas lainnya masih punya saham disekolah ini ja—" "Ah sudahlah penjilat seperti kalian bukan hal sulit untuk dijatuhkan. Puas-puaslah sekarang, makan-makanan mahal, beli rumah mewah dengan uang yayasan" mode sombong mematikan Na Hyun aktif. Separuh omongannya tidak salah. Direktur itu tetap tenang, tidak terpancing emosi. Dia sudah kenyang dihina-hina Na Hyun. Ha Joon dan yang lainnya yang tidak tahu menahu soal saham kepemilikkan Na Hyun disekolah tercengang menganga mendengar perkataan Na Hyun. Pak Kim lebih terkejut lagi, dia baru sadar anak-anak didiknya jauh lebih berbahaya dari yang dipikirkannya. Lima dari enam mereka mampu berkelahi dengan sangat baik. Bahkan Yu Ri yang terlihat hanya memikirkan penampilanya, jauh lebih mengesankan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN