Bala Bantuan

1070 Kata
"Hei kalian jangan hanya berani perempuan lawan aku sini!" Ha Joon berteriak cukup keras memecah perhatian mereka. Seketika orang-orang yang mengerubungi Na Hyun menoleh menatapnya. Ha Joon menelan ludah melihat tatapan mereka. Penyesalan memang selalu datang paling akhir. Delapan orang sekaligus segera mengejar Ha Joon. Meski hanya bisa ngacir, setidaknya dia bisa membantu Na Hyun mencari celah. Na Hyun bergerak mundur empat langkah, kedua tangannya memegang kedua leher orang-orang berbaju hitam yang posisinya lebih dekat. Na Hyun menahan badannya, dengan bantuan itu, dia memusatkan tenaganya pada kedua kakinya. Kakinya berayun menghantam d**a, perut, wajah dan apa saja hal yang paling mungkin untuk mengulur waktu. Kedua anak buah orang-orang ini yang lehernya dijadikan topangan tak kuat lagi, mereka jatuh terduduk hampir tak bernapas. Na Hyun menghembuskan napas pelan. Matanya liar menyapu, membuat perhitungan. Jika dia lanjut memukuli orang ini, dia akan menang mudah. Tapi tidak dengan kawan sebangkunya itu. Ha Joon kepayahan berlari menghindari amukan anak buah yang geram dihina dari tadi olehnya. Sembari berlari menghindari mereka, Ha Joon terus meneriaki anak buah orang itu dengan hinaan dan terus menerus menantang mereka yang membuat mereka makin marah. Jika dilihat dari atas, mereka terlihat seperti kawanan serigala mengejar seekor bebek yang mulutnya ribut mengeluarkan kwek kwek kwek. "Inilah kenapa tong kosong nyaring bunyinya" Pikir Na Hyun. Dia memutuskan menolong Ha Joon. Tubuh tinggi Na Hyun melompat, menyerang mereka dari belakang. Anak buah mereka yang tidak menyangka kalau Na Hyun bisa lolos, tersungkur telak. Min Joo dan Hyeri yang sudah bebas dari kepungan, memotong serangan membantu Na Hyun. "Na Hyun kejar saja Ha Joon. Aku akan melindungimu dari belakang!" Min Joo mengusulkan. Dia sudah siap menjadi tameng Na Hyun. "Ya! Dimana-mana, orang kalau mau melindungi, ya jaganya di depan. Buat apa kau ada di belakang? Sama aja aku yang berkelahikam?" Na Hyun memutar matanya malas. Min Joo nyengir baru sadar. Dia berpindah kedepan. Na Hyun dan Min Joo berlari sekuat tenaga mengejar Ha Joon yang mulai tak terlihat di ujung kelokan. Diujung jalan sana sudah masuk area pemukiman penduduk yang berisi orang-orang kaya. Tanah disini sangat mahal dibanding area lain. Masyarakat setempat tidak boleh ada yang tahu, orang-orang kaya itu bakal heboh melapor yang ditambahi bumbu-bumbu pedas. Malas sekali Na Hyun harus berurusan kembali kepada polisi yang ujung-ujungnya menyuruh Na Hyun untuk tidak mengulangi lagi ditambah hukuman mengutip sampah selama satu bulan. Dibelakang Na Hyun dan Min Joo, Hyeri kembali terkepung tapi kali ini dia bisa mengatasinya. Hyeri memutar otaknya mencari letak lemah mereka. Anak-anak buah ini kembali bangkit terus menerus. Tenaga mereka berenam juga mulai terkuras. Hyeri terus mengamati sambil mengirim serangan bertubi-tubi. Sesekali Yu Ri lompat membantu. Dari yang dilihat Hyeri, anak-anak buah ini bukan preman sembarangan. Mereka jelas orang terlatih. Berapa pun serangan yang mereka berenam kirim, anak-anak buah itu mampu menangkis atau menghindar. Setiap kali mereka berenam berhasil menjatuhkan, kawan-kawan yang lain menyerang seolah tenaga mereka bisa isi ulang. Mereka berenam cukup beruntung jika anak-anak buah itu kehilangan fokusnya. Setengah jam pertarungan, bentuk mereka berenam sudah sangat kacau. Murid-murid yang menyaksikan mereka dari lantai dua dan tiga sudah berhenti merekam lagi. Kepanikan kembali melanda mereka setelah menyadari kalau Na Hyun, Min Joo, Yu Ri, Ha Joon yang hanya berlari-lari kesana kemari, Yo Han dan bahkan Hyeri yang digadang-gadangkan sebagai The Real Red Monster mulai menunjukkan tanda kelelahan. Satu per satu mereka menghubungi orang tua masing-masing mencari pertolongan. Tentu saja hanya untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Sekolah yang berisi anak-anak dengan orang tua kaya, hanya segelintir yang memiliki hasrat untuk menolong orang lain. Na Hyun, Min Joo dan Ha Joon sudah kembali ke TKP. Mereka bertiga, dibantu Ha Joon memanas-manasi keadaan, berhasil memukul mundur delapan orang yang mengejar Ha Joon. "Aduh mereka banyak sekali" Min Joo kelelahan. Keringat mengucur deras melewati pipinya yang lebam terkena pukulan. "Aku sudah lelah" Ha Joon menambahi. "Ya! Dari tadi kau hanya berlarian, berteriak-teriak gak jelas!" bantah Na Hyun mencibir. "Suaraku jadi serak tau! Aku juga capek memutar otakku mencari kata-kata tahu" Ha Joon mengerucutkan bibirnya. Dia menggusap keringat didahinya. Ha Joon terkejut melihat pakaiannya yang basah sepenuhnya. Dia mencium bagian kedua ketiaknya yang juga basah. "Untung masih harum" katanya sambil tersenyum lebar. Na Hyun meninggalkan Ha Joon menyusul Min Joo yang dari tadi kembali kepertarungan membantu Hyeri yang mulai terpojok, malas meladeninya. Ha Joon tak sanggup lagi. Dia duduk di dekat pagar sekolahnya yang masih tertutup rapat, jauh dari TKP. Tidak ada anak-anak buah mereka yang tertarik dengan dia lagi. Mereka menggeram setiap melihat Na Hyun, Hyeri, Yu Ri dan Min Joo, yang merupakan seorang wanita tinggi- kurus memukul kawannya. Fokus mereka untuk menghajar Yo Han jadi terpecah. Ha Joo mengawasi pergerakan Yo Han yang semakin membabi-buta. Yo Han berteriak keras setiap melepas serangan. "Wow suaranya boleh juga untuk kampanye" puji Ha Joon. Matahari semakin terik menyengat kulit, membakar tenaga yang tersisa. Ada banyak kekhawatirkan semakin lama. Jangan-jangan mereka gagal. Jangan mereka berenam tewas. Saat itulah, saat Ha Joon mencoba berdiri kembali ketika empat orang anak buah berbadan tegap lebih besar dari Ha Joon itu mendekati pagar sekolah, berusaha menorobos masuk, saat Yo Han susah payah untuk berdiri, Yu Ri meringgis memegangi perutnya dan Na Hyun, Hyeri serta Min Joo mati-matian saling melindungi satu sama lain, bala bantuan datang. Bala bantuan yang tak pernah diharapkan Na Hyun seumur hidupnya selama tujuh belas tahun. Sekitar sepuluh mobil dengan kaca gelap mengilap berhenti didepan mereka. Pakaian serba hitam bersenjata keluar serempak dari dalam mobil. Mereka tidak punya kaca pelindung atau sejenisnya seperti di film hero. Ditangan mereka bertengger seram s*****a api berjenis Dessert Eagle Mark XIX, salah satu s*****a api yang paling mematikan. Sekali tembak, nyawa melayang. Jumlah mereka tidak sebanyak jumlah anak buah.Tapi s*****a kecil mereka cukup untuk membungkam orang-orang yang ada disitu. Ha Joon yang tidak tahu itu bala bantuan, sudah meminta maaf dalam hati untuk hati banyak gadis yang disakitinya. Dia sudah pasrah kalau dia mati hari itu juga. Pimpinan berbaju hitam mereka melepas tembakan ke udara. s*****a api itu memuntahkan pelurunya, berdesing menghantam udara, memberi peringatan. Yo Han mundur mendekat pada Yu Ri. Yu Ri juga belum tahu, dia memandang binggung Min Joo meminta penjelasan. Min Joo malah sebaliknya. Matanya berbinar-binar terpesona melihat bekas peluru yang meluncur tanpa ampun. Sekarang bukan hanya Hyeri saja yang memikir Min Joo gadis gila. Bergabunglah Bersama Kami
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN